Menag : Peran Agama Merosot Karena Kalah Cepat dengan Arus Globalisasi

Rabu, 28 Mei 2008 11:00

Menag :   Peran Agama Merosot Karena  Kalah Cepat  dengan Arus Globalisasi
Jakarta, 28/5(Pinmas)--Menteri Agama Muhammad Maftuh Basyuni mengatakan, fenomena yang kita hadapi sekarang, antara lain merosotnya peran agama karena pemimpin dan umat beragama kalah cepat berpacu dengan arus globalisasi, disamping meluasnya penganut sekulerisme. Hal itu diungkapkan Menag pada seminar “Peta Jalan Mewujudkan Ketuhanan Yang Maha Esa dan Kemanusian yang Adil dan Beradab,” di Jakarta, Rabu (28/5). Bagi penganut sekulerisme, kata Menag, agama adalah urusan individu, terpisah dari kehidupan masyarakat dan bangsa, addiinu lillah (agama urusan seseorang ecara vertical dengan Tuhan, sementara Al Waton liljamaah (bangsa adalah urusan masyarakat). Menurut Menag Maftuh, pandangan seperti ini menempatkan agama pada posisi marginal sehingga nilai-ilai etik, moral dan spritual agama kurang mampu memecahkan persoalan bersama, baik dalam konteks lingkungan, kebudayaan, pendidikan, ekonomi dan sebagainya. Keprihatinan terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara seperti itu, kata Menag, menggejala secara umum dan mencakup lapisan masyarakat yang sangat luas. “Keprihatinan itu ditandai dengan lemahnya komitmen kepada norma-norma etika dan moral social dalam kehidupan public,” ucap Menag. Menag berpendapat, pada gilirannya sikap tersebut dapat mendorong tindakan antisocial, seperti nafsu melanggar hukum, vandalisme sebagai nafsu merusak tanpa alasan yang jelas dan pelarian kepada penggunaan kekerasan dalam menyelesaikan perbedaan dan pertikaian. “Tidak heran , jika seiring dengan itu muncul praktik-praktik tidak terpuji dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara,” tegasnya. Menag Maftuh menegaskan, pada situasi seperti ini diperlukan adanya peneguhanan kembali komitmen nasional terhadap moral bangsa. Dan salah satu upaya yang tepat untuk itu adalah penempatan kembali secara terhormat Pancasila sebagai acuan hidup bersama, khususnya yang berlandaskan sila Ketuhanan Yang Maha Esa dan Kemanusian yang adil dan beradab. Komitmen yang harus kita lakukan, kata Menag, adalah memperbaiki kualitas keberagamaan keluarga dan masyarakat secara berimbang, antara kesalehan individu dengan kesalehan social. Memperbaiki ukhuwah atau persaudaraan antara sesama kelompok dan anggota masyarakat. Selain itu, perlu memperbaki aspek kepemimpinan agama dan masyarakat.”Pemimpin agama dituntut memiliki good character dan dapat menjadi teladan yang baik,” kata Menag. Kesungguhan mengamalkan Pancasila secara baik, kata Menag, menjadi modal yang kuat bagi kita menjawab tantangan nasional maupun global yang berlangsung dewasa ini. (ts)
288
Share :

INFORMASI LAINNYA