Luar Biasa, Siswa-Siswi MAN 2 Kota Bima Kembali Terbitkan Buku

Rabu, 29 Maret 2017 07:51

Luar Biasa, Siswa-Siswi MAN 2 Kota Bima Kembali Terbitkan  Buku

Kota Bima ,inmas_ Lagi lagi, siswa-siswi Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Kota Bima berhasil menerbitkan buku. Kali ini karya sastra berbentuk puisi yang merupakan karya dari siswa-siswi MAN 2 Kota Bima . Buku tersebut adalah buku kedua yang dibukukan dan diterbitkan. Buku Antologi Puisi dengan judul “Jendela Tak Berkaca” merupakan kumpulan puisi dengan mengangkat berbagai tema. Sebelumnya, buku pertama hasil karya siswa-siswi MAN 2 Kota Bima berupa Antologi Cerita Pendek dengan judul “Sebuah Janji Untuk Negeri”.    

Menulis adalah sebuah wadah untuk mengaktualisasi diri. Wadah untuk mengekspresikan apa yang ada di hati dan kepala agar dapat membuka mata dunia. Menulis puisi bukanlah hal yang mudah. Terbukti hanya sedikit yang mau dan memiliki skill di bidang ini.

Sebanyak 32 orang siswa-siswi MAN 2 Kota Bima berhasil menorehkan karya puisi miliknya dengan tinta emas sehingga dapat dimuat dalam buku Antologi Puisi tersebut. Berdasarkan keterangan Mar’atus Shalihah, SS, pembina sastra MAN 2 Kota Bima, sebenarnya buku Antologi Puisi “Jendela Tak Berkaca” rencananya akan naik cetak 2 tahun yang lalu, tetapi karena kondisi yang tak memungkinkan sehingga rencana tersebut  terpaksa harus ditunda.

Lebih lanjut pembina sastra menyatakan bahwa buku Antologi puisi “Jendela Tak Berkaca” adalah cermin keberanian mengungkapkan kebenaran. Diksi yang digunakan menunjukkan kekayaan bahasa sampai pada tingkat mustahil dikatakan. Lirik-lirik dalam puisi ini merupakan bentuk kegelisahan yang mesti kita bijaki bersama. Ungkapan jujur dalam bait-bait puisi ini membuka mata dan hati kita untuk belajar bagaimana memaknai hidup. “Buku ini bukan mimpi besar saya sebagai pembina. Buku ini hanya batu loncatan. Sebagai pembina kami  hanyalah jembatan kecil yang dilalui agar sesuatu yang besar dapat dihasilkan. Semoga mereka kelak akan menjadi penulis-penulis hebat yang akan melahirkan tulisan-tulisan yang semakin mencerahkan dan dapat bermanfaat untuk banyak orang. Teruslah menulis, yakinlah suatu saat kalian menjadi pemenang”, ujar guru Bahasa dan Sastra Indonesia sekaligus pembina sastra MAN 2 Kota Bima ini.

Ada 47 judul puisi karya siswa-siswi yang dimuat dalam buku Antologi Puisi “Jendela Tak Berkaca adalah sebagai berikut:

