Indonesia Kembali Tuan Rumah Konferensi Media Islam Internasional

Rabu, 09 November 2011 12:00

Indonesia Kembali Tuan Rumah Konferensi Media Islam Internasional
Jakarta_Konferensi Media Islam Internasional II akan digelar di Jakarta, 13-15 Desember mendatang. Penyelenggaraan konferensi yang pernah diselenggarakan di tanah air beberapa tahun lalu ini, diharapkan mampu mengubah citra Indonesia di mata dunia. Oleh karena itu, Kementerian Agama (Kemenag) turut mengampanyekan tentang RI yang damai dan antiterorisme. Demikian dikemukakan Sekjen Kemenag Bahrul Hayat kepada dalam jumpa pers di Jakarta, belum lama ini. Dalam kesempatan tersebut, hadir antara lain Kepala Pusat Informasi Kementerian Kominfo Gatot Dewabrata, dan perwakilan Kementerian Luar Negeri. "Konferensi itu juga bertujuan untuk mengubah persepsi dunia bahwa Islam tidak identik dengan radikalisme dan terorisme. Termasuk negara, bukan biang fundamentalisme ekstrem," ujar Sekjen Bahrul Hayat yang beberapa waktu lalu, menjadi narasumber di acara Parlemen Eropa tentang kerukunan beragama. Menurut Sekjen, konferensi akan dihadiri 400 peserta dari berbagai negara mayoritas berpenduduk Muslim, anggota Organisasi Konferensi Islam yang kini berubah menjadi Organisasi Kerja sama Islam (OKI). "Konferensi ini akan menghadirkan 20 pembicara kunci dan narasumber dari pakar media, ilmuwan Muslim dan praktisi media dari berbagai negara," katanya. Sekjen mengatakan, konferensi akan dibuka Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Negara, dan ditutup Wapres Boediono di Hotel Sultan. Selanjutnya, dari Indonesia ada lima pakar yang akan menjadi pembicara. Antara lain, Prof. Azyumardi Azra, Prof. Komaruddin Hidayat, Dr. Alwi Dahlan, dan Parni Hadi. Konferensi bertema New Media and Communication Technology in the Muslim World, diselenggarakan Kemenag dan Rabithah Alam Islami yang berpusat di Arab Saudi. "Acara ini, bertujuan meningkatkan kerja sama dan membentuk jejaring antara negara-negara Islam untuk mengantisipasi persoalan yang merugikan umat Islam," ujarnya. Menurut Bahrul, latar belakangnya adalah fakta bahwa dunia informasi dan teknologi komunikasi saat ini memasuki era yang sangat mencengangkan. "Di mana berbagai media tumbuh sangat pesat seiring berkembangnya internet, dan memicu perubahan tatanan politik sosial budaya dan keagamaan masyarakat," ucapnya. Ia menjelaskan, agenda konferensi itu antara lain, pembukaan di Istana Negara, yang dilanjutkan sesi pleno di Hotel Sultan mengenai media di era masa kini, kerja sama dan jaringan media Islam di dunia muslim, wacana dunia muslim, hingga solusi praktis meningkatkan media Islam. "Konferensi akan juga diakhiri dengan penandatanganan Deklarasi dan penutupan oleh Wakil Presiden," kata Bahrul. Dia menyebutkan, konferensi ini merupakan kelanjutan dari Konferensi Media Islam Internasional pertama yang pernah diselenggarakan di Jakarta pada 1-3 September 1980 diketuai Menteri Penerangan RI kala itu Harmoko, yang diikuti 327 peserta dari 49 negara. Pada konferensi pertama itu, dihasilkan Deklarasi Jakarta yang berisi kode etik wartawan Islam, penetapan Sekjen Rabithah Alam Islami (Ali Al Harakan) sebagai sekjen tetap media massa Islam sedunia berkedudukan di Mekah. Selain itu, menghasilkan pendirian Dewan Tertinggi Penerangan Islam yang berkedudukan di Mekah, demikian Sekjen Bahrul Hayat. (ks/haz)
47
Share :

INFORMASI LAINNYA