MENGUBAH MANAJEMANT PENGELOLAAN HARTA ZAKAT (DARI VISI PRIORITAS KONSUMTIF MENUJU PRIORITAS PRODUKTIF)

Senin, 21 November 2016 20:10

MENGUBAH MANAJEMANT PENGELOLAAN HARTA ZAKAT  (DARI VISI PRIORITAS KONSUMTIF MENUJU PRIORITAS PRODUKTIF)
  1. Pendahuluan

Zakat sebagai salah satu dari lima pilar Islam, merupakan bentuk ibadah yang tujuan pokoknya adalah untuk memberantas kemiskinan. Zakat  diharapkan dapat merubah mereka para penerima zakat (Mustahiq) menjadi pembayar zakat (Muzakki), sehingga pemberdayaan dan pemerataan zakat menjadi lebih bermakna.

Pendistribusian zakat selama ini yang lebih diminan mengarah kepada pola konsumtif, perlu ditunjau dan dipertimbangkan kembali secara propesional. Pengembangan zakat secara konsumtif boleh jadi masih diperlukan, namun tidak semua harta zakat yang dihimpun dari para aghniya dihabiskan untuk kepentingan konsumtif, artinya ada sebagian yang dikelolah dan didistribusikan sebagai investasi, untuk memberikan modal kepada para mustahiq, dan selanjutnya dengan investasi tersebut, mereka dapat membuka usaha dan secara lambat laun mereka akan memiliki kemampuan ekonomi yang memadai.[1]

Upaya demikian, memerlukan keberanian di dalam memperbaharui pemahaman masyarakat, lebih-lebih mereka yang diserahi amanah sebagai amil untuk mensosialisasikan kepada masyarakat dan mengaplikasikannya. Disamping itu, lembaga amil dalam pengololaan dan pendistribusiannya perlu didukung dengan efektifitas, propesionalitas, dan akuntabilitas manajemen pengelolaannya.[2] 

Badan Amil Zakat sebagai salah satu badan pengelolaan zakat yang dibentuk untuk mencapai daya guna, hasil guna dan akuntabilitas dalam pengelolaan dana zakat, Infaq dan Sedekah (ZIS). Sehingga dapat meningkatkan peran serta umat dalam rangka pembangunan manusia seutuhnya dengan penggalian dan pengelolaan dana zakat. Dalam sistem pengelolaanya mengutamakan sistem jemput bola, artinya mendekati para pemberi zakat dengan menawarka program yang realistis dan mengarah pada penciptaan kemajuan pada masyarakat. Prakteknya, BAZ harus mempunyai program yang berbasis zakat Produktif. Seperti pemimjaman modal kepada fakir miskin dalam mengelola usahanya dan dilakukan bimbingan kewirausahaan bagi yang menerima zakat produktif atau yang mendapatkan modal tersebut, sehingga usaha yang di jalankan menjadi lebih berkembang.[3]  

Selain itu BAZ juga harus mengadakan program beasiswa produktif yang memiliki visi melahirkan insan yang terbaik, bangsa yang memiliki pemahaman Agama secara komprehensif, integritas dan krebilitas tinggi, berkepribadian yang unggul, serta peduli terhadap sesama. Tujuan utama dari beaiswa ini adalah meningkatkan peran serta umat Islam dalam rangka pembangunan zakat seutuhnya dengan penggalian dan pengelolaan dana zakat, Infaq, Sedekah (ZIS).[4]

  1. Pendayagunaan Zakat Konsumtif dan Zakat Produktif

Pendagyagunaan dana zakat era kaitannya dengan bagaimana cara pendistribusiannya. Kondisi itu dikarenakan jika pendistribusiannya tepat sasaran dan tapat guna, maka akan sesuai dengan visi zakat yaitu merubah mereka para penerima zakat (mustahiq) menjadi pembayar zakat (muzakki).

       Menurut Ahmad Rafiq pendistribusian zakat ada 2 macam yaitu: 1) . pendistribusian/pembagian dalam bentuk konsumtif untuk memenuhi kebutuhan zangka pendek. 2). Pendistribusian dalam bentuk dana untuk kegiatan produktif untuk memenuhi kebutuhan zangka panjang.[5]

       Dalam pengelolaan kekayaan zakat masa kini. Hampir seluruh lembaga zakat menerapkan dua metode  pendistribusian zakat. Secara umum kedua kata gori zakat ini dibedakan berdasarkan bentuk pemberian zakat dan pengunaan dana zakat itu oleh mustahiq. Masing-masing dari kebutuhan konsumtif dan produktif tersebut kemudian dibagi dua, yaitu konsumtif tradisional dan konsumtif kreatif. Sedangkan yang berbentuk produktif adalah produktif konvensional dan produktif kreatif. Adapun penjelasan lebih rinci dari keempat bentuk penyaluran zakat tersebut adalah:

  1. Konsumtif Tradisional

Maksud dari pendistribusian zakat secara konsumtif tradisional adalah bahwa zakat dibagi kepada mustahiq dengan cara langsung untuk kebutuhan konsumsi sehari-hari, seperti pembagian zakat fitra berupa beras dan uang kepada fakir miskin setiap idul fitri atau pengembangan zakat mal secara langsung oleh para mizakki kapada mustahiq yang sangat membutuhkan karena ketiadaan pangan atau karena mengalami musibah. Pola ini merupakan progran jangka pendek dalam rangka mengatasi masalah umat.