  1. Pengerat oleh Yanik Indriani
  2. Batas Suci oleh Yanik Indriani
  3. Kisah Palsu oleh Fitriatun
  4. Si Kecilku yang Malang oleh Fitriatun
  5. Sebuah Janji oleh Fitriatun
  6. Kedamaian oleh M.Subhan Indra Guntara
  7. Mati oleh M.Subhan Indra Guntara
  8. Bangkit oleh M.Subhan Indra Guntara
  9. Memandang Wajahmu oleh Husnul Ma’rifah
  10. Tanpa-Mu oleh Husnul Ma’rifah
  11. Sepenggal Kisahku oleh Husnul Ma’rifah
  12. Ada yang Hilang oleh Saqia Nurul Ardianti
  13. Perjuangan untuk Negeri oleh Siti Ainun Jariyah
  14. Berpaling Darinya oleh Suci Safira Putri
  15. Detik Terakhir oleh Akmalyah
  16. Piluku Di Atas Lembaran  Putih oleh Iis Jumiarti
  17. Jendela Tak Berkaca oleh Iis Jumiarti
  18. Sujud Terakhirku oleh Iis Jumiarti
  19. Antara Malam dan Mimpi oleh Iis Jumiarti
  20. Lelaki Terhebatku oleh Haerunnufus
  21. Apa Itu Cinta? Oleh Haerunnufus
  22. Ada yang Hilang oleh Amikratunnnisyah
  23. Ayah oleh Nurul Baitullah
  24. Menanti Senja oleh Samiatun Nikmat Juliandari
  25. Terpuruk oleh Lilis Milasari
  26. Penantian Cinta oleh Mar’atus Shalihah
  27. Pengorbanan oleh Dinda Aulia Riska
  28. Pengorbananmu oleh Husnal Ula
  29. Ia Telah Lupa oleh Rindang Tri Madani
  30. Dekapan Hampa oleh Rindang Tri Madani
  31. Jalan Jauh Anakku oleh Ruwaidah Anwar
  32. Aku dan Penyesalanku oleh Ruwaidah Anwar
  33. Negeri Ini Negeri Kita oleh Ruwaidah Anwar
  34. Aku oleh Nuranisah
  35. Surat Cinta untuk Mama oleh Sahrullah
  36. Aku Tak Berbeda oleh Sahrullah
  37. Jejak Kaki yang Tak Terbatas oleh Afidatul Aliyah
  38. Rindu untuk Ayah oleh Santi julianti
  39. Cahayaku oleh M. Ainul Basyirah
  40. Yang Kurindukan oleh Hijriati
  41. Berbeda oleh Nurfikayati
  42. Kau Surgaku oleh Duli Qurratu A’yun
  43. Gumpalan Asap oleh Nur Ayu Annisah
  44. Suara Calon Penghuni Neraka oleh Rahmiatun
  45. Pemilik Hati yang Lapang oleh Than Tie Amirah
  46. Bunda oleh Ita Sopiawati
  47. Biarkan oleh Nurul Baitullah

Yanik Indriani, siswi kelas XII IPA 3 dengan 2 judul puisi yakni: Pengerat dan Batas Suci mengaku belajar menulis secara otodidak, apalagi di saat SD ada mata pelajaran muatan lokal. Ia juga pernah mendapatkan penghargaan khusus dari Walikota Bima ketika membawakan pidato bahasa Inggris di kantor Walikota Bima. Saat duduk di bangku MTsN 1 Kota Bima, kegiatan yang berkaitan dengan kepenulisan sempat vakum. Setelah bersekolah di MAN 2 Kota Bima, ia  mulai menulis puisi. Apalagi pembinaan sastra di MAN 2 Kota Bima sungguh luar biasa. Bakat alaminya semakin terasah. Siswi yang bercita-cita menjadi dokter dan peneliti bidang Kimia ini berpesan kepada teman-teman seusianya bahwa jangan pernah malu selama masih ada dalam lingkup yang baik.

Husnul Ma’rifah, siswi kelas XII IPA 4 dengan 3 judul puisi yakni: Memandang Wajahmu, Tanpa-Mu dan Sepenggal Kisahku ini adalah pengagum berat penulis Tere Liye. Di saat SD, ia tak punya pengalaman terkait dunia kepenulisan, hanya membaca puisi di depan kelas. Awalnya ia belajar menulis karena terpaksa dikarenakan tugas-tugas sekolah pada mata pelajaran  Bahasa dan Sastra Indonesia di bawah bimbingan Mar’atus Shalihah. Bakat alaminya pun kian terasah. Ia berpesan kepada teman-teman yang suka menulis bahwa menulis itu suatu kebutuhan. Menulis adalah bekerja untuk keabadian seperti yang dinyatakan oleh Pramoedya Ananta Toer, “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian”.  (Nurrosyidah Yusuf)

291
Share :

INFORMASI LAINNYA