Kemenag Loteng Gelar shalat Istisqa

Sabtu, 31 Oktober 2015 23:01

Kemenag Loteng Gelar shalat Istisqa

Praya (Inmas), Musim kemarau berkepanjangan yang saat ini terjadi menyebabkan kebakaran hutan dan bencana kabut asap di sejumlah daerah yang ada di Indonesia. Hal ini membuat perhatian sejumlah kalangan masyarakat. Sebelumnya Jum’at kemarin 30 Oktober 2015, Pemerintah Daerah Kabupaten Lombok Tengah Provinsi Nusa Tenggara Barat menggelar shalat istisqa yang dilaksanakan di Alun-alun Tastura Bencingah Adi Guna (Lapangan Muhajirin).

Kini giliran ratusan pegawai di lingkungan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Lombok Tengah yang menggelar shalat istisqa atau shalat minta hujan yang bertempat di halaman MAN 2 Praya Kecamatan Jonggat Kabupaten Lombok Tengah Sabtu, 31 Oktober 2015. Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Lombok Tengah Drs. H.M. Nasri Anggara, MA. M. PdI dalam sambutan singkatnya mengatakan bahwa shalat istisqa ini dilaksanakan tidak hanya untuk mengikuti sunnah Rasulullah tapi juga dilaksanakan karena ada seruan dari Kementerian Agama Republik Indonesia.

Dimana, dalam surat dengan nomor Dt.II.I/5/HM.01/2376/2015, yang isinya menyerukan supaya pegawai di lingkungan Kantor Kementerian Agama untuk melaksanakan shalat istisqa secara massal. Pelaksanaan shalat istisqa di jadwalkan mulai puku 07.00 wita, bertindak selaku imam adalah H. Suparman, S. Ag Kepala Kantor Urusan Agama Kecamatan Jonggat dengan khatib H. Hasanuddin, S. Ag. MM Kepala Seksi Penyelenggara Syari’ah Kantor Kementerian Agama Kabupaten Lombok Tengah.

Dalam khutbahnya, khatib menghimbau kepada semua jamaah agar supaya banyak-banyak membaca istigfar dan bertaubat dengan Taubat Nasuha ( taubat yang sebenar-benarnya) serta telah memenuhi 5 (lima) syarat yaitu : (1) taubat tersebut dilakukan dengan ikhlas semata kerena Allah SWT. (2) menyesali perbuatan dosa yang telah dilakukan. (3) berhenti total dari dosa tersebut dan keinginan untuk terus melakukannya. (4) bertekad untuk tidak lagi mengulanginya di masa yang akan datang. (5) taubat tersebut hendaknya terjadi pada waktu yang di perkenankan.

Artinya jika terjadi setelah lewat waktu yang diperkenankan tersebut, maka ia tidak diterima. Lewatnya waktu yang diperkenankan tersebut dapat bersifat umum dan dapat pula bersifat khusus. Waktu yang bersifat umum adalah saat matahari terbit dari arah terbenamnya. Maka, bertaubat setelah matahari terbit dari arah terbenamnya tidak dapat diterima. Sedangkan waktu yang bersifat khusus adalah saat ajal menjelang . Maka, bila ajal telah menjelang, maka tidak ada gunanya lagi bertaubat.

133
Share :

INFORMASI LAINNYA

Kamis, 01 Januari 1970 07:00
Pramuka Dalam Menumbuhkan Karakter Siswa
Minggu, 03 Januari 2016 14:08