Jual Beli Dalam Islam  

Rabu, 16 November 2016 20:35

Jual Beli Dalam Islam   

 

Jual beli menurut bahasa artinya memberikan sesuatu untuk mendapatkan sesuatu atau tukar menukar sesuatu. Sedangkan menurut istilah berarti tukar menukar barang dengan uang atau barang dengan barang lain disertai ijab qabul dengan syarat dan rukun tertentu.

Melihat realitas jual beli dalam kehidupan moeren, seiring dengan kebutuhan dan tantangan dalam dunia industri perdagangan, syariat Islam harus mampu memberikan solusi untuk menjawab tantangan di masa depan. Maka untuk membumikan kaidah-kaidah Islam  dengan tidak melepaskan kaidah ushul, diperlukan adanya fiqih realitas atau prioritas yang mengedepankan hal yang terpenting dari yang penting.

 Hukum jual beli pada dasarnya adalah halal atau boleh, artinya setiap orang Islam dalam mencari nafkah atau rezeki boleh dengan cara jual beli, berdagang atau boleh dengan cara yang lain yang penting dengan cara yang halal dan baik. Adapun dasar disyariatkannya jual beli sebagai berikut:

  1. Al-Quran, diantaranya:

Artinya: “padahal Allah telah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba”. (QS.Al-Baqarah: 275).

“Kecuali dengan jalan perniagaan yang dilakukan suka sama suka”. (QS. An-Nisa: 29).

 As-sunnah:

Artinya: “Dari Rifa’ah ibn Rafi’ RA. Nabi SAW. Ditanya tentang mata pencaharian yang paling baik, beliau menjawab, ‘Seseorang bekerja dengan tangannya dan setiap jual-beli yang mabrur’.”(HR. Bazzar, hakim menyahihkannya dari Rifa’ah ibn Rafi’)

Maksud mabrur dalam hadits di atas adalah jual-beli yang terhindar dari usaha tipu-menipu dan merugikan orang lain.

  1. Ijma’

Ulama’ telah sepakat bahwa jual-beli diperbolehkan dengan alasan bahwa manusia tidak akan mampu mencukupi kebutuhan dirinya, tanpa bantuan orang lain. Namun demikian, bantuan atau barang milik orang lain yang di butuhkannya itu, harus diganti dengan barang lain yang sesuai.

  Rukun jual beli terdiri atas lima macam yaitu sebagai berikut:

  1. Penjual dan Pembeli

 Syarat penjual dan pembeli

Jual beli dianggap sah apabila penjual dan pembeli memenuhi syarat sebagai berikut:

  • Kedua belah pihak harus sudah baligh, maksudnya baik penjual atau pembeli sudah dewasa
  • Keduanya berakal sehat, orang yang gila dan orang yang bodoh yang tidak mengetahui hitungan tidak sah mengadakan perjanjian jual beli
  • Bukan pemboros, maksudnya orang tersebut tidak suka memubadzirkan barang.
  • Suka sama suka, yakni atas kehendak sendiri, atas kemauannya sendiri tanpa ada paksaan dari orang lain:

Rasulullah saw. bersabda:

Artinya: “Nabi SAW. bersabda: sesungguhnya jual beli itu sah, apabila dilakukan atas dasar suka sama suka” (HR.Ibnu Hibban dan Ibnu Majjah) 

 Barang yang diperjualbelikan

Syarat barang yang diperjualbelikan

Adapun barang-barang yang diperjualbelikan harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut.

  • Suci yaitu barang yang tidak suci atau barang najis seperti khamer, babi, bangkai kotoran, dan sejenisnya tidak sah untuk diperjualbelikan dan hukumnya haram.
  • Bermanfaat yaitu semua barang yang tidak ada manfaatnya bagi kehidupan manusia tidak sah untuk diperjualbelikan, seperti jual beli nyamuk, lalat, kecoa dan sebagainya.
  • Milik sendiri, yaitu barang-barang yang bukan milik sendiri seperti barang pinjaman, barang sewaan, barang titipan tidak sah untuk diperjualbelikan.
  • Barang yang dijual dapat dikuasai oleh pembeli. Oleh karena itu tidak sah jual beli ayam yang belum ditangkap atau jual beli barang merpati yang masih keliaran, dan jual beli ikan yang masih dalam kolam dan sebagainya.

