HIKMAH BERQUR’BAN

Jumat, 09 September 2016 10:35

HIKMAH BERQUR’BAN

Tanjung, Inmas _ Berqurban harus dengan hati yang ikhlas bukan karena adanya paksaan dari orang lain, tutur Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Lombok Utara, saat memimpin rapat dengan pejabat struktural dan fungsional untuk persiapan penyelenggaraan hewan qurban di lingkup Kantor Kementerian Agama Kantor Kabupaten Lombok Utara, Kamis, 08/09/2016. Lebih lanjut, H. Muallip mengajak kepada pegawai/karyawan untuk berqurban tentunya dengan hati yang ikhlas, sesuai tuntunan syariat karena menyembelih hewan qurban tidak memiliki apa-apa jika tidak disertai dengan niat yang tulus, iman dan ketaqwaan kepada Allah Azza Wajalla. Menyembelih hewan qurban banyak pelajaran yang bisa diambil yaitu kita diajari oleh Allah Tuhan Yang Maha Kuasa agar menghilangkan sifat-sifat egoistis, kikir, pelit, sehingga dengan berqurban kita bisa membiasakan diri untuk berbagi dengan orang lain.

Dengan berqurban juga, Insya Allah hidup dan rezeki kita semakin bertambah berkah, untuk itu jangan berfikir rugi karena merasa rezeki berkurang tetapi justru dengan berqurban, kita harus yakin bahwa Allah SWT akan menambah, bahkan menggantinya dengan pahala yang jauh lebih banyak dan berkah disisi Allah SWT. Keikhlasan berqurban, seyogyanya dikehendaki sebagaimana kerelaan Nabi Allah Ibrahim As. Yang mengorbankan putra tunggal, putra satu-satunya, putra kesayangan, dan menjadi tumpuan harapan, tambatan hatinya yang kehadirannya telah dinanti-nantikan puluhan tahun lamanya, yaitu: Nabi Allah Ismail As, sebagaimana diabadikan oleh Allah dalam Kita Suci AL-Qur’an Surat Ash-Shaffat : 102 “Wahai anakku (Ismail), ssungguhnya aku (Ayahmu) telah mendapat wahyu dari Allah melalui mimpi agar aku menyembelihmu. Maka pertimbangkanlah, bagaimana menurut pendapatmu?.” Atas pertanyaan tersebut, Nabi Ismail menjawab dengan tegas dan mantap : “Wahai Ayahku laksanakanlah apa yang telah diperintahkan kepadamu Insa Allah, Engkau akan mendapati aku sebagai anak yang tabah/sabar”. (Q.S Ash-Saffat 102).”

Bila kita renungkan peristiwa dalam ayat tersebut di atas, dapat memetik hikmahnya yaitu :“Apabila seorang mukmin mendapat perintah dari Allah, maka wajib untuk melaksanakannya, baik perintah itu masuk akal atau tidak, berat atau ringan dan menguntungkan atau bahkan justru merugikan.” Menunjukkan bahwa, apapun yang diperintahkan oleh Allah kepada kita, maka wajib melaksanakannya tanpa tawar-menawar sedikitpun, dengan kata lain apapun posisi kita, bahwa kepentingan untuk memenuhi perintah Allah harus kita dahulukan dan utamakan, melebihi di atas kepentingan pribadi atau golongan. Dan perintah Allah harus kita penuhi, sekalipun harus mengorbankan segala apa yang kita miliki dan kita punyai. Karena pada hakekatnya, segala apa yang hingga saat ini menjadi milik kita, semuanya adalah milik Allah. Sedangkan kita hanyalah orang yang diberi amanat. Jika Allah menghendaki untuk mengambil milikNya, yang diamanatkan kepada kita, kitapun harus rela dan ikhlas mengembalikan semua itu kepadaNya. Intinya kita semua berharap mudah-mudahan Allah SWT memberikan hidayah kepada kita sehingga bisa mengambil pelajaran atau mewarisi ketabahan dan ketulusan Nabi Allah Ibrahim dan Nabi Ismail As beserta keluarganya dalam kehidupan kita sehari-hari. Amin... Ya Rabbal ‘Aalamin. ( Sapiuddin)

133
Share :

INFORMASI LAINNYA