Ibadah Kurban

Sabtu, 10 September 2016 07:39

Ibadah Kurban

MAN Sumbawa, Inmas _ Bagi muslim, kurban adalah syariat yang ditetapkan Allah SWT. Bahkan, sejak nabi Adam a.s. sudah ada syariat qurban. Hal ini dapat difahami dari kisah Qabil dan Habil, dua putra Nabi Adam a.s. yang bertengkar karena qurban salah satunya tidak diterima. Demikian juga dengan  peristiwa Nabi Ibrahim as. Dan putranya yang bernama Ismail as. Keduanya merupakan hamba Allah yang taat dan sangat pantas untuk diteladani, karena dengan keikhlasannya dalam mengabdikan dirinya kepada Allah SWT.  

Kurban berarti pendekatan diri atau mendekatkan diri. Istilah lain yang biasa digunakan adalah Nahr (sembelihan), dan Udliyyah (sembelihan atau hewan sembelihan). Sedangkan dalam pengertian syariat kurban ialah menyembelih binatang ternak yang memenuhi syarat tertentu yang dilakukan pada Hari Raya (selepas salat hari raya Idul Adha) dan hari-hari Tasyrik yaitu, 11, 12, dan 13 Zulhijjah semata-mata untuk beribadah dan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Kurban hukumnya Sunah Muakad atas orang yang memenuhi syarat-syarat yaitu Islam, merdeka (bukan hamba), baligh lagi berakal, mampu untuk berqurban, kecuali kurban sebagai bentuk nadzar maka itu wajib sebagaimana ibadah-ibadah ketaatan lainnya. Orang yang telah mampu tetapi tidak melaksanakan kurban, tercela dalam pandangan Islam. Mereka beralasan dengan firman Allah SWT, yang artinya :

 “Sesungguhnya Kami  telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak, Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah, Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus (QS. Al-Kautsar: 2).

Dan hadits Nabi saw yang artinya :

Rasulullah SAW telah bersabda “aku diperintahkan menyembelih kurban dan kurban itu sunah bagimu” (HR. Daruqutni).

Sebagian ulama berpendapat bahwa qurban hukumnya wajib. Mereka menggunakan dasar hukum sebagai berikut, yang artinya :

 “Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang memiliki kemampuan, tetapi tidak berkurban, maka janganlah dia menghampiri tempat shalat kami” (H.R. Ahmad)

Didalam Al-Qur’an telah terdokumentasikan secara nyata ketika Nabi Ibrahim as bermimpi menyembelih putranya yang bernama Ismail as. sebagai persembahan kepada Allah SWT. Mimpi itu kemudian diceritakan kepada Ismail as. dan setelah mendengar cerita itu ia langsung meminta agar sang ayah melaksanakan sesuai mimpi itu karena diyakini benar-benar datang dari Allah SWT. Sebagaimana Firman Allah swt.:

???????? ?????? ?????? ????????? ????? ?????????? ?????? ????? ??? ?????????? ?????? ?????????? ???????? ?????? ????? ????? ????????? ??????? ??? ???????? ??????????? ???? ????? ??????? ???? ?????????????

Artinya: “Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelih-mu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" Ia menja-wab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar". (QS. Ash-Shafaat: 102).

Hari berikutnya,  Ismail as dengan segala keikhlasan hati menyerahkan diri untuk disembelih oleh ayahandanya sebagai persembahan kepada Allah SWT. dan sebagai bukti ketaatan  Nabi Ibrahim as kepada Allah SWT,mimpi itu dilaksanakan. Acara penyembelihan  segera dilaksanakan ketika  tanpa disadari yang di tangannya ada seekor domba. Firman Allah SWT yang artinya :

 ”Sesungguhnya  ini benar-benar ujian yang nyata. Dan  Kami tebus anak itu dengan sembelihan yang besar . . .”( QS. Ash-Shafaat: 106 – 107)

Hewan qurban hanya boleh dari kalangan Bahiimatul Al An`aam yaitu hewan yang diternakkan untuk diperah susunya dan dikonsumsi dagingnya yaitu, onta, sapi, kerbau, domba atau kambing. Seekor kambing atau domba hanya untuk kurban satu orang, sedangkan seekor unta, sapi atau kerbau masing-masing untuk tujuh orang.

