Menumbuhkan Rasa Empati Dan Sikap Sosial Melalui Kegiatan Mengeluarkan Beras Pelayat

Minggu, 25 Desember 2016 21:43

Menumbuhkan Rasa Empati Dan Sikap Sosial Melalui Kegiatan Mengeluarkan Beras Pelayat

Praya,Inmas _  Di MTsN Janapria, memiliki satu tradisi yang dilakukan ketika salah satu teman, guru, ataupun pegawai yang mendapat musibah. Tradisi ini ialah mengeluarkan beras pelayat. Ketika ada anggota keluarga dari salah seorang siswa-siswi, guru, maupun pegawai yang meninggal dunia, siswa-siswi akan mengeluarkan beras pelayat sebagai tanda bela sungkawa atas musibah yang terjadi. Tradisi ini sebenarnya bukan tradisi yang asing bagi kami. Tradisi ini sebenarnya diadopsi dari tradisi masyarakat setempat yang juga biasa membawa beras ketika pergi melayat.

Jika di sekolah-sekolah lain, kemungkinan siswa-siswinya akan mengeluarkan uang sebagai tanda belasungkawa karena dianggap lebih sederhana dan cepat tetapi kami tetap pada tradisi kami sejak awal yakni dengan membawa beras pelayat. Walaupun berbeda cara dengan sekolah-sekolah lain tetapi tujuannya sama, yaitu untuk membantu meringankan beban keluarga siswa-siswi yang kehilangan anggota keluarganya.  

Menurut H. Athar (pendiri sekaligus ketua komite MTsN Janapria), tradisi melayat ini sudah dilaksanakan sejak sekolah ini di buka. H. Athar menuturkan bahwa tradisi memberikan beras pelayat adalah hal yang positif karena bisa sedikit membantu meringankan beban keluarga siswa-siswi, guru, maupun pegawai yang terkena musibah. Selain itu, kegiatan ini akan menumbuhkan rasa empati dan sikap sosial siswa-siswi madrasah terhadap orang-orang di sekitar mereka.

Di MTsN Janapria, tradisi ini diterima dengan baik dikalangan guru maupun siswa-siswi. Hal ini terbukti jika siswa-siswi mendengar berita duka dari teman-teman mereka, siswa-siswi secara sukarela membawa beras pelayat keesokan harinya. Beras pelayat yang dikeluarkanpun tidak dibatasi. Kami biasa membawa beras seikhlasnya. Pihak sekolahpun tidak pernah memaksa kami untuk mengeluarkan beras pelayat. Beras pelayat yang kami bawa biasanya dikumpulkan dalam karung-karung beras yang sudah disediakan oleh pihak sekolah.

Beras pelayat yang terkumpul biasanya sekitar 4-5 karung, terkadang lebih. Beras yang terkumpul kemudian diserahkan kepada siswa-siswi, guru, maupun pegawai yang terkena musibah. Penyerahan beras pelayat diberikan langsung oleh perwakilan guru dan siswa-siswi yang bertakziah ke rumah duka. Bukan hanya mengeluarkan beras pelayat, namun para guru dan siswa-siswi yang memiliki kesempatan dihimbau untuk ikut sholat jenazah dan mengantarkan jenazah sampai ke pemakaman. Kegiatan ini merupakan salah satu kegiatan untuk menumbuhkan rasa kekeluargaan dan kepedulian terhadap sesama sekaligus kesempatan bagi siswa-siswi khususnya untuk mempraktekkan ilmu yang sudah didapatkan di madrasah. Selain itu, kegiatan ini dilakukan untuk menjaga tradisi di daerah kami agar senantiasa terjaga dan tidak pudar seiring berkembangnya zaman.(Inayah/Ins cancer)

41344
Share :

INFORMASILAINNYA