Dirjen Bimas Islam : Penerbit Harus Pintar Baca Tren

Selasa, 14 Agustus 2007 11:00

Dirjen Bimas Islam : Penerbit Harus Pintar Baca Tren
Jakarta, 14/8 (Pinmas) - Dirjen Bimbingan Masyarakat Islam Departemen Agama, Prof Nasaruddin Umar mengatakan, penerbit harus pintar membaca tren dari isu yang sedang hangat dibicarakan sehingga dapat langsung mencetak buku mengenai hal tersebut. "Penerbit harus selalu mengetahui isu apa yang paling banyak dibahas dan segera proaktif mencari orang yang mampu menulis isu tersebut," katanya kepada Antara dalam Seminar Nasional "Membangun Jaringan Pemasaran dan Distribusi Buku-Buku Islam" di Jakarta, Selasa. Menurut Nasaruddin, isu yang sedang menjadi tren itu antara lain dapat dilihat dari topik yang sedang banyak dilihat dalam mesin pencari internet seperti "yahoo" dan "google". Ia menuturkan, para penerbit di sejumlah negara maju seperti Amerika Serikat memiliki kemampuan yang baik sehingga dalam hitungan hari telah ada buku yang dicetak dari penerbit di negara tersebut yang membahas mengenai isu yang sedang hangat diperbincangkan di masyarakat. "Jadi hari ini isunya apa dan esoknya sudah terbit. Mereka (penerbit negara maju-red) kerjanya cepat sekali," kata Guru Besar Universitas Islam Negeri itu. Nasaruddin mengungkapkan, salah satu sebab mengapa pencetakan buku yang membahas isu terbaru jarang terjadi di Indonesia karena upah bagi para penulis masih terasa minim sehingga hampir tidak mungkin untuk membiayai keluarga hanya dengan menulis. Ia membandingkan hal tersebut dengan kisah sejumlah pemimpin besar Islam terdahulu yang sangat menghargai jerih payah para penulis, misalnya Khalifah Umar bin Abdul Aziz dari Dinasti Umayyah yang membeli buku sejarawan Ath Thabari hingga 100 Dinar yang merupakan jumlah yang besar pada masa itu. Mengenai masih mahalnya harga buku bagi sebagian masyarakat, ia menyesalkan hal tersebut dan berharap pihak yang mengambil banyak keuntungan dari penjualan buku agar dapat menyadarinya. "Di seluruh kota di Amerika, entah itu di New York, Washington DC, atau Los Angeles, semuanya memiliki harga buku yang relatif sama. Sedangkan di Indonesia, antara buku di Jakarta dan buku di Makassar harganya mungkin bisa berbeda hingga 30 persen," kata Nasaruddin. Seminar yang diselenggarakan Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) itu juga menghadirkan beberapa pembicara antara lain Ketua Umum IKAPI Setia Dharma Madjid, Ketua Dewan Masjid Indonesia Dr Machfud Sidik dan Sekjen Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Muhammad Syakir Sula (ts)
363
Share :

INFORMASI LAINNYA