HIDUP ADALAH PERJUANGAN

Senin, 04 April 2016 08:50

HIDUP ADALAH PERJUANGAN

HIDUP ADALAH PERJUANGAN Oleh DEDY DARMA, S.Ag ( Penyuluh Agama Buddha Ahli Pertama ) “ Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa “ (3X) (Terpujilah Sang Bhagava, Yang Mahasuci, Yang telah mencapai Penerangan Sempurna) Namo Buddhaya, Sabbapapassa Akaranam Kusalassa Upasampada Sacittapariyodapanam Etam Buddhana Sasanam artinya; Tidak melakukan segala bentuk kejahatan, Senantiasa mengembangkan kebajikan, dan membersihkan batin; inilah Ajaran Para Buddha (Dhammapada XIV, 5) Bulan Pebruari mengingatkan kita pada salah satu hari raya dalam agama Buddha yaitu hari raya Maghapuja. Maghapuja merupakan salah satu dari empat hari raya dalam Agama Buddha. Empat hari raya Agama Buddha itu adalah, bila di awal tahun, kira-kira bulan Februari diadakan upacara peringatan Maghapuja. Pada pertengahan tahun, kira-kira bulan Mei adalah peringatan Vaisakhapuja (Waisak). Dua bulan setelah peringatan Waisak, kira kira bulan Juli diadakan Asalhapuja (Asadha). Kemudian tiga bulan setelah hari Asadha, kira-kira pada bulan Oktober adalah perayaan Kathina. Kata ‘Magha’ sesungguhnya menunjuk nama bulan dalam penanggalan di India. Pada jaman Sang Buddha, ketika saat purnama pada bulan Magha, peristiwa penting terjadi di taman Tupai di hutan bambu Veluvana Arama, yang ditandai 4 faktor yang dikenal dengan istilah caturangga Sannipata yaitu; 1. 1250 orang bhikkhu datang berkumpul tanpa diundang di tempat Sang Buddha bersemayam. 2. Semua bhikkhu telah mencapai kesucian tertinggi, Arahat. 3. Semua bhikkhu memiliki kemampuan supranatural yang tertinggi. 4. Semua bhikkhu ditahbiskan menjadi bhikkhu oleh Sang Buddha sendiri. Pada peristiwa tersebut, Buddha membabarkan Ovadapatimokkha yang mewakili ajaran Para Buddha dalam tiga bait syair berikut: “Kesabaran adalah latihan moral yang paling unggul; Buddha menyatakan: “sungguh luhur Nibbana”; Ia yang masih melukai atau membunuh mahluk lain; bukanlah orang yang telah meninggalkan keduniawian; Ia yang merugikan mahluk lain bukalah petapa mulia” “Tidak melakukan segala kejahatan; meningkatkan kebajikan; menyucikan pikiran sendiri; Ini adalah ajaran para Buddha” “Tak menghujat, tak menyakiti; Terkendali dalam tata susila; Tahu ukuran dalam hal makan hidup di tempat yang tenang; Berusaha mengembangkan pikiran luhur; Ini adalah ajaran para Buddha” Namun dalam kesempatan yang berbahagia ini akan dibahas bait yang kedua yaitu kurangi kejahatan, tambah kebajikan, sucikan pikiran, itulah ajaran para Buddha. KURANGI KEJAHATAN Mengurangi kejahatan, menambah kebajikan dan menyucikan pikiran, kita semua harus melaksanakannya, baik sebagai bhikkhu maupun umat perumah tangga. Bagaimanakah mengurangi kejahatan? Dalam tradisi Buddhis yang muncul 2500 tahun yang lalu, Sang Buddha sudah meletakkan dasar peraturan yang disebut Pancasila Buddhis yang isinya adalah berusaha untuk tidak melakukan pembunuhan; Tidak melakukan pencurian; Tidak melanggar kesusilaan; tidak berbohong, dan tidak mabuk-mabukkan. Lima hal ini adalah unsur larangan. Singkatnya, dalam pengertian dasar Agama Buddha yang disebut mengurangi kejahatan, minimal, adalah menghindari lima perbuatan salah, membunuh, mencuri, melanggar kesusilaan, berbohong dan mabuk-mabukkan. Pancasila Buddhis ini adalah lima perbuatan yang harus dihindari, paling tidak, dikurangi sebab untuk menghilangkannya cukup sulit, membutuhkan banyak tahap perkembangan batin.

Dalam kehidupan sehari-hari, saat kita menjatuhkan gelas hingga pecah berantakan pun sulit untuk mengakui kesalahan itu. Kita kemudian berbohong. Melanggar peraturan lalu lintas, kita juga akan berusaha keras – ditambah dengan kebohongan – untuk menyalahkan pihak lain bila kebetulan tertangkap polantas. Dalam Dhamma dikatakan kurangilah kejahatan, kalau mampu hindarilah, lebih baik hentikanlah! Apabila memang tidak dapat dihentikan seketika, bolehlah pelan-pelan secara bertahap diperbaiki. Misalnya sebagai nelayan, dari lima sila yang diajarkan Sang Buddha, sudah jelas melanggar sila pertama, melakukan pembunuhan. Akan tetapi, kalau memang belum dapat dihindari, kerjakanlah dahulu usaha itu sambil berusaha mengumpulkan modal. Apabila suatu saat telah terkumpul modal secukupnya maka sangat bijaksana bila dapat beralih usaha. Namun, selama mengerjakan pekerjaan yang kurang sesuai itu, hendaknya tetap menjaga kemurnian keempat sila yang lain. Jangan karena telah melanggar salah satu sila kemudian dengan sengaja melanggar keempat sila lainnya. Jadi, biarlah sementara terpaksa melakukan karma buruk, namun jangan menambah karma buruk yang lain. TAMBAHLAH KEBAJIKAN Agama Buddha selain memberikan tuntunan perbuatan yang hendaknya dihindari, juga menerangkan perbuatan yang sebaiknya dikerjakan. Perbuatan yang harus dihindari ini seimbang dengan perbuatan yang harus dikerjakan.

