Cari Berita
(Refleksi 1 Abad NU) TGH. Muhiwan Roji: 100 Tahun NU, Menjaga Sanad, Merawat Martabat

Oleh: Abdurrasid - Penyuluh Agama KUA Kecamatan Lembar

Refleksi satu abad Nahdlatul Ulama (NU) bukan sekadar perayaan angka, melainkan momentum untuk menengok kembali jejak para pejuang akar rumput yang menjadi urat nadi organisasi ini.

Di pelosok Lombok, nama TGH. Muhiwan Roji berdiri tegak sebagai jembatan peradaban yang menghubungkan cita-cita besar NU dengan realitas pendidikan pesantren melalui Pondok Pesantren Nujumul Huda, Batu Samban, Desa Lembar Selatan, Kecamatan Lembar, Kabupaten Lombok Barat.

Jejak Perjuangan TGH. Muhiwan Roji dan Pondok Pesantren Nujumul Huda

Satu abad perjalanan Nahdlatul Ulama adalah bukti ketangguhan ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja) dalam mengawal bangsa.

Di tengah riuh rendah transformasi zaman, Pondok Pesantren Nujumul Huda hadir sebagai benteng kokoh yang didirikan oleh TGH. Muhiwan Roji dengan satu tujuan suci: Menjadikan pesantren sebagai rahim bagi kader-kader penjaga agama dan negara.

Wasiat yang Tak Lekang oleh Waktu

Kesetiaan TGH. Muhiwan Roji terhadap NU bukanlah tanpa dasar. Beliau memegang teguh wasiat sang guru, Datok Bengkel, yang menjadi kompas ideologis bagi seluruh keturunan dan santrinya:
"Ke mana NU, maka ke situlah kalian. Karena saya mendirikan Pondok Pesantren Nujumul Huda, sebagai wadah penyebaran ajaran-ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah An-Nahdliyah."

Wasiat ini bukan sekadar perintah organisatoris, melainkan penegasan tentang sanad keilmuan. Beliau meyakini bahwa NU adalah bahtera yang paling tepat untuk mengarungi samudera keindonesiaan yang majemuk.

Mencetak Santri Pancasilais dan Ahli Qur'an

Visi TGH. Muhiwan Roji melampaui sekat-sekat eksklusivitas. Beliau menginginkan santri Nujumul Huda tidak hanya cakap dalam literatur kitab kuning atau hafal Al-Qur'an, tetapi juga menjadi manusia yang Pancasilais.

Baginya, mencintai tanah air adalah bagian dari iman. Dengan memadukan trah keilmuan Al-Qur'an yang kuat dan disiplin berorganisasi, beliau berharap alumni Nujumul Huda menjadi motor penggerak moderasi beragama di tengah masyarakat.

IKSANUDA: Wadah Pengabdian Tanpa Batas

Untuk menjaga api perjuangan tetap menyala, dibentuklah Ikatan Santri Alumni Nujumul Huda (IKSANUDA). Organisasi ini bukan sekadar tempat berkumpul dan bernostalgia, melainkan kanal distribusi dakwah Aswaja.

IKSANUDA menjadi bukti bahwa "trah keilmuan" yang ditanamkan TGH. Muhiwan Roji terus mengalir, melintasi generasi, dan tersebar ke berbagai penjuru.

Refleksi Haul ke-29 dan Satu Abad NU

Tahun ini menjadi sangat istimewa. Peringatan 100 tahun NU bertepatan dengan Haul ke-29 wafatnya TGH. Muhiwan Roji.

Beberapa kesamaan momentum ini menjadi pengingat bagi kita semua:
Pertama, selama 29 tahun setelah kepergiannya, cita-cita beliau tetap hidup melalui kurikulum dan gerak langkah pesantren. Kedua, ajaran Aswaja yang beliau perjuangkan kini menjadi solusi dunia dalam menghadapi radikalisme. Ketiga menyongsong abad kedua NU, santri Nujumul Huda memikul amanah besar untuk tetap menjadi "Nujum" (Bintang) yang memberi petunjuk (Huda) di tengah kegelapan.

Mari kita lanjutkan wasiat beliau: menjaga Al-Qur'an di hati, mengamalkan Pancasila dalam aksi, dan tetap setia di bawah panji Nahdlatul Ulama.

Sebagai orang yang pernah nyantri dan bertemu beberapa saat dengan Abah Iwan, penulis dapat memberi catatan penting dari wasiat dan gerakan perjuangan beliau.

Pertama, wasiat beliau tentang Nahdlatul Ulama "Mbe Lain NU Terik, Ye Lai Pade Terik - Kemana NU, maka ke situlah kalian."

Wasiat ini bukan sekadar arah, tapi adalah kompas pengabdian. Di Nujumul Huda, alumni harus merawat tradisi Aswaja dan mencintai Indonesia sebagai satu tarikan nafas.

Kedua, tentang cita-cita Abah Iwan dalam mendirikan Pondok Pesantren Nujumul Huda, yaitu "Menjadi Bintang di Langit, Berpijak di Bumi Pancasila serta menjadi Trah keilmuan Al-Qur'an adalah fondasi, dan Nahdlatul Ulama adalah jalan bakti."

Santri dan alumni Nujumul Huda: diharapkan bisa menjadi Ahli Qur'an yang Nasionalis, Ulama yang Pancasilais.

Ketiga, bahwa estafet perjuangan beliau yang kini sudah memasuki 29 tahun dari kepergiannya, beliau tetap sebagai guru yang abadi dalam sanad perjuangan.

Satu abad NU adalah saksi, betapa teguhnya TGH. Muhiwan Roji menanamkan benih Ahlussunnah wal Jama’ah. Tugas kita, khususnya bagi santri dan alumni sekarang adalah memastikan api itu tetap menyala dalam wadah IKSANUDA.

Penulis adalah Sekretaris MWCNU Kecamatan Lembar 2017-2022 sekaligus Alumni NH

Lombok Barat

Kontributor dari satuan kerja di bawah naungan Kementerian Agama Provinsi Nusa Tenggara Barat. Tulisan ini bertujuan untuk mendukung keterbukaan informasi dan publikasi kegiatan keagamaan serta layanan masyarakat.

Bagikan Berita

Mode Aksesibilitas

Pilih pengaturan aksesibilitas:

Mode Tampilan
Ukuran Teks
Teks
Navigasi
Reset