Upacara Bendera Peringatan R.A Kartini

Rabu, 25 April 2018 12:19

Upacara Bendera Peringatan R.A Kartini

Inmas_MAN 1 Sumbawa, Dalam rangka memperingati Hari Kartini , Kantor Kecamatan Moyo Hilir menggelar Upacara Bendera , dan para petugas para Ibu-ibu yang dihadiri seluruh instansi tingkat kecamatan  Moyo Hilir,  Kepala Desa  beserta  PKK Desa,  Kepala  Sekolah  /  Madrasah   / Toga / Tokoh  Perempuan,  Tokoh  Pemuda,  anak2  sekolah  yg petugasnya  semua  dari  Ibu - ibu  PKK Kecamatan  digabung  PKK  Desa  dan  Karyawan / karyawati  UPT   PKM. Upacara dilaksanakan di halaman  Kantor  Camat  Moyo  Hilir  dan  bertindak  selaku  Pembina  upacara  Ketua TP-PKK Kecamatan Moyo Hilir Ibu Siti Aisyah Amiruddin, Sabtu 21 /04/2018.

Tokoh wanita satu ini sangat terkenal di Indonesia. Dialah Raden Ajeng Kartini Djojo Adhiningrat atau dikenal sebagai R.A Kartini, yang dikenal sebagai salah satu pahlawan nasional yang sangat gigih memperjuangkan emansipasi wanita Indonesia semasa hidupnya. R.A Kartini lahir pada tanggal 21 April tahun 1879 di Kota Jepara, Hari kelahirannya itu kemudian diperingati sebagai Hari Kartini dengan maksud untuk menghormati jasa RA Kartini pada bangsa Indonesia. 

RA Kartini lahir di tengah-tengah keluarga bangsawan oleh sebab itu ia memperoleh gelar R.A (Raden Ajeng) di depan namanya. Gelar itu sendiri (Raden Ajeng) dipergunakan oleh Kartini sebelum ia menikah, jika sudah menikah maka gelar kebangsawanan yang dipergunakan adalah R.A (Raden Ayu) menurut tradisi Jawa. Ayahnya bernama R.M. Sosroningrat, putra dari Pangeran Ario Tjondronegoro IV, seorang bangsawan yang menjabat sebagai Bupati Jepara, yang merupakan merupakan kakek dari R.A Kartini. Ayahnya R.M. Sosroningrat merupakan orang yang terpandang sebab posisinya ketika  itu sebagai Bupati Jepara sewaktu  Kartini dilahirkan. Ibu kartini yang bernama M.A. Ngasirah,  merupakan anak seorang Kiai atau Guru Agama di Telukawur kota Jepara. Menurut sejarah, Kartini merupakan keturunan dari Sri Sultan Hamengkubuwono VI, bahkan ada yang mengatakan bahwa garis keturunan ayahnya berasal dari kerajaan Majapahit.

Ibu R.A Kartini yaitu M.A. Ngasirah sendiri bukan keturunan bangsawan, melainkan hanya rakyat biasa saja, oleh karena itu peraturan kolonial Belanda ketika itu mengharuskan seorang Bupati untuk menikah dengan bangsawan juga, hingga akhirnya ayah Kartini kemudian mempersunting seorang wanita bernama Raden Adjeng Woerjan yang merupakan seorang bangsawan keturunan langsung dari Raja Madura ketika itu.

R.A Kartini sendiri memiliki saudara berjumlah 10 orang yang terdiri dari saudara kandung dan saudara tiri. RA.Kartini sendiri merupakan anak kelima, namun merupakan anak perempuan tertua dari 11 bersaudara. Sebagai seorang bangsawan, R.A Kartini juga berhak memperoleh pendidikan.

Mengenai riwayat pendidikan RA Kartini, dahulu ayahnya menyekolahkan Kartini kecil di ELS (Europese Lagere School). Disinilah Kartini kemudian belajar bahasa Belanda dan bersekolah disana hingga  berusia 12 tahun sebab menurut kebiasaan ketika itu bahwa anak perempuan harus tinggal dirumah untuk 'dipingit'.

Meskipun berada di rumah, R.A Kartini aktif dalam melakukan korespondensi atau surat-menyurat dengan temannya yang berada di Belanda sebab RA.Kartini   fasih dalam berbahasa Belanda. Dari sinilah kemudian, Kartini mulai tertarik dengan pola pikir perempuan Eropa yang ia baca dari surat kabar, majalah serta buku-buku hingga akhirnya  RA.Kartini  mulai berpikir untuk berusaha memajukan perempuan pribumi sebab dalam pikirannya kedudukan wanita pribumi masih tertinggal jauh atau memiliki status sosial yang cukup rendah ketika itu.

R.A Kartini banyak membaca surat kabar atau majalah-majalah kebudayaan Eropa berbahasa Belanda yang menjadi langganannya . Pada usianya yang ke 20, RA.Kartini bahkan banyak membaca buku-buku karya Louis Coperus yang berjudul De Stille Kraacht, karya Van Eeden, Augusta de Witt serta berbagai roman-roman beraliran feminis yang kesemuanya berbahasa Belanda pula, selain itu RA.Kartini juga membaca buku karya Multatuli yang berjudul Max Havelaar dan Surat-Surat Cinta.

Demikian sepintas sejarah mengenai RA.Kartini yang perlu kiranya untuk diketahui dan sudah selayaknyalah untuk tetap diperingati setiap tahunnya untuk mengenang jasa-jasanya terhadap emansipasi kaum wanita. 

Selanjutnya dalam rangka memperingati Hari Kartini dilaksanakan lomba menyanyikan lagu Kartini dan Mars PKK yang dilaksanakan selama 2 hari dari tgl 16-17 April 2018 bertempat  di Kantor  Camat. Peserta dalam lomba kali ini terdiri dari 10 desa dalam wilayah kecamatan Moyo Hilir . Untuk pemenangnya dari Juara I s/d juara Harapan III. Sedangkan untuk  lomba kreasi tumpeng bahan lokal non beras dilaksanakan hari Rabu pagi (25/04/2018) dan telah disiapkan dari rumah oleh 10 desa dalam wilayah kec Moyo Hilir. Adapun pemenangnya  dari juara I s/d III dan 1 Juara favorit

 

 

184
Share :

INFORMASI LAINNYA

Kamis, 01 Januari 1970 07:00