Apabila kita dianjurkan untuk menghindari pembunuhan, maka kita hendaknya mengembangkan cinta kasih, metta. Kita diajarkan oleh Sang Buddha bukan hanya menghindari membunuh nyamuk, semut, anjing, maupun kucing. Tetapi kita hendaknya juga mau mengembangkan cinta kasih. Melepaskan burung terbang bebas, melepaskan ikan di sungai atau danau. Mengembangkan cinta kasih yang bermakna positif adalah merupakan lawan menghindari pembunuhan yang bermakna negatif. Selain menjaga agar tidak melakukan pencurian hendaknya kita juga mengembangkan watak suka berdana. Berdana dapat dengan bermacam-macam cara, tidak harus menggunakan uang, tidak harus materi. Berdana tenaga juga bisa. Misalnya, membantu membersihkan vihara itu pun sudah termasuk berdana. Membantu orangtua di rumah juga sudah termasuk berdana. Atau mungkin kita tidak dapat membantu orangtua mencari nafkah tetapi dengan kita tidak nakal ataupun rewel, itu juga berdana. Membantu pembangunan vihara, mencetak dan membagikan buku-buku Dhamma. Itu adalah beberapa cara kita berdana. Jadi bisa dana materi dan juga bisa dana yang bukan materi. Menjaga tingkah laku agar tidak melakukan perjinahan hendaknya diimbangi dengan mengembangkan rasa mudah puas dengan pasangan hidup kita. Karena perjinahan biasanya muncul dari rasa ketidakpuasan pada pasangan hidup sendiri. Padahal, sumber ketidakpuasan adalah pikiran, atau tepatnya, keinginan kita sendiri. Harapan kita pada pasangan hidup sering jauh lebih besar daripada kenyataan. Hal inilah yang sering menimbulkan kekecewaan. Bila memperolah kesempatan, kekecewaan kemudian menimbulkan penyelewengan.

Untuk mengatasi hal itu, hendaknya direnungkan bahwa semua orang pasti memiliki kekurangan dan kelebihan, termasuk kita sendiri. Oleh karena itu, hendaknya kita selalu mengingat kelebihan pasangan hidup kita dan mau menerimanya sebagaimana adanya. Dengan mengisi pikiran kita secara demikian, akan terhindarlah penyimpangan hati maupun badan dalam rumah tangga. Kesetiaan dapat terjaga. Menghindari kebohongan hendaknya dibarengi dengan usaha mengembangkan kejujuran, belajar jujur, belajar terbuka, belajar bisa menyampaikan pendapat dengan terus terang. Sikap jujur dan terus terang ini adalah modal pokok untuk berkomunikasi. Komunikasi akan lancar apabila masing-masing pihak selalu berusaha mengerti bahwa semua orang punya kelebihan dan kekurangan, karena itu jangan menutupi kebenaran! Ingatlah, bahwa binatang yang tidak mengerti bahasa manusia pun dapat diajak komunikasi, apalagi manusia. Terhambatnya komunikasi sering hanya karena kurang sabarnya satu pihak untuk memahami pihak lainnya. Usaha menghindari mabuk-mabukan dibarengi dengan mengembangkan konsentrasi dengan melatih meditasi. Meditasi adalah sarana tepat guna untuk mengendalikan pikiran kita. Pengendalian pikiran juga akan menghasilkan pengendalian emosi. Mengurangi lima macam perbuatan jahat tersebut disebut dengan Pancasila Buddhis, menambah lima macam kebajikan disebut sebagai Pancadhamma. SUCIKAN PIKIRAN Kemudian baris terakhir adalah menyucikan pikiran. Penyucian pikiran ini sesungguhnya menunjuk pada latihan meditasi. Meditasi adalah berusaha selalu menyadari segala sesuatu yang sedang kita perbuat, ucapkan maupun pikiran. meditasi berusaha melihat dengan jelas bahwa segala suka dan duka dalam kehidupan ini timbul karena permainan pikiran. Bila telah mengetahui segala sumber kesulitan, maka akan lebih mudah mengendalikannya.

Pengendalian pikiran secara menyeluruh itulah yang disebut mencapai kesucian. Tiga hal inilah kalau dijalankan dalam kehidupan sehari-hari akan meningkatkan kualitas batin sebagai seorang umat Buddha. Peningkatan kondisi batin ini akan menjadi merek yang tidak akan pernah memalukan kita sebagai umat Buddha. Ketiga hal ini pula yang menjadi jantung seluruh ajaran Sang Buddha. Ini pula yang dibabarkan oleh Sang Buddha ketika purnama sidhi dalam bulan Magha. Inilah yang sekarang diperingati sebagai Maghapuja.

121
Share :

INFORMASI LAINNYA

Upacara Hardiknas
Senin, 02 Mei 2016 10:12
Penentuan Ruyatul Hilal
Senin, 07 Juli 2014 16:04