  1. Konsumtif Kreatif

Pendistribusian zakat secara konsumtif kreatif adalah zakat yang diwujudkan dalam bentuk barang konsumtif dan digunakan untuk membantu orang miskin dalam mengatasi permasalahan sosial dan ekonomi yang dihadapinya. Bantua tersebut antara lain berupa alat-alat sekolah dan beasiswa untuk para pelajar, bantuan sarana ibadah seperti sarung dan mukenah, bantuan alat pertanian, seperti cangkul untuk petani, gerobak jualan untuk pedagang kecil dan lain-lain.

  1. Produktif Konvensional

Pendistribusian zakat secara produktif konvensional adalah zakat yang diberikan dalam bentuk barang-barang produktif, di mana dengan memngunakan barang-barang tersebut, para mustahiq dapat menciptakan suatu usaha, seperti pemberian bantuan ternak kambing, sapi atau untuk membajak sawah, alat pertukangan, mesin jahit.

  1. Produktif Kreatif

Pendistribusian zakat secara produktif kreatif adalah zakat yang diwujudkan dalam bentuk pemberian modal bergulir, baik untuk pemodalan proyek sosial, seperti bangunan sosial, pembangunan sekolah, sarana kesehatan atau tempat Ibadah maupun sebagai modal usaha untuk membantu pengembangan usaha para pedagang atau pengusaha kecil.[6]

       Hasil dari analisi di atas, maka dapat disimplkan bahwa pengembangan zakat produktif dapat merubah mustahiq menjadi muzakki, karena dari hasil pengamatan kami selama ini, pendayagunaan zakat secara konsumtif belum mampu memperbaiki perekonamian umat. Oleh karena itu solusi untuk membangun kesejahteraan umat adalah melalui pemberian modal atau pengembangan zakat secara produktif.

  1. Pengembangan Zakat Produktif sebagai Solusi untuk Membangun Kesejahteraan Umat

Dana zakat produktif diwujudkan dalam bentuk bantuan modal terhadap usaha mustahiq. Zakat produktif yaitu zakat yang diberikan oleh lembaga amil kepada masyarakat yang membutuhkan bantuan modal, bantuan zakat produktif sebagai modal untuk menjalankan suatu kegiatan ekonomi yaitu untuk mengembangkan kondisi ekonami dan potensi produktivitas mustahiq.

Zakat untuk usaha produktif harus diberikan kepada mustahiq sebagai modal atau sumber pendapatan bagi mustahiq.[7]

Dalam Al-Qur’an telah dijelaskan, bahwa zakat harus didistribusikan hanya untuk 8 (delapan) golongan, seperti firman Allah SWT dalam QS. At-Taubah ayat 60.

Maksud dari ayat ini adalah zakat-zakat yang wajib, berbeda dengan shadaqah mustahabah yang bebas diberikan kepada semua orang tampa ada pengkhusuan. Secara umum, pesan pokok dalam ayat tersebut adalah mereka yang secara ekonomi kekurangan, kecuali amil dan muallaf yang  mungkin secara ekonomi berada dalam kecukupan. Karena itu di dalam pemdistribusian, hendaknya mengedepankan mereka yang benar-benar membutuhkan, sehingga setelah menerima zakat, dalam periode tertentu berubah menjadi pembayar zakat.

Model pengelolaan zakat secara produktif ini telah dicontohkan pada masa Khalifah Umar Ibn Khathab yang menyerahkan berupa tiga ekor unta sekaligus kepada salah seorang mustahiq yang sudah rutin memintah zakatnya, tapi belum berubah nasibnya, pada saat penyerahan tiga ekor untah itu, khalifah mengharapkan agar yang bersangkutan tidak datang lagi sebagai penerima zakat, tetapi diharapkan oleh khalifah sebagai pembayar zakat. Harapan Khalifah Umar Ibn Khathab tersebut ternyata menjadi kenyataan, karena pada tahun berukutnya, orang ini datang kepada Khalifah Umar Ibn Khathab bukan meminta zakat, tetapi untuk menyerahkan zakatnya.[8]

Dalam pendayagunaan dana zakat untuk aktivitas-aktivitas produktif memiliki beberapa prosedur, aturan tersebut terdapat dalam Undang-undang No. 23 tahun 2011 tentang pengelolaan zakat, BAB V pasal 29 yaitu sebagai berikut :

