Cari Berita
SUARA HATI

Al-kisah di sebuah kota yang penuh hiruk-pikuk, hiduplah seorang pria bernama Rafi. Ia bukan orang kaya, bukan pula seseorang yang dikenal banyak orang. Namun, ia memiliki sesuatu yang langka—hati yang selalu mendengar suara lirih yang sering diabaikan oleh dunia.

Suatu sore, saat berjalan pulang dari pekerjaannya, Rafi melewati seorang ibu tua yang duduk di pinggir jalan. Banyak orang berlalu-lalang, sibuk dengan urusan mereka, tetapi entah mengapa, hati Rafi berbisik, “Berhentilah sebentar.”

Ia mendekati ibu itu dan bertanya, “Bu, apakah Anda butuh bantuan?”

Sang ibu mengangkat wajahnya dengan mata berkaca-kaca, lalu berkata lirih, “Nak, aku hanya butuh seseorang yang mau mendengar.”

Rafi pun duduk di sampingnya. Ia tidak memberinya uang atau makanan, tapi ia memberikan sesuatu yang lebih berharga—waktu dan kepedulian.

Saat sang ibu bercerita, air matanya mengalir. Ia bukan hanya kesepian, tetapi juga kehilangan harapan. Namun, dalam pertemuan singkat itu, ia merasa dihargai, merasa bahwa hidupnya masih berarti.

Ketika Rafi pamit, sang ibu menggenggam tangannya dan berkata, “Nak, hari ini aku ingin menyerah, tapi kata-katamu membuatku ingin bertahan. Terima kasih telah mendengar suara yang hampir hilang.”

Rafi berjalan pulang dengan hati yang penuh. Ia sadar, kadang seseorang tidak butuh harta atau bantuan besar—kadang, yang mereka butuhkan hanyalah seseorang yang bersedia mendengar.

Meskipun tak terlihat oleh mata, tak terdengar oleh telinga, dan tak teraba oleh tangan, suara hati adalah kompas batin yang tak pernah keliru. Ketika manusia berdiri di persimpangan antara benar dan salah, suara hati itulah yang “membisikkan kebenaran”, meski terkadang ditenggelamkan oleh gemuruh nafsu dan kepentingan duniawi. Ia hadir saat seseorang ragu, mengingatkan ketika langkah hampir tersesat, dan menguatkan ketika jalan kebajikan terasa berat.

Bagai hembusan angin sepoi di tengah padang gersang, suara hati memberikan ketenangan bagi mereka yang mendengarkannya. Saat seseorang tergoda oleh keburukan, ia akan bergetar, mengusik ketenangan batin. Ketika seseorang memilih kebaikan, ia akan berbisik lembut, membawa kedamaian yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.

Namun, suara hati bukanlah sesuatu yang dapat dijaga begitu saja. Ia seperti mata air yang bisa mengering jika dibiarkan tercemar oleh dosa dan ketamakan. Jika terlalu sering diabaikan, ia bisa melemah, suaranya menjadi samar, hingga akhirnya tak lagi terdengar. “Semoga Allah mempertajam suara hati kita agar dapat menjadi kompas yang tak pernah sesat, dan selalu menuntun langkah ini pada jalan yang ridhaiNya”.

Tim Humas Kanwil NTB

Kontributor dari satuan kerja di bawah naungan Kementerian Agama Provinsi Nusa Tenggara Barat. Tulisan ini bertujuan untuk mendukung keterbukaan informasi dan publikasi kegiatan keagamaan serta layanan masyarakat.

Bagikan Berita

Mode Aksesibilitas

Pilih pengaturan aksesibilitas:

Mode Tampilan
Ukuran Teks
Teks
Navigasi
Reset