Mari Kita Mengikuti Perjuangan Para Pahlawan Pendahulu

Jumat, 10 November 2017 15:56

Mari Kita Mengikuti Perjuangan Para Pahlawan Pendahulu

Mataram _ Inmas, Amanat Menteri Sosial pada upacara peringatan Hari Pahlawan 10 Nopember 2017 di bacakan oleh Kepala Kanwil Kemenag NTB diwakili oleh kepala Bagian Tata Usaha H. Sirojudin yang menyampaikan bahwa seluruh bangsa Indonesia memperingati Hari Pahlawan para pendiri Rebuplik Indonesia mereka, segenap pemikiran mereka lakukan untuk menjadikan kemerdekaan sebagai jembatan emas bagi terwujudnya Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Upacara dilaksanakan dihalaman Kantor Wilayah Kemenag NTB Jum’at ( 10/11-2017 )  dihadiri seluruh karyawan karyawati Lingkup Kanwil Kemenag NTB.

Kepala Kabag TU H. Sirojudin mengatakan  bahwa peristiwa 10 Nopember 1945 merupakan sebuah peristiwa yang memperlihatkan kepada dunia internasional bahwa rakyat Indonesia dari berbagai ras/suku, agama, budaya serta berbagai bentuk partikularisme bersama-sama melebur menjadi satu untuk berikrar menyerahkan jiwa raganya untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Bung Karno sebagai perintis kemerdekaan Indonesia menyatakan atas dua hal harapan dan pengorbanan yaitu agar RI tetap berdiri tegak dan penting sebagai persaudaraan umat manusia di dunia, kemudian “harapan” Rebuplik Indonesia ketika diploklamirkan dengan keberanian, tekad, pemikiran orisinil tentang kehidupan bernegara tertuang dalam Pancasila dan UUD 1945 dan pengorbanan maka rakyat Indonesia menikmati kemerdekaannya.

Selanjutnya H. Sirojudin mengatakan bahwa pada saat itu memproklamirkan kemerdekaan merupakan sebuah modal tak ternilai dan tidak kasat mata dan sebuah harapan yang menimbulkan optimisme hidup untuk membuka terang kehidupan dimasa depan, mengantarkan rakyat Indonesia kedepan pintu kemerdekaan yang bersatu berdaulat, adil dan makmur. Saat ini harapan akan masa depan yang lebih baik ditambahkan pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Wapres HM. Yusuf Kala melalui sebuah visi transformative yakni “ terwujudnya Indonesia yang berdaulat, mandiri dan berkepribadian berlandaskan gotong royong”.

Lebih lanjut dikatakan visi tersebut merupakan agenda prioritas pemerintah kedepan yang disebur NAWA CITA. Kesembilan agenda prioritas kedalam tiga ranah : Ranah Mental cultural, material (ekonomi), politik ketiga ranah tersebut pemerintah saat ini berusaha melakukan perubahan secara akseleratif, berlandaskan prinsip-prinsip Pancasila dan UUD 1945. Ranah ini dibedakan tapi tak dapat dipisahkan satu sama lain secara sinergis.

Republik Indonesia atas Rahmat Allah dapat  terus menikmati kemerdekaannya .Para pahlawan pendahulu mengajarkan kepada kita bahwa kehidupan bernegara RI bisa terwujud dan menjadi lebih baik dan kita mau berkorban, ulama Sufi mengatakan  ketaqwaan dan hidup berkah dibawah lindungan Allah meluruhkan ego personal dan kepentingan kelompok meleburkan kita kepada sang Khalik.

H. Sirojudin mengajak untuk ikut perjuangan Bung Tomo yaitu membakar semangat juang pada peristiwa 10 Nopember 1945. KH. Hasyim Asy’ari mengeluarkan fatwa Resolusi Jihad untuk mempertahankan kemerdekaan dalam cinta tanah air. Pada 28 Oktober 1928 seluruh pemuda meluluhkan ego-ego, kedaerahan, kelompok dan golongan berikrar satu tanah air Indonesia selaras perjuangan RA Kartini yang memberikan pendidikan modern, sebelum Sumpah Pemuda memberikan semangat pada Wage Rudolf, Supratman menggerakkan seorang keturunan Tionghoa bernama Kwee Kek Beng menjadi pemimpin redaksi Koran Sin Po yang menjadi Koran pertama yang berani memuat teks Indonesia Raya dengan ancaman kolonial Belanda.

Keteladanan untuk membangun yang menggerakkan pemuda Kristen asal Ambon bernama Johannes Leimena meninggalkan partikularitas menjadi bagian dari bangsa Indonesia, KH. Wahab Hasbullah pada tahun 1934 mengumandangkan kecintaan terhadap tanah air Indonesia bagian dari iman, Arek-arek Suroboyo dengan semangat solidaritas bela rakrat Indonesia mempertahankan kemerdekaan RI,  Tanggal 18 Agustus 1945 pendiri RI yakni KH. Wahid Hasjim, Kasman Singodimejo, Ki Bagoes Hadikusumo dan Tengkoe Muhammad Hasan dengan Muhammad Hatta memberikan sumbangan besar “merubah sila pertama menjadi Ketuhanan YME’ dengan lapang hati.

Di akhir sambutannya H. Sirojudin mengajak pula bahwa kita mewarisi sebuah konsepsi, etos dan tindak perilaku kepahlawanan yang tinggi, perjuangan membangun bangsa dengan  sikap mental yang positif yaitu membangun sebuah bangsa yang merdeka, maju, berdaulat dan terbuka, revolusi yang positif, optimis sebagai bangsa yang merdeka berdaulat dan terbuka, menyelami persoalan dan tantangan persatuan kesetaraan seluruh anak bangsa tanpa dikriminasi.  Muhamad……..

 

 

 

 

 

12
Share :

INFORMASI LAINNYA