Oleh: Abdurrasid - Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Lembar
Senggigi bukan sekadar deretan garis pantai yang memukau atau pusat hiburan malam yang tak pernah tidur. Di balik gemerlap lampu kafe, dentuman musik dari kelab malam, dan hilir mudik wisatawan mancanegara, ada sebuah denyut spiritual yang terus dijaga agar tidak padam.
Di sinilah Mahpi, seorang Penyuluh Agama Islam dari KUA Kecamatan Batu Layar, menjalankan peran sunyinya dengan penuh keteguhan.
MAHPI, Menjaga Akar di Tanah Wisata
Menjadi penyuluh agama di kawasan wisata internasional seperti Senggigi memiliki tantangan yang jauh berbeda dengan wilayah pedesaan pada umumnya. Mahpi menyadari betul bahwa arus globalisasi dan budaya luar masuk tanpa filter melalui pintu pariwisata. Tanpa pegangan yang kuat, masyarakat lokal berisiko kehilangan jati diri dan nilai-nilai luhur mereka.
Di tengah kesibukan warga yang mayoritas menggantungkan hidup pada sektor pariwisata, Mahpi hadir bukan untuk menentang kemajuan, melainkan untuk memastikan bahwa iman tetap menjadi jangkar.
Ya, Masjid Nurul Iman sebagai Benteng Terakhir. Tempat perjuangan utama Mahpi. Di masjid yang berdiri kokoh di pusat keramaian ini, ia secara istiqomah mengisi pengajian demi pengajian. Ini dilakukan untuk tujuan menyaring budaya luar.
Dalam setiap tausiyahnya, Mahpi menyelipkan pesan-pesan tentang pentingnya memfilter budaya asing yang masuk. Ia mengingatkan jemaah bahwa bersikap ramah kepada wisatawan adalah keharusan, namun meleburkan nilai agama ke dalam gaya hidup bebas adalah kerugian besar.
Di saat dunia luar sibuk dengan urusan duniawi dan ekonomi pariwisata, pengajian Mahpi menjadi momen bagi warga untuk "pulang" sejenak, mendinginkan hati, dan mengingat kembali hakikat pengabdian kepada Sang Pencipta.
Meski lingkungan sekitarnya dipenuhi dengan tempat hiburan (kafe dan kelab), ia tetap melangkah dengan tenang menuju mimbar, membuktikan bahwa dakwah tidak boleh kalah oleh keadaan.
Kesuksesan Mahpi bukan terletak pada seberapa keras suaranya, melainkan pada kehadirannya yang nyata. Ia adalah sosok yang memahami realitas sosial masyarakat Senggigi. Ia tidak menghakimi, melainkan merangkul.
Bagi Mahpi, menjaga moralitas masyarakat di tengah kota wisata adalah ibadah yang panjang. Ia percaya bahwa selama azan masih berkumandang dari Nurul Iman dan pengajian tetap berjalan, maka ruh keislaman warga Senggigi akan tetap terjaga meski gelombang budaya luar terus menerjang.
"Dakwah di Senggigi adalah tentang bagaimana kita menjadi warna yang tidak mudah luntur, meski berada di dalam rendaman warna-warni dunia." Katanya bersemangat.