TGB, MTQN DAN MADRASAH OLEH: Sumber Hadi (Kanjeng Esha)

Selasa, 09 Agustus 2016 11:44

TGB, MTQN DAN MADRASAH  OLEH: Sumber Hadi (Kanjeng Esha)

 

TGB, SANG TUAN RUMAH

                Pelaksanaan MTQN di NTB Tahun ini tidak lepas dari hajat sang gubernur. Hajat sang gubernur ini beliau komunikasikan pada wapres Budiono pada saat pelaksanaan MTQN  di Jambi, Wapres Budiono saat itu menyetujui hajat Tuan Guru Bajang. Persiapan pelaksanaan MTQN di NTB  dilakukan dengan serta merta, karena sang Tuan rumah meminta sendiri, artinya NTB dipandang sangat siap betul sebagai tempat pelaksanaan MTQN yang XXVI.

                Semenjak pelaksanaan MTQN di NTB 1973 beberapa tahun silam, masyarakat NTB hampir tidak berani bermimpi sebagai tempat pelaksanaan MTQN. Ketidakberanian bermimpi tersebut bisa jadi karena banyak hal, mungkin masyarakat NTB pada saat itu kurang nyeyak tidur karena perut masih keroncongan, atau mungkin karena infrasukturnya masih sangat jauh tertinggal di banding daerah lain. Atau mungkin karena sosok pemimpinnya tidak berani mengajak masyarakatnya untuk bermimpi terlalu jauh. Dengan kondisi demikian itulah maka 40-an tahun NTB tidak pernah menjadi tuan rumah pelaksanaan MTQN.

                Tampilnya TGB DR. KH. Muhammad Zainul Majdi, MA sebagai gubernur termuda di Nusantara, telah berhasil membawa NTB ke arah pencerahan dalam berbagai sektor kehidupan. Mimpi TGB mimpi masyarakat NTB. Sukses TGB sukses NTB. Selama kepemimpinan beliau keadaan NTB telah jauh berubah dari keadaan sebelumnya. Beberapa even nasional telah sukses dilaksanakan di NTB.  Berangkat dari semua itu, maka TGB pun ingin membuktikan MTQN XXVI 2016  bisa sukses dari pelaksanaan dan hasil di NTB.

MTQN INSPIRASI BAGI MADRASAH

Ketua majelis Dewan Hakim Musabaqah Makalah Ilmiah Qur’an (M2IQ) Prof Asep Saeful Muhtadi Mengungkapkan melalui Republika Rabu 3 Agustus 2016, Lomba M2IQ diharapkan mampu melahirkan penulis Islam. Peserta lomba ini akan mampu mendakwahkan kandungan Al-Qur’an dalam bahasa tulisan yang dapat menjangkau masyarakat luas. Dan  melalui M2IQ ini bisa generasi muda Islam menjadi kolumnis di media massa. Sebagaimana yang diberitakan di koran Republika tanggal 4 Agustus 2016, seorang Taruna Akpol “ Farhan Harja” menulis makalah Al-Qur’an dengan judul “Al-Qur’an Sebagai Filter Kesetaraan Gender”. Dia adalah peserta yang sangat “unik” karena ia datang dari institusi kepolisian Republik Indonesia. Ia berasal dari Taruna Kepolisian Semarang yang mewakili provinsi Jawa Tengah. Ia berhasil masuk babak semi final bersama 11 0rang lainnya menyisihkan 53 orang peserta dari provinsi yang ada di Nusantara.

Cabang Lomba M2IQ ini merupakan sarana efektif bagi siswa madrasah untuk membiasakan diri menulis mengenai kandungan ayat-ayat al-Quran. Tradisi oral telah berlangsung lama di dunia madrasah. Penyampaian gagasan melalui lisan atau dakwah telah menyatu dalam dunia pesantren ataupun madrasah. Sementara gagasan-gagasan konstruktif yang digali dari tangan-tangan kreatif santri atau siswa madrasah hampir diabaikan atau dinafikan. Lewat lomba cabang M2IQ inilah penggiat pondok pesantren dan madrasah tersadarkan untuk segera beralih dari tradisi oral ke tradisi tulis. Padahal dalam dunia pondok pesantren, tradisi tulis merupakan sarana “ucap” yang begitu efektif dan telah berlangsung lama dalam khazanah ilmu keagamaan. Terbukti beberapa kitab kuning yang telah lahir dari ulama-ulama besar Indonesia. Dengan moment MTQN cabang M2IQ inilah untuk mengembangkan penulis-penulis muda yang kreatif untuk menggali wawasan ke-Islaman yang holistik melalui ayat-ayat Al-Quran agar bisa dibumikan di belahan Nusantara. Dalam konteks ke-NTB-an, Tuan Guru Haji Safwan telah memberikan teladan yang baik bagi generasi muda Islam dalam hal tulis menulis. Beliau begitu aktif menulis di media massa, Lombok Post. Usia beliau tidak lagi muda lagi, namun beliau menjadi kolumnis yang aktif.

Kebetulan penulis dan beberapa kawan guru menjadi panitia, sehingga dengan leluasa melihat, mengamati, dan menyimak serta tidak lupa melakukan otokritik. penulis menjadi anggota panitia cabang Syarhil Qur’an berlokasi di MAN 2 Mataram. Di sinilah timbul kesadaran kita betapa hebatnya kontingen-kontingen yang datang dari belahan Nusantara. Sementara maaf tim tuan rumah cabang syarhil Qur’an bisa di bilang kurang tampil maksimal. Materi yang disajikan pensyarah sangat monoton, begitupun dengan vokal  bila dibandingkan dengan daerah lain. Pertanyaan muncul disela-sela kesibukan sebagai panitia. Di mana siswa madrasah atau santri pondok pesantren yang ternama di NTB. Bagaimana proses rekrutmen peserta, bagaimana proses pembinaan, semua pertanyaan-pertanyaan tersebut seakan berlalu dengan berlalunya MTQN. Sebagai penggiat pendidikan dunia madrasah secara jujur mengakui bahwa ternyata proses pembinaan di bidang mata lomba MTQN memang lemah untuk tidak mengatakan “diabaikan.” Kenyataan itu memang ya adanya karena tanggung jawab siswa madrasah sangat sarat dengan beban kurikulum, terlebih lagi dengan diterapkannya K13 semakin lelah anak-anak madrasah.

MTQN menjadi inspirasi bagi penggiat pondok pesantren dan madrasah untuk menata ulang sistem  pembinaan bagi santri dan siswanya.  Menata ulang cara pandang terhaadap mereka, mereka punya potensi yang harus ramu dan dikembangkan. Harus ada inisiasi yang cerdas bagi santri pondok pesantren dan siswa madrasah. Peserta-peserta dari luar NTB begitu memukau pada saat tampil, mereka calon orator ulung masa depan. Betapa bangga punya putra putri, santri maupun siswa seperti itu, begitu  lintasan bisikan di benak penulis. Wallahu A’lam.

Penulis: Guru Sosiologi Man 2 Mataram

 

59
Share :

INFORMASI LAINNYA