Cari Berita
BAHAGIA “SETULUS HATIMU DALAM MEMBERI”

Suatu hal yang amat sering ditanyakan orang sepanjang sejarah kehidupan manusia adalah menyangkut tentang kebahagiaan. Apakah kebahagiaan itu ? dan apa saja yang menyebabkan hidup jadi bahagia. Kebahagiaan adalah seperti angin sejuk di tengah terik matahari, seperti cahaya fajar yang perlahan mengusir gelapnya malam. Ia bukan sesuatu yang dapat digenggam, tetapi bisa dirasakan. Ia bukan sesuatu yang bisa dibeli, tetapi bisa ditemukan dalam hal-hal sederhana. Kebahagiaan bukanlah tujuan akhir, melainkan perjalanan panjang yang kita lalui dengan hati yang lapang. Imam Ibnu Athaillah mengingatkan dalam satu ungkapan :  

"Kebahagiaan bukanlah saat engkau memiliki segalanya, tetapi saat hatimu merasa cukup dengan apa yang Allah berikan."

Ada orang yang mencari kebahagiaan di gunungan harta, tetapi hatinya tetap terasa kosong. Ada yang mengejarnya dalam gemerlap dunia, tetapi semakin ia berlari, semakin kebahagiaan itu menjauh. Lalu, di mana sebenarnya kebahagiaan itu berada ? Walaupun tampak sederhana, pertanyaan reflektif ini selalu menjadi perhatian tidak sedikit orang terutama karena definisi tentang bahagia menurut satu orang atau tokoh berbeda dengan tokoh atau orang lain tentu hal ini juga sangat terkait dimensi masa, waktu dan keadaan seiring dengan perubahan dan kemajuan pemikiran manusia dari waktu ke waktu.

Menurut Aid Al-Qarni kebahagiaan adalah keriangan hati karena kebenaran yang dihayati, kelapangan dada karena prinsip yang menjadi pedoman hidup, dan kebaikan hati karena kebaikan disekelilingnya. Tentu anda punya definisi lain tentang makna bahagia mulai dari kedamaian hidup, menyatu dengan realita alam atau memiliki sejumlah materi yang dibanggakan atau makna lainnya, tapi seperti ingin menggarisbawahi pendapat Aid Al-Qarni dalam kalimat terakhir makna bahagia bahwa ketenangan hati kapan, dimanapun dan oleh siapapun selalu dikejar, diburu dan ingin digapai bahkan tak peduli dengan cara apapun ia bisa diraih. 

Seringkali kita mencari kebahagiaan di tempat yang salah, bukan ? Kita mengejarnya di luar diri, berharap bisa menggenggamnya. Namun, Aid Al-Qarni mengingatkan kita, bahwa kebahagiaan itu sesungguhnya sangat dekat, ia terkait dengan seberapa riang hati kita saat kita berani berbuat jujur, saat komitmen melakukan pengabdian yang tulus untuk meraih ridho Ilahi. Kebahagiaan juga berhubungan dengan seberapa lapang dada kita menrima segala taqdir yang diberikannya kepada kita, kita merasakan apapun yang DIanugerahkannNya ke kita semakin menambah kesyukuran  lalu melahirkan kedamaian di dalam hati ini.

Kebaikan hati kita terutama “ketulusan dalam memberi” menjadi support bagi meningkatnya rasa bahagia yang bersemayam di dalam jiwa. Kta melihat dan menyaksikan dalam kehidupan sehari-hari seorang yang dengan tulus berderma, berinfaq tanpa pamrih, memberikan apapun yang meringankan beban orang lain tanpa berharap orang membalasnya maka hidup mereka akan berlimpah kebahagiaan bahkan dibarengi dengan keberkahan.. Akankah lalu kita merasa ringan dan tulus dalam memberi bantuan kepada orang lain ? Atau bisakah kita menjadi jalan sarana yang menyebabkan hidup orang lain merasa lebih bahagia ?

“Semoga setiap langkah kita dipenuhi dengan niat tulus untuk berbuat kebaikan, meskipun terkadang jalan yang ditempuh terasa berat. dan kita selalu diberi kekuatan untuk menebar senyuman dan kebahgiaan di tengah kesulitan orang-orang di sekekliling kita”. amiin

Oleh : Husni Anwar

Tim Humas Kanwil NTB

Kontributor dari satuan kerja di bawah naungan Kementerian Agama Provinsi Nusa Tenggara Barat. Tulisan ini bertujuan untuk mendukung keterbukaan informasi dan publikasi kegiatan keagamaan serta layanan masyarakat.

Bagikan Berita

Mode Aksesibilitas

Pilih pengaturan aksesibilitas:

Mode Tampilan
Ukuran Teks
Teks
Navigasi
Reset