Oleh: Abdurrasid - Penyuluh Agama KUA Kecamatan Lembar
Di bawah langit Lombok Barat yang teduh, sebuah nama bergema di antara sela-sela pelepah kelapa dan gang-gang sempit dusun, dia Ust. Musleh.
Beliau bukan sekadar penceramah; beliau adalah "Singa Podium" yang langkah kakinya menjadi jembatan bagi tersambungnya sanad ilmu para ulama terdahulu kepada generasi hari ini.
Menjemput Umat, Merawat Tradisi An-Nahdliyah
Sebagai Penyuluh Agama Islam di KUA Kecamatan Kediri, pengabdian Ust. Musleh adalah pengejawantahan dari khidmah kepada umat. Beliau tidak menunggu jemputan; beliau justru menjadi yang terdepan menjemput jamaah di berbagai gubok dan dusun.
Misi beliau jelas: Menyebar dan merawat tradisi Ahlussunah Wal Jamaah An-Nahdliyah
Di tangannya, amalan-amalan khas warga Nahdliyin tetap hidup dan berdenyut. Di Majelis Taklim, beliau mengurai kitab-kitab kuning, memastikan pemahaman agama tetap moderat (tawasuth) dan seimbang (tawazun). Di Mushola & Masjid, suaranya menggelegar menghidupkan tradisi zikir, shalawat, dan pengajian yang menjadi ciri khas Islam Nusantara.
Saksi Bisu Jalan Setapak Lombok
Saking lamanya berkelana secara mandiri sejak masa muda hingga kini memiliki tiga anak, Ust. Musleh seolah telah "menyatu" dengan tanah Lombok. Beliau bukan hanya menghafal ayat-ayat suci, tetapi juga menghafal setiap lekuk jalan setapak di pelosok Lombok Barat.
Jalanan sunyi itu adalah saksi bisu betapa beliau sangat menjaga warisan para ulama agar tidak terputus oleh zaman.
Khidmat dari Mimbar hingga ke Liang Lahat
Dakwah Ust. Musleh tidak berhenti di podium yang meriah dan megah. Beliau adalah sosok yang hadir saat duka menyapa, bergerak dari satu takziah ke takziah lainnya.
Dari satu pemakaman ke pemakaman lain, beliau memimpin tahlil dan doa, memastikan tradisi menghormati ahli kubur sesuai tuntunan aslafus shalih tetap terjaga.
Baginya, berdiri di tepi liang lahat adalah cara terbaik mengingatkan umat bahwa tugas kita adalah mengabdi hingga napas terakhir.
“Ust. Musleh adalah bukti nyata bahwa singa tidak menunggu perintah untuk menjaga wilayahnya; ia bergerak secara mandiri demi memastikan panji Ahlussunah Wal Jamaah tetap berkibar di hati setiap warga dusun.”