“Di balik segala hiruk-pikuk kehidupan, ada satu misteri yang selalu mengintai di kejauhan, senyap namun pasti dialah kematian”. Dalam buku Cahaya Taqdir” Merajut Kedamaian dalam dinamika kehidupan” yang saya tulis beberapa waktu yang lalu, di situ jelas bahwa sadar atau tidak, tiap detik yang kita lalui di lorong waktu kehidupan ini adalah jenak-jenak yang mendekatkan kita pada gerbang kematian. Kematian seperti halnya kehidupan adalah teka-teki yang tidak seluruhnya dapat diungkap oleh akal pikiran manusia kendati itu dapat dilihat dan disaksikan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Kehidupan bagaikan sebuah panggung luas tempat manusia memainkan peran mereka masing-masing. Ada yang datang dengan langkah penuh semangat, menari di bawah cahaya harapan, dan ada yang pergi dengan sunyi, meninggalkan jejak yang samar di hamparan waktu. Namun, di balik segala hiruk-pikuk kehidupan, ada satu misteri yang selalu mengintai di kejauhan, senyap namun pasti: kematian. Kematian lalu menyadarkan kita bahwa Tiap detik yang berlalu bukanlah sekadar angka yang bergerak. Ia adalah langkah yang membawa kita semakin dekat pada sebuah gerbang dan itu adalah kematian, sebuah janji yang pasti datang, satu keadaan yang tak dapat dielakkan walau ia selalu diselimuti misteri yang sulit bahkan tak dapat dipecahkan oleh akal.
Kematian, seperti halnya kehidupan, adalah teka-teki yang tak seluruhnya mampu diurai oleh akal pikiran manusia. Ia hadir sebagai sebuah kenyataan yang tak terbantahkan, namun tetap menyisakan tanda tanya yang tak pernah usai. Kita melihatnya setiap hari—pada daun-daun yang gugur tanpa suara, pada hewan yang perlahan kehilangan napas, dan pada manusia yang tubuhnya kembali dipeluk tanah. Namun, sekalipun kematian begitu nyata di hadapan kita, dan kita menjadi saksi dari seorang yang kita cintai dan kasihi melewati gerbang kematian itu di setiap waktu dan saat tetap saja ia menyimpan rahasia yang tak terjangkau oleh logika.
“Semoga kesadaran akan kematian memberi kita kekuatan untuk hidup dengan penuh syukur, menghargai setiap momen, dan berbuat baik kepada sesame”. Amiin..
Penulis: M. Husni Anwar (Penulis Buku Cahaya Takdir)