Zakat merupakan kewajiban ummat Islam

Selasa, 27 Oktober 2015 14:46

Zakat merupakan kewajiban ummat Islam

Mataram Inmas, 27 Oktober 15, Dalam penyampaian Bapak Fuad Nazar M.Sc, pengelolaan zakat harus terkoordinasi karena zakat merupakan ibadah yang mempunyai dimensi transcendental dan horizontal dan memiliki banyak hikmah, baik yang terkait dengan peningkatan keimanan terhadap Alloh SWT mapun peningkatan kualitas hubungan antar sesama manusia. Satu hal yang perlu disadari bersama bahwa pelaksanaan zakat (terutama zakat) bukanlah semata-mata diserahkan kepada kesadaran muzakki, akan tetapi tanggung jawab memungut dan mendistribusikannya dilakukan oleh ‘amilin (Q.S At-Taubah:60 dan 103) Zakat bukan pula sekedar memberikan bantuan yang bersifat konsumtif kepada para mustahik, akan tetapi untuk meningkatkan kualitas hidup para mustahik, terutama fakir miskin. Karena itu, titik berat pembahasan tentang optimalisasi pengumpulan dan pendayagunaan.

Perintah zakat adalah merupakan salah satu perintah yang berulang-ulang disebutkan dalam al-Quran dan kata-katanya dirangkaiakan dengan perintah untuk melaksanakan ibadah shalat. Perintah zakat tersebut yang memakai kata-kata zakat terdapat sebanyak 31 kali, sedangkan yang memakai kata-kata lain yang maknanya adalah zakat terdapat sebanyak 80 kali. Dari 31 kali kata zakat tersebut, 28 Kali kata atau perintah zakat dirangkaikan dengan perintah shalat, satu kali terpisah antara shalat dan zakat.

Agar tujuan pengelolaan zakat tersebut dapat dicapai dan masyarakat dapat dan mau membayarkan zakatnya melalui Badan Amil Zakat, maka perlu dilakukan perubahan paradigma tentang zakat, sehingga dengan demikian konsepsi zakat berubah dari konsepsi yang bersifat statis menjadi konsepsi yang bersifat dinamis dan pada gilirannya akan mendapat perhatian yang cukup dari ummat Islam. Adapun perbedaan yang paling pokok antara Pajak dan Zakat adalah sumber perintah pelaksanaanya, Zakat bersumber dari Al-qur’an sementara Pajak bersumber dari Undang-Undang dan regulasi lain yang merupakan buatan para penyelenggara negara. Sehingga hal ini berdampak pada niat saat membayar. Tanpa bermaksud mengukur kadar keikhlasan, mungkin para Muzakki (pembayar Zakat) lebih ikhlas melakukannya daripada pada Wajib Pajak walaupun kedua pungutan ini sama-sama tidak memberikan imbalan langsung kepada pembayarnya.

Dalam hal ini peran Penyuluh Agama terhadap zakat sebagai substansi dakwah dalam memotivasi ummat agar sadar untuk berzakat karena hikmah dan manfaat berzakat sangat baik bagi masyarakat dan Negara, karena tugas pengelola zakat mengumpulkan, mendistribusikan dan mendayagunakan zakat dan yang terpenting dalam pengelolaan zakat adalah pengawasan terhadap legalitas lembaga terkait dalam pengumpulan pendayagunaan zis sesuai syariah dalam hal pelaporan dan pertanggungjawaban papar kasubdit pengawasan lembaga zakat.

Hal hal yang perlu diperhatikan resiko dalam pengelolaan zakat terkait pemanfaatan dana, tidak ada transparansi, lambatnya respon lembaga tidak sesuai dengan 8 aspek dan tidak ada sarana yang mempermudah. Inilah yang perlu diperhatikan oleh semua penyuluh agama hususnya penyuluh agama yang hadir dalam kegiatan sosialisasi metode penyuluh agama profesional yang diselenggarakan di hotel Lombok Raya yang dihadiri dari 3 Kabupaten (Lombok Timur, Lombok Barat, Lombok Utara dan Kota Mataram).krm

299
Share :

INFORMASI LAINNYA