Menag: Globalisasi, Agama Telah Termarjinalkan

Kamis, 31 Desember 2009 12:00

Menag: Globalisasi, Agama Telah Termarjinalkan
Jakarta (Pinmas) -- Menteri Agama H. Suryadharma Ali mengatakan pada abad ke-21 atau yang populer dikenal sebagai abad informasi dan globalisasi, persaingan kehidupan semakin menyuguhkan perubahan dahsyat, sehingga posisi agama menjadi salah satu aspek yang termarjinalkan. "Posisi agama jadi termarjinalkan karena derasnya tekanan informasi yang semakin agresif dengan beragamnya kepentingan dan ideologi. Bahkan pada sebagian kalangan, agama telah nyata terasing dari kehidupan sosial, dan secara tidak sadar membawa pada apa yang disebut dengan krisis relevansi," kata Menag dalam sambutan tertulis yang dibacakan Dirjen Bimas Islam Prof. Dr. H. Nassaruddin Umar pada "Pertemuan Nasional Tokoh Ormas Islam dan Lembaga Dakwah" di Hotel Bidakara Jakarta, Rabu (30/12). Pertemuan bertema "Membangun Masyarakat Indonesia yang Berkahlaqul Karimah" itu menampilkan pembicara Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Prof. Dr. Qomaruddin Hidayat, M.A.; mantan Menag Prof. Dr. K.H. Tolchah Hasan; Ketua Umum PBNU K.H. Hasyim Muzadi; dan Kepala Badan Litbang dan Diklat Depag Prof. Dr. H. Atho Mudzhar, M.A. Menurut Menag, krisis ini adalah gambaran tentang posisi agama dalam kehidupan sosial yang dianggap kurang memberikan kontribusi dalam menyelesaikan problem kemanusiaan. Agama seakan terpenjara dalam kerangka konsep yang lepas dari konteks sosial, berhenti pada ranah pribadi yang pasif, dan tidak teraktulisasikan dalam kehidupan nyata. "Padahal, agama sesungguhnya memiliki daya dorong spiritual, sekaligus menawarkan kerangka nilai konkret yang dapat menyumbangkan bagi pemecahan berbagai problem yang dihadapi umat manusia," papar Menag. Menag menjelaskan, kondisi masyarakat Indonesia sekarang ini masih memerlukan bimbingan secara lebih serius dalam rangka memantapkan perilaku keberagamaan masyarakat yang lebih baik. Karena sikap dan perilaku keberagamaan masyarakat akhir-akhir ini masih jauh dari yang diharapkan, berbagai penyimpangan nilai luhur agama dan moral masih menjadi pemandangan yang cukup memprihatinkan. Seperti masih adanya berbagai kekerasan atas nama agama, maraknya aliran atau mazhab sempalan agama, dan perilaku negatif lainnya seperti pornografi, pornoaksi, penyalahgunaan narkoba, pergaulan bebas, kriminalitas jalanan, perselingkuhan, perceraian, praktik korupsi, dan lain sebagainya. Oleh karena itu, Menag mengajak para tokoh ormas Islam dan lembaga dakwah untuk bersama-sama mendorong terbentuknya sikap dan perilaku keberagamaan yang moderat dan seimbang yang jauh dari kekerasan atas nama agama, serta menumbuhkan sikap dan perilaku positif masyarakat yang memegang teguh pada prinsip moral agama melalui berbagai pendektan dan cara yang relevan. "Tentu, setiap pilihan pendekatan yang kita lakukan memiliki tantangannya sendiri, sehingga diperlukan cara yang arif, niat yang lurus, pikiran yang jernih, serta konsistensi dan keteguhan moral yang tidak mengenal lelah," ucapnya. Menag mengatakan para pimpinan masyarakat, tokoh ormas Islam dan lembaga dakwah memiliki andil yang cukup besar dalam menciptakan ketenangan, ketenteraman, dan kesejahteraan rohani masyarakat, serta memperkokoh sendi-sendi moral dan spiritual umat, bangsa dan Negara. (dik)
42
Share :

INFORMASI LAINNYA