Sabda Rasululah SAW, yang artinya :

 “Kami telah menyembelih qurban bersama-sama  Rasulullah saw pada tahun Hudaibiyah, seekor unta untuk tujuh orang dan seekor sapi utuk tujuh orang.” (HR.Muslim).

Adapun syarat hewan kurban adalah sebagai berikut  : cukup umur, yaitu : Unta sekurang-kurangnya berumur 5 tahun. Sapi dan kerbau sekurang-kurangnya berumur 2 tahun. Kambing sekurang-kurangnya 2 tahun. Domba sekurang-kurangnya 1 tahun.Tidak dalam kondisi cacat, yaitu : badannya tidak kurus kering, tidak sedang hamil atau habis melahirkan anak, kaki sehat tidak pincang, mata sehat tidak buta atau  cacat yang  lainnya, berbadan sehat wal'afiat, kuping / daun telinga tidak terpotong

Sedangkan waktu yang syah untuk menyembelih hewan kurban adalah pada hari raya Idul Adha, yaitu tanggal 10 Dzulhijjah setelah shalat Idul Adha. Hal ini berdasarkan riwayat dari Al Barra’ bin ‘Asib ra., ia berkata :

 “Rasulullah SAW berkhutbah kepada kami pada Yaumun Nahr ( hari raya qurban ) yaitu setelah shalat, beliau bersabda : “Barangsiapa yang shalat seumpama kami shalat dan menyembelih seumpama kami menyembelih (yaitu setelah shalat), maka sungguh ia telah benar, dan barang siapa yang menyembelih sebelum shalat maka itu daging kambing biasa (bukan qurban)”. (HR. Al Bukhari)


Pada Hari Tasyrik, yaitu tanggal 11, 12, dan 13 bulan Dzulhijjah. Hal ini berdasarkan sabda Nabi Muhammad SAW , yang artinya :

 “Supaya orang-orang yang beribadah haji dapat menyaksikan berbagai macam kebaikan bagi mereka. Agar mereka juga menyebut nama Allah pada hari-hari yang telah ditentukan. Kemudian mereka menyembelih hewan kurban berupa ternak dari rezeki yang Allah berikan kepada mereka…” (QS. Al-Hajj: 28)

 Hari-hari yang telah ditentukan menurut penafsiran Ibnu Abbas adalah hari raya penyembelihan (Idul Adha) dan tiga hari setelahnya.

Hal tersebut juga  berdasarkan  hadits yang artinya :

 Dari Jubair bin Muth’im radhiyallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Salam bersabda: “Setiap hari Tasyriq adalah waktu untuk menyembelih hewan kurban.” (HR. Ahmad dan Al-Baihaqi) . Tempat menyembelih sebaiknya dekat dengan tempat pelaksanaan shalat Idul Adha. Hal ini sebagai sarana untuk syi’ar Islam. Sabda Rasulullah SAW, yang artinya :

 ”Nabi SAW. biasa menyembelih qurban di tempat pelaksanaan shalat Id.” (HR.Bukhori ) Disunnahkan, hewan kurban disembelih sendiri jika Mudlohi ( orang yang berqurban ) itu laki-laki dan mampu menyembelih, sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah  SAW  dalam haditsnya yang berarti :

 ”Dari Anas ra beliau berkata: “Rasulullah SAW berkurban dengan 2 ekor kambing yang putih-putih dan bertanduk, beliau menyembelih dengan tangannya sendiri dengan membaca Basmalah dan Takbir  serta meletakkan kakinya di dekat leher kambing tersebut.”  (HR. Al Bukhari)

Dan apabila pemilik kurban tidak bisa menyembelih sendiri sebaiknya dia ikut datang menyaksikan penyembelihannya

Disyariatkan bagi orang yang berkurban bila telah masuk bulan Dzulhijjah untuk tidak mengambil rambut dan kukunya hingga hewan qurbannya disembelih. Dalam hadits riwayat dari dari Ummu Salamah Radhiyallahu ‘anha, dia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda yang artinya :

“Apabila telah masuk 10 hari pertama (Dzulhijjah) dan salah seorang kalian hendak berqurban, maka janganlah dia mengambil rambut dan kukunya sedikitpun hingga dia menyembelih qurbannya.” (HR. Muslim )

Daging kurban sebaiknya dibagikan kepada fakir miskin masih mentahan, dengan ketentuan sebagai berikut: 1/3 untuk yang berqurban dan keluarganya, 1/3 untuk fakir miskin, dan 1/3 untuk hadiah kepada masyarakat sekita atau disimpan agar sewaktu-waktu bisa dimanfaatkan. Tujuan pembagian ini untuk mengikat tali silaturahmi, dan sebagian untuk dirinya sendiri (yang berqurban).

