Ketua DW – Sesungguhnya shalat itu mencegah perbuatan keji dan munkar

Jumat, 08 Mei 2015 16:00

Ketua DW – Sesungguhnya shalat itu mencegah perbuatan keji dan munkar

Mataram Inmas, 8/5_”Banyak diantara kita yang salah kaprah memaknai shalat, Shalat itu bukan hanya gerakan 'jungkir balik' yang di lakukan pada waktu tertentu, tapi shalat itu punya makna dan nilai, shalat itu bukan sebuah pertunjukkan, yang harus di perlihatkan dengan sengaja kepada teman, orang tua atau saudara kita, atau shalat itu bukanlah sebuah lambang ke 'aliman' seseorang, karena setiap orang yang mengerjakan shalat belum tentu shalatnya itu diterima langsung oleh Allah SWT” antara lain isi dari tausiyah Ibu Ketua Dharma Wanita Persatuan Kementerian Agama Provinsi NTB pada acara rutin pertemuan bulanan Ibu-ibu Dharma Wanita.

Bertempat di Aula Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Nusa Tenggara Barat diadakannya pertemuan rutin satu kali dalam satu bulan Dharma Wanita yang diisi dengan tausiah yang kali ini disampaikan oleh Ibu Ketua Dharma Wanita Persatuan Kementerian Agama Ibu Hj. Sulaiman Hamid dengan inti bahasan adalah Makna Sholat dan Sholat Sunnah lainnya dipaparkan dengan sangat rinci kepada Ibu-ibu Dharma Wanita.

Lanjut dikatakan Ibu Hj. Sulaiman Hamid bahwa makna shalat sesungguhnya berdasarkan firman Allah SWT pada QS. Al-Ankabut:45

اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ ۖ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ ۗ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ

Yang artinya "Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-Ankabut:45)

Dari ayat tersebut sangatlah jelas, bahwa orang yang mendirikan shalat akan jauh dari perbuatan keji dan munkar, keji menurut bahasa artinya perbuatan atau kejahatan yang menimbulkan aib besar, sedangkan menurut istilah, keji ialah suatu perbuatan yang melanggar susila, adapun kata munkar ialah sesuatu yang disyariat mengingkarinya, karena bertentangan dengan fitrah dan maslahah, munkar secara bahasa berarti tidak terkenali atau asing, karena tidak diakui buruk, Al-Quran menekankan kepada Nabi dan kaum muslimin agar terus menerus untuk menyuruh kepada perbuatan yang ma’ruf dan mencegah yang mungkar.

Mungkin ada terlintas di benak kita, kenapa orang yang tidak pernah meninggalkan shalat sewaktu pun masih ada gambaran sifat keji dan munkar, seperti diatas. Itu karena shalatnya belum di terima Allah SWT, lantas kenapa shalatnya belum di terima Allah SWT? Itu karena shalatnya belum memenuhi syarat dan rukun.Jadi percuma saja kalau ada orang yang shalatnya belum memenuhi syarat dan rukun, karena dia akan sia-sia lantaran shalatnya tidak bermakna apa-apa.

Pertemuan ini juga diisi dengan praktik ketrampilan cara membuat bros dari bahan potongan kain renda bagi Ibu-ibu Dharma Wanita Persatuan Kementerian Agama Provinsi Nusa Tenggara Barat. (miq olah)

98
Share :

INFORMASI LAINNYA