Rindu Literasi Perpustakaan Sekolah

Kamis, 27 Juni 2019 10:50

Rindu Literasi Perpustakaan Sekolah

Rindu Literasi Perpustakaan Sekolah

Oleh: Kurniawan, S.Pd Guru MAN 1 Sumbawa

Perpustakaan menjadi salah satu prasarana yang dibutuhkan dan penting untuk dihadirkan pada lingkungan pendidikan. Sekolah yang memiliki perpustakaan dapat menfasilitasi kepentingan guru untuk kebutuhan para siswa. Seorang guru tidak perlu lagi bersusah payah menjadi sumber informasi tunggal.


Adanya perpustakaan memberi kemudahan bagi para guru memberi kesempatan kepada siswa mengeksplorasi konsep materi yang diajarkan atau yang ditugaskan. Oleh karena demikian, keberadaan perpustakaan mengefektifkan pembelajaran kekinian Abad 21, yang menekankan filosofi student centered learning. 


Sisi lain, harapan tak selamanya berbanding lurus terhadap keberadaan perpustaakaan. Ada sekolah yang telah memiliki perpustakaan (skala kecil, sedang atau pun besar), namun sebagian guru belum mampu mengarahkan siswa untuk menikmati fasilitas tersebut. Ada pula guru yang memanfaatkan perpustakaan, tetapi belum diketahui sejauh mana pemahaman siswa dalam memanfaatkan bahan bacaan yang ditugaskan.


Oleh karena perpustakaan menjadi tolok ukur wawasan yang dimiliki siswa pada sekolah tersebut. Pernyataan itu membawa kita untuk mengingat pada slogan yang populer yakni “Buku (Perpustakaan) Merupakan Jendela Dunia”.


Contoh kasus yang demikian telah ‘mengusik’ pemerintah sehingga memberi perhatian untuk mengatasinya. Hadirlah suatu program pemerintah yang menggunakan istilah literasi. Istilah ini mengubah kebiasaan negatif bangsa Indonesia yang cenderung menjadi pembaca secara reseptif. 


Aktivitas yang demikian harus ditinggalkan karena literasi mendorong seseorang memiliki kemampuan membaca dan menulis agar mampu memberikan informasi kepada orang lain, bukan hanya untuk dirinya dan tidak dilakukan secara oral. Aspek produktif sangat ditonjolkan dalam konsep literasi yang dicanangkan pemerintah.


Kaitanya dengan lingkungan sekolah, ada istilah literasi perpustakaan. Literasi yang mengharuskan guru membantu siswa untuk mengolah informasi dan membagi wawasan yang diperoleh melalui berbagai media secara tertulis. Bukan hanya memeriahkan perpustakan dan/atau menyelesaikan tugas yang hanya dilaporkan pada gurunya. Akan tetapi, siswa harus bertanggung jawab menyadari bahwa perpustakaan sebagai sistem pengolahan informasi yang dituangkan kembali. Buku pelajaran maupun nonpelajaran yang dibaca sesuai arahan guru dapat dijadikan bahan informasi untuk dibagikan secara tertulis kepada siswa lain maupun orang lain. Jika demikian, konsep literasi perpustakaan sekolah menekankan pada siswa sebagai pembaca dan penulis. 


Kerinduan terhadap siswa yang menjadi pembaca dan penulis perlu diwujudkan. Gagasan tersebut perlu diimplementasikan secara nyata dengan melibatkan pustakawan, guru (wali kelas), dan kepala sekolah. Ketiganya memiliki andil membawa siswa untuk menyuksesan program literasi kepustakaan sekolah.


Pustakawan membuat program wajib bagi siswa dalam setiap semester untuk mengulas kepustakaan (buku-buku) secara tertulis dan membantu mempublikasikannya pada media massa (cetak maupun daring). 


Perihal itu, pustakawan dapat menjalankan langkah-langkah konkret. Pertama, menyusun agenda wajib literasi perpustakaan dengan menjadwalkan siswa pada kelas tertentu setiap pekan, bekerja sama dengan wali kelas dan guru mata pelajaran. Kedua, pustakawan memastikan ketersediaan buku dalam menunjang literasi perpustakaan sekolah. Ketiga, pustakawan telah memiliki akses untuk publikasi tulisan siswa melalui dinding informasi, media cetak, dan daring.


Sedangkan guru (wali kelas) dapat merencanakan kegiatan pembelajaran yang mewajibkan siswa untuk mengembangkan gagasan tertentu (menyesuaikan materi) dengan memanfaatkan perpustakaan dan memberikan apresiasi terhadap siswa. Upaya guru dapat dikonkretkan berikut ini. 


Pertama, guru (wali kelas) dapat menyesuaikan agenda yang disusun pustakawan dengan kegiatan pembelajaran untuk keterlibatan siswa dalam literasi perpustakaan. 


Kedua, guru (wali kelas) sudah menentukan materi yang dijadikan literasi perpustakaan dan bekerja sama dengan pustakawan dalam menyediakan bahan bacaan. 


Ketiga, guru (wali kelas) mengapresiasi laporan (sejenis artikel dan sejenisnya) yang dikerjakan siswa dengan memberi bobot penilaian yang tinggi (Penilaian Harian) dan bekerja sama dengan pustakawan untuk menerbitkan tulisan yang dianggap layak.


Sementara itu, kepala sekolah sebagai pimpinan tertinggi memiliki peran untuk memantau pelaksanaan literasi perpustakaan sekolah. Peran secara konkret kepala sekolah sebagai berikut. Pertama, kepala sekolah dapat menganggarkan kebutuhan bahan bacaan yang dianggap perlu berdasarkan informasi dari pustawan dan guru. Kedua, kepala sekolah dapat memberikan hadiah pembinaan pada akhir semester bagi siswa yang berhasil mempublikasikan tulisan.


Literasi perpustakaan sekolah bukan hanya dijalankan salah satu pihak. Siswa sebagai sasaran dari program tersebut harus didukung sepenuhnya dari kepala sekolah, guru, dan pustakawan. Peran ketiganya berdampak besar terhadap perubahan pola lama yang hanya menyimpan informasi. Bergeser pada pengolahan informasi dengan menyampaikan secara tertulis pada ruang publik. Ketika siswa menjadi pembaca sekaligus penulis, maka gagasannya dapat dibaca oleh orang lain dan memungkinkan secara persuasi agar berbuat yang sama …..Joko


114
Share :

INFORMASI LAINNYA