Tak pernah henti-hentinya cinta mewarnai kehidupan makhluk Tuhan yang bernama manusia. Cinta yang identik dengan suasana penuh keindahan bertabur kerinduan dan kasih sayang ibarat bunga yang lagi mekar semerbak mewangi lalu menyentuh hati yang menyaksikannya. Cinta bagi seorang kekasih kepada orang yang dikasihi tampak dalam kesediaan untuk terus melantunkan tembang-tembang indah di tengah kegersangan hati dan pikiran. Hal itu juga tampak dalam kesediaan berkorban di tengah badai kemelut dan cobaan. Bahkan atas nama cinta seorang bisa tegar tersenyum di ujung kematian. Betapa pun cinta digambarkan tetap misterinya berada dalam genggaman sang pencipta Allah SWT.
Dalam stu ungkapan Arab menyatakan ;
Cinta adalah cahaya yang tak dapat diselimuti kegelapan dunia, angin sepoi yang tak bisa dikurung oleh sangkar waktu, dan bintang yang tetap membimbing para musafir meski seluruh jalan telah hancur."
Cerita cinta terus berjalan, takdir kerinduan antara umat manusia dalam jalinan kasih sayang tak pernah berhenti. Cinta adalah nyanyian tanpa suara, bergetar di relung hati meski dunia membisu. Seorang kekasih yang mencintai takkan membiarkan keheningan merampas kehangatan kasihnya; ia akan terus melantunkan tembang rindu di tengah kegersangan hati dan pikiran, seperti angin yang tetap berbisik meski gurun membakar.
Cinta adalah cahaya yang menerangi hati dan jiwa, dan dengan cinta, seorang hamba dapat mencapai kedamaian batin." Demikian Imam Ali mengungkapkan..
Dalam konteks ini penulis buku Cahaya Taqdir ingin kita memusatkan cinta kepada sang maha pencipta kita Allah SWT. Lalu bagaimana menanam dan menyuburkan cinta kita pada zat yang maha kekal abadi yaitu Allah SWT. ? "Cinta kepada Allah bukan sekadar getaran dalam dada, bukan sekadar untaian kata dalam doa, tetapi sebuah perjalanan jiwa yang panjang—seperti sungai yang mengalir menuju lautan, seperti burung yang terbang mencari sarangnya, seperti cahaya yang selalu merindukan matahari. Ia bukan datang dengan sekali panggil, tetapi tumbuh perlahan seperti benih yang harus dijaga, disiram, dan diterangi cahaya iman hingga mekar menjadi taman yang abadi dalam hati." Iman yang bercahaya akan selalu menuntun jiwa mencintai sang pencipta alam.
Cinta kepada Allah SWT adalah pelita yang tak pernah padam, selalu menyinari jalan yang kita tempuh, meski dalam kegelapan. Dengan cinta ini, segala kesulitan dan penderitaan menjadi ringan, karena kita tahu bahwa cinta yang kita upayakan hanya untuk-Nya adalah jalan menuju kebahagiaan yang hakiki. Dan ketika kita meniti cinta sejati kepada-Nya, dunia ini terasa seperti pasir yang berlalu, sementara kita hanyut dalam aliran cinta yang membawa kita menuju surga-Nya.
Apakah kita pernah melihat taman yang tak mendapat cahaya? Ia akan layu, kehilangan warnanya, lalu mati dalam gelap. Begitu pula hati tanpa iman. Cinta kepada Allah harus diterangi dengan keyakinan yang kuat, agar ia tidak goyah saat godaan datang, agar ia tetap mekar meski dunia berusaha merobeknya. Seperti bulan yang merindukan cahaya matahari, hati yang penuh cinta kepada Allah akan selalu mencari sinar iman untuk menerangi jalannya."
Semoga dalam setiap detik kehidupan ini, kita selalu diberi kesempatan untuk mencintai-Nya lebih dalam, lebih tulus, lebih ikhlas, dan lebih penuh dengan harapan yang tertuju hanya kepada RidhoNya-Nya”. Amiin…
dari buku “Cahaya Taqdir”
Oleh : Muhamad Husni Anwar