  1. Melakukan studi kelayakan.
  2. Menetapkan jenis usaha produktif.
  3. Melakukan bimbingan dan penyuluhan.
  4. Melakukan pemantauan, pengendalian, dan pengawasan.
  5. Melakukan evaluasi.
  6. Membuat laporan

Dalam pendistribusian dana zakat produktif, apabila Badan Amil Zakat (BAZ) melaksanakan sesuai dengan amanat Undang-undang, maka tujuan pendayagunaan dana zakat dalam menghadirkan Muzakki-muzakki baru akan tercapai, karena dalam  pembagian dana zakat merupakan tranfer kekayaan (membagi kekayaan), itu merupakan tujuan pengumpulan zakat.  Kaitannya dengan iniAllah SWT Berfirma dalam QS. Al-Hasyr : 7.

Ruh dari QS. Al-Hasyr : 7 tersebut mengisyaratkan harta dibagi-bagi pada setiap orang yang membutuhkan, agar harta tidak hanya beredar atau tidah hanya menjadi milik orang-orang kaya saja. Namun demikian pola peredaran harta juga harus memperhatikan Syari’at Islam atau tuntutan Agama yang mengatur hal tersebut. Di sinilah pentingnya pengelolaan zakat yang cerdas dan kreatif dalam hal pengelolaan sumber daya yang tersedia, Badan Amil Zakat itu sendiri yang memanfaatkan dana zakat investasi, serta menciptakan lapangan kerja dengan meprioritas para mustahiq atau anak-anak dari para mustahiq yang telah dibekali dengan pengetahuan atau pelatihan sesuai bidangnya sebagai pekerja, sehingga para mustahiq memiliki penghasilan yang pada akhirnya tidak hanya dapat henghidupi keluarganya, melainkan menjadi muzakki atau penbayar zakat.

 

  1. Kesimpulan
  2. Zakat produktif adalah dana zakat yang diberikan kepada seorang atau kelompok masyarakat yang berhak menerima zakat (mustahiq) sebagai modal untuk menjalankan suatu kegiatan ekonomi dalam bentuk usaha, yaitu untuk mengembangkan tingkat ekonomi dan potensi produktifitas mustahiq.
  3. Pengembangan zakat konsumtif dapat dilakukan dengan dua cara yaitu: konsumtif tradisional dan konsumtif kreatif, sedangkan pengembangan zakat produktif dilakukan dengan dua cara pula yaitu: produktif konvensional dan produktif kreatif. Untuk mengubah keadaan perekonomian umat Islam, maka pendistribusian zakat secara konsumtif harus dibatasi atau diminimalisir agar harta zakat lebih banyak dikelolah secara produktif.
  4. Pendayagunaan zakat produktif apabila dijalankan sesuai dengan Undang-undang No. 23 tahun 2011tentang pengelolaan zakat, BAB V pasal 29, maka misi zakat untuk mengubah mereka para penerima zakat (mustahiq) menjadi pembayar zakat (muzakki) akan tercapai, sehingga pemberdayaan dan pemerataan zakat akan lebih bermaknah dan sesuai ruh perintah zakat agar harta itu tidak hanya menjadi milik para agniya atau pemilik modal saja, dengan demikian, jelaslah bahwa pengembangan zakat produktif dapat membengun kesejahteraan umat.

 

[1] Ahmad Rafiq, Fiqh Aktual, Ikhtiar Menjawab Berbagai Persoalan Umat, (Semarang: PT Karya Toha Putra, 2004),hlm 268

[2] Ibid, hlm. 270

[3] Supratman Usman, Pengelolaan Ibadah Maliya secara Produktif dalam Mengangkat Kualitas Umat, (Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 2000), hlm 260

[4] Didin Hafidhuddin, Zakat dalam Perekonamian Modern, (Jakarta : Gema Insani, 2006), hlm 7

[5] Ahmad Rafiq, Fiqh Kontekstual (dari Normatif Ke Pemaknaan Sosial), (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004), hlm 259

[6] Muhammad Abdul Qadir Faris, Kajian Kritis Pendayagunaan Zakat, (Semarang: Diana Utama Semarang, 1993), hlm 1-2

[7] M. Dawan Raharjo, Islam dan Tranformasi Sosial Ekonomi, ( Jakarta : Lembaga Studi Agama dan Filsafat, 1999), hlm 445

[8] Irfan Mahmud Ra’ana, Economics Sistem Under The Great ( Sistem Ekonomi Pemerintahan Umar Ibn Khathab), terj. Mansuruddin Djoely, ( Jakarta : Pustaka Firdaus, 1979), hlm 88

248
Share :

INFORMASI LAINNYA

Semaraknya HAB Kemenag di Kab.Sumbawa
Selasa, 16 Desember 2014 11:16
Suasana Ujian Nasional Di MAN ! Kota Bima
Senin, 13 April 2015 10:51