Menag Ajak Pers Aktif Sosialisasikan SKB Ahmadiyah

Jumat, 27 Juni 2008 11:00

Menag Ajak Pers Aktif Sosialisasikan SKB Ahmadiyah
Jakarta, 27/6 (Pinmas)--Menteri Agama (Muhammad Maftuh Basyuni mengajak jajaran pers untuk turut aktif melakukan sosialisasi Surat Keputusan Bersama (SKB) tentang Ahmadiyah mengingat pers punya peran menyebarluaskan setiap kebijakan pemerintah, khususnya Dep Agama. SKB tersebut merupakan pedoman bagi semua pihak dan masyarakat untuk menyeselesaikan permasalahan Jemaaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) secara damai dengan mengindahkan aturan hukum yang berlaku, kata Maftuh di Jakarta, Jumat. Menag mengemukakan itu dalam pengarahan sekaligus membuka secara resmi orientasi wartawan koodinatoriat Depag di Jakarta, Jumat (27/6). Dijelaskan, SKB tentang Ahmadiyah itu bukanlah intervensi negara terhadap keyakinan seseorang melainkan upaya pemerintah sesuai kewenangan yang diatur undang-undang dalam rangka menjaga dan memupuk ketenteraman beragama dan ketertiban kehidupan masyarakat. Melihat kecenderungan kehidupan beragama yang rentan konflik, ia berharap jajaran pers dapat bertindak arif dan bijaksana serta mengedepankan prinsip-prinsip jurnalisme obyektif, berimbang dan menyejukkan sehingga dapat mendorong dan memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa. Pada kesempatan itu ,ia kembali menyampaikan imbauan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada Hari Pers Nasional (HPN) yang lalu, agar jajaran pers membangun jurnalisme positif, mengajak masyarakat dapat lebih optimis melihat masa depan bangsa. Positive journalism harus dikembangkan agar selalu menumbuhkan optimisme sebagai bangsa. Pada acara yang dihadiri sejumlah pejabat Depag terebut, Maftuh menyatakan bahwa pembinaan agama menghadapi kendala serius karena tidak semua komponen dalam masyarakat dan kekuatan bangsa bergerak ke arah yang sama. Benturan Pendidikan agama di sekolah, sebagai misal, sering tak sejalan dengan muatan pesan yang disampaikan oleh media massa. Terjadi kontradiksi atau benturan nilai yang cukup kuat dalam upaya mengarahkan masyarakat dan bangsa Indonesia agar menjadi bangsa yang maju dan menjunjung tinggi nilai-nilai dan moral keagamaan. Fenomena itu merupakan salah satu konsekuensi bagi bangsa-bangsa yang tertinggal dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi dalam menghadapi percaturan budaya global, katanya. Untuk itu, lanjut dia, perguruan tinggi Islam diharapkan memainkan peran yang lebih besar dalam upaya bangsa ini meningkatkan kualitas pemahaman dan penghayatan agama di kalangan warga masyarakat. Paling tidak setiap perguruan tinggi Islam harus mampu memberikan pencerahan terhadap umat di lingkungan sekitarnya dan memberikan sumbangannya untuk memecahkan masalah sosial keagamaan pada tingkat lokal, nasional dan global. Sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia, Indonesia sangat berkepentingan untuk memperkenalkan Islam sebagai Agama Rahmatan lil Alamin. Sejalan dengan itu , Maftuh merasa berkewajiban untuk menjawab tuduhan zalim yang mengatakan bahwa Islam adalah agama terorisme. Islam dan sebagian besar umatnya mengutamakan kedamaian atas penggunaan kekerasan, berbeda dengan pemberitaan yang disebarkan lewat media yang mengait-ngaitkan Islam dengan tindak kekerasan. Sayangnya di antara umat Islam sendiri terdapat orang-orang yang memberikan reaksi berlebihan terhadap tuduhan tersebut, sehingga timbul kesan bahwa yang dituduhkan itu benar, katanya. "Bukankah Al Qur`an memerintahkan dan mengingatkan kita untuk mengambil sikap dan tindakan yang bijak," ia mengingatkan. (es/ts)
277
Share :

INFORMASI LAINNYA