KH Yusuf Hasyim Meninggal Dunia

Senin, 15 Januari 2007 12:00

KH Yusuf Hasyim Meninggal Dunia
SURABAYA - 15/01 (Pikmas) Innalillahi Wainna Ilahi Rooji`un. Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, KH Yusuf Hasyim, meninggal dunia di ruang ICU lantai II Gedung Bedah Pusat Terpadu RSUD dr Soetomo Surabaya, Ahad, (14/1), sekitar pukul 18.45 WIB. Anak bungsu KH Hasyim Asya`ri, pendiri NU ini, menjalani perawatan di RSUD Dr Soetomo sejak 11 hari lalu. Saat pertama masuk Pak Ud --panggilan akrab KH Yusuf Hasyim-- dirawat di kamar 628 Graha Amerta RSUD Dr Soetomo. Karena kondisi kesehatannya terus menurun, setelah empat hari dirawat Pak Ud dipindahkan ke ruang ICU lantai II Gedung Bedah Pusat Terpadu. Prof Dr dr Rochmat Romdhoni menyatakan, Pak Ud meninggal akibat penyakit paru-paru yang diidapnya.   ``Beliau mengalami radang paru-paru (accut respiratiry distres syndrom atau gagal nafas akut akibat radang paru-paru) yang dideritanya,`` kata Prof Rochmat, dokter yang merawat Pak Ud selama dirawat di RS Dr Soetomo. Mulai semalam, jenazah mantan Ketua Umum Partai Kebangkitan Umat (PKU) dibawa ke rumah duka di komplek Pondok Tebuireng Jombang. Rencanya Senin siang, jenazahnya akan dimakamkan di komplek makam keluarganya.   Ketua Umum PB NU, KH Hasyim Muzadi, juga mengaku merasa sangat kehilanan atas wafatnya Pak Ud. ``Warga NU sangat kehilangan. Bukan hanya karena tinggal beliaulah satu-satunya keturunan Hadratussyeikh KH Hasyim Asy`ari (pendiri NU), tapi Indonesia juga kehilangan, karena beliau itu sangat peduli dengan masalah-masalah ke-Indonesiaan.``   Hasyim menjelaskan semenjak muda hingga wafat, Pak Ud selalu memperjuangkan NU dan Indonesia, baik di dalam struktur atau tidak, baik diminta atau tidak. Kesetiaan Pak Ud kepada idiologi negara memang tidak perlu dilakukan. Selain mendirikan Bantuan Serbaguna (Banser) NU, ketokohannya muncul ketika terjadi usaha penggantian Pancasila dengan komunisme. Bahkan, Pak Ud menjadi tokoh penting di dalam menghadapi gerakan G30S PKI. Kiprah politik Pak Ud terus berlangsung hingga periode akhir dekade 90-an.   Pengasuh Pondok Pesantrenn Tebu Ireng, KH Solahudin Wahid, mengatakan tidak ada wasiat khusus dari Pak Ud. Beliau hanya berpesan agar dirinya meneruskan perjuangan memajukan pondok pesantren Tebu Ireng. ``Supaya Tebu Ireng dipelihara, dirawat, dan dijaga bersama keluarga lainnya,`` kata Salahuddin.   Pada bulan Februari 2006, Solahuddin mengaku dipanggil ke Jombang untuk menemui Pak Ud yang memintanya untuk mau memimpin Tebu Ireng. Bulan April 2006, dia secara resmi mengumumkan kepada publik mundur dari kepemimpinan pesantren dengan alasan kesehatan. Dan, dua bulan kemudian, kepemimpinan pesantren resmi dipegang olehnya.   Ketua PWNU Jawa Timur, KH Ali Maschan Moesa, menyatakan, Nahdlatul Ulama kehilangan kyai besar setelah meninggalnya Pak Ud. Apalagi dia Pak merupakan satu-satunya pendiri NU yang masih tersisa.   Dijelaskannya, dalam soal kebangsaan Pak Ud adalah orang yang sangat mempunyai pemikiran untuk mempertahankan Pancasila sebagai dasar negara. ``Pak Ud sangat jelas sikapnya dalam soal Kebangsaan ini,`` kata Ali Maschan. (rto/tok/uba/Rpblk)  
254
Share :

INFORMASI LAINNYA