Cari Berita
PERANG TOPAT, WUJUD TOLERANSI MASYARAKAT SASAK

LINGSAR - Kamis, (4/12) bertempat di Kemalik Lingsar, Kabupaten Lombok Barat, berlangsung sebuah tradisi yang terus dilakukan secara turun-temurun oleh masyarakat Sasak Lombok, khususnya masyarakat setempat, sebagai upaya untuk merawat dan menjaga toleransi antara pemeluk Agama Islam dan Agama Hindu. Acara itu setiap tahun dirayakan, yaitu prosesi Budaya Perang Topat.

Berikut ini, kami sajikan sejarah awal mula Kemalik Lingsar dan Perang Topat yang ditulis oleh, Ketua Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Provinsi NTB, sekaligus Pengurus MAS (Majelis Adat Sasak) NTB, Lalu Satriawangse.

Kemalik Lingsar yang berada di Desa Lingsar Lombok Barat, menurut sejarahnya sudah ada sejak era Kedatuan Medayin (yang pusatnya di Medayin, Narmada) dan adalah petilasannya Datu Milir keluarga Datu Medayin yang ngamarin (berdakwah) ke daerah tersebut pada waktu lalu.

Kisahnya pada suatu waktu, Datu Milir menghilang dari tempat biasa beliau bersemedi dan hanya ditemukan tongkatnya. Tempatnya beliau menghilang kemudian disakralkan dan dijadikan Kemalik (tempat yang disakralkan) oleh penduduk setempat, dan setiap tahun pada waktu  yang sama saat bliau menghilang, yaitu Bulan Tujuh Penanggalan Sasak (Bulan ketujuh dalam Kalender Rowot Sasak disebut Mikrat, Red.) diselenggarakan Upacara Pujawali sebagai bentuk pengingat dan penghormatan kepada Wali Datu Milir.

Belakangan, pada era sekitar Tahun 1741 M. di sebelah atas Kemalik di bangun Pure Gaduh. Versi lain, menyebutkan Pure tersebut di bangun pada era Kerajaan Mataram, sekitar Tahun 1856 M. bersamaan dengan pembangunan Taman Narmada.

Masyarakat setempat memberikan ijin untuk membangun Pure di Kemalik tersebut, sebagai wujud nyata toleransi Warga Sasak, sehingga mereka menerima keberadaan Pure yang bersanding dengan Kemalik.

Tidak hanya dalam bentuk bangunan, (Kemalik dan Pure, Red.) Wujud nyata dari toleransi juga nampak terlihat ketika dua upacara besar bersamaan diadakan oleh masyarakat setempat. Masyarakat Sasak dengan Upacara Pujawali di Kemalik, sedangkan Warga Hindu dengan Upacara Odalan di Pure.

Puncak dari kedua upacara besar itu, diadakanlah Perang Topat sebagai prosesi bersama untuk merajut harmoni antar dua entitas di Lombok, yakni Sasak dan Bali.

Kenapa mesti dirajut harmoni? Tentunya ada sebab musabab mereka waktu itu pernah tidak harmonis.

Ceritanya, masyarakat Desa Menjeli, Lingsar pernah terlibat perang dengan Kerajaan Mataram kala itu, yakni di tahun 1855 M. ketika Amaq Salam, pemuka Menjeli dan pasukannya berani matinya melakukan penyerbuan ke Mataram, sejarahnya beliau dan bala tentaranya berhasil menguasai Balairung Puri Mataram. Namun, belakangan aksinya itu dapat ditumpas habis dan Desa Menjeli di bumi hanguskan oleh Mataram, dimana rakyat yang tidak berdosa banyak yang ikut menjadi korban.

Nah, sebagai media Rapah (perdamaian) diselenggarakanlah Upacara Perang Topat untuk membangun keharmonisan antar entitas tersebut.

Masyarakat Sasak sendiri, memang mempunyai kearifan sendiri untuk memperingati atau mengenang peristiwa perang atau peristiwa yg tragis itu, dan merubahnya menjadi prosesi budaya yang penuh dengan kegembiraan. Misalnya, dalam Perang Topat, Upacra Bau Nyale, Perang Timbung di Pejanggik, dan lainya.

Dan terhadap ritual-ritual perang adalah juga sebagai cara masyarakat Sasak untuk mengabadikan peristiwa-peristiwa perang yang pernah terjadi sebelum-sebelumnya.

SALAM TOLERANSI

Editor: Achief Ridho Inges

Lombok Barat

Kontributor dari satuan kerja di bawah naungan Kementerian Agama Provinsi Nusa Tenggara Barat. Tulisan ini bertujuan untuk mendukung keterbukaan informasi dan publikasi kegiatan keagamaan serta layanan masyarakat.

Bagikan Berita

Mode Aksesibilitas

Pilih pengaturan aksesibilitas:

Mode Tampilan
Ukuran Teks
Teks
Navigasi
Reset