Hadits Nabi SAW:

Artinya: “ Rasulullah saw. bersabda: Janganlah kamu sekalian membeli ikan yang masih dalam air, karena sesungguhnya hal itu adalah mengandung gharar (tipu muslihat, belum jelas)”. (HR.Ahmad)

  • Jelas dan dapat dilihat atau diketahui oleh kedua belah pihak. Penjual harus memperlihatkan barang yang akan dijual kepada pembeli secara jelas, baik ukuran dan timbangannya, jenis, sifat maupun harganya.

Hadits Nabi Saw:

Artinya : “Rasulullah saw. telah melarang tentang jual beli lempar melempar (mengundi nasib) dan jual beli yang gharar (tipu muslihat, masih samar atau belum jelas)”, (HR.Muslim) 

  1. Alat untuk tukar menukar barang

Alat tukar menukar haruslah alat yang bernilai dan diakui secara umum penggunannya.

 Ijab dan qabul

Ijab dilakukan oleh pihak penjual barang dan qabul dilakukan oleh pembeli barang. Ijab qabul dapat dilakukan dengan kata-kata penyerahan dan penerimaan atau dapat juga berbentuk tulisan seperti faktur, kuitansi atau nota dan lain sebagainya.

 Jual Beli Terlarang

Jual beli yang terlarang artinya jual beli yang tidak memenuhi rukun dan syarat jual beli yaitu: Jual beli sistem Ijon

Maksud jual beli system ijon adalah jual beli hasil tanaman yang masih belum nyata buahnya, belum ada isinya, belum ada buahnya, seperti jual beli padi masih muda, jual beli mangga masih berujud bunga. Semua itu kemungkinan bisa rusak masih besar, yang akan dapat merugikan kedua belah pihak. Rasulullah saw. bersabda:

Artinya : “Dari Ibnu Umar Nabi saw. telah melarang jual beli buah-buahan sehingga nyata baiknya buah itu (pantas untuk diambil dan dipetik buahnya)”, (HR.Mutafq ‘alaih) 

  1. Jual beli barang haram

Jual beli barang yang diharamkan hukumnya tidak sah dan dilarang serta karena haram hukumnya. Seperti jual beli minuman keras (khamar), bangkai, darah, daging babi, patung berhala dan sebagainya.

 Jual beli sperma hewan

Jual beli sperma hewan tidak sah, karena sperma tidak dapat diketahui kadarnya dan tidak dapat diterima wujudnya. Rasulullah saw. bersabda:

Artinya: “Rasulullah saw. telah melarang jual beli kelebihan air (sperma)” (HR. Muslim) 

 Jual beli anak binatang yang masih dalam kandungan induknya

Hal ini dilarang karena belum jelas kemungkinannya ketika lahir hidup atau mati. Rasulullah saw. bersabda:

?rtinya: Sesungguhnya Rasulullah saw. melarang jual beli anak binatang yang masih dalam kandungan induknya”(HR. mutafaq ‘alaih)

 Jual beli barang yang belum dimiliki

Maksudnya adalah jual beli yang barangnya belum diterima dan masih berada di tangan penjual pertama. Rasulullah SAW. Bersabda:

Artinya : “Nabi saw. telah bersabda: janganlah engkau menjual sesuatu yang baru saja engkau beli, sehingga engkau menerima (memegang) barang itu “(HR.Ahmad dan Baihaqi).

  1. Jual beli barang yang belum jelas

Menjual buah-buahan yang belum nyata buahnya, Sabda Nabi saw. dari Ibnu Umar ra. :

Artinya : “Nabi saw. Telah melarang menjual buah-buah yang belum tampak manfaatnya” (Muttafaq Alaih).

 

 

 

94
Share :

INFORMASILAINNYA