Allah SWT berfirman, yang artinya :

 “Agar mereka menyaksikan berbagai manfaat untuk mereka dan agar mereka menyebut nama Allah pada beberapa hari yang telah ditentukan atas rezeki yang diberikan Dia kepada mereka berupa hewan ternak. Maka makanlah sebagian darinya dan (  sebagian lagi) berikanlah untuk dimakan oleh orang-orang yang sengsara dan fakir.” (Al-Hajj: 28)

 Juga tindakan Rasulullah SAW yang memakan sebagian dari hewan qurbannya

Penyembelih hewan qurban atau pengurus qurban boleh saja menerima daging qurban sebagian, akan tetapi bukan upah sebagai upah menyembelih atau mengurus. Dalam suatu hadits riwayat  Ali bin Abu Thalib dijelaskan yang artinya :

Dari Ali bin Abu Thalib r.a. dia berkata:  " Rasulullah SAW memerintahkan padaku untuk mengurus unta-unta qurban beliau. Aku menyedekahkan daging, kulit, dan jilalnya (kulit yang ditaruh pada punggung unta untuk melindungi dari dingin). Aku tidak memberi sesuatu pun dari hasil sembelihan qurban kepada tukang jagal. Beliau bersabda, “Kami akan memberi upah kepada tukang jagal dari uang kami sendiri. (H.R. Muslim) "

Demikian pula dilarang menjual daging qurban, sebagaimana dengan sabda Nabi SAW yang artinya :

Janganlah engkau jual daging denda haji dan kurban. Makanlah dan sedeqahlah serta ambillah manfaat dari kulitnya, janganlah engkau jual (kulit itu) "  (HR. Ahmad)

Adapun Cara Penyembelihan Hewan Kurban adalah sebagai berikut :

  1. Hewan yang akan dikurbankan dibaringkan ke sebelah rusuknya yang kiri dengan posisi mukanya menghadap ke arah kiblat, diiringi dengan membaca doa “Robbanaa taqabbal minnaa innaka antas samii’ul ‘aliim.” (Artinya : Ya Tuhan kami, terimalah kiranya qurban kami ini, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.)
  2. Penyembelih meletakkan kakinya yang sebelah di atas leher hewan, agar hewan itu tidak menggerak-gerakkan kepalanya atau meronta.
  3. Penyembelih melakukan penyembelihan, sambil membaca : “Bismillaahi Allaahu Akbar.” (Artinya : Dengan nama Allah, Allah Maha Besar). (Dapat pula ditambah bacaan shalawat atas Nabi SAW. Para penonton pun dapat turut memeriahkan dengan gema takbir “Allahu Akbar!”)
  4. Kemudian penyembelih membaca doa kabul (doa supaya qurban diterima Allah) yaitu : “Allahumma minka wa ilayka. Allahumma taqabbal min …” (sebut nama orang yang berkurban). (Artinya : Ya Allah, ini adalah dari-Mu dan akan kembali kepada-Mu. Ya Allah, terimalah dari…. )

Ibadah kurban selain bertujuan mendekatkan diri kepada Allah SWT dan memperoleh keridaan-Nya, juga sebagai ibadah sosial dengan menyantuni kaum lemah. Daging kurban sebaiknya dibagikan kepada fakir miskin.

Fungsi Kurban antara lain :

  1. Pengamalan dan pelaksanaan perintah Allah SWT.
  2. Mendidik jiwa kearah taqwa dan mendekatkan diri kepada Alah SWT.
  3. Mengikis sifat tamak dan mewujudkan sifat murah hati mau membelanjakan hartanya dijalan Allah SWT.
  4. Menjalin hubungan kasih sayang sesama manusia terutama antara golongan berada dengan golongan yang kurang bernasib baik
  5. Sebagai mediator untuk persahabatan dan wujud kesetiakawanan sosial.
  6. Ikut meningkatkan gizi masyarakat…(joko).

 

3360

INFORMASI LAINNYA