Libur Sekolah: Waktunya Guru Berhibernasi

Rabu, 03 Juli 2019 12:31

Libur Sekolah: Waktunya Guru Berhibernasi

Libur Sekolah: Waktunya Guru Berhibernasi

 Oleh: Kurniawan,S.Pd

Guru MAN 1 Sumbawa

Aktivitas seseorang terhadap berbagai bidang pekerjaan yang digeluti akan mencapai kulminasi. Pada saat itu, seseorang perlu melakukan pemulihan psikis dan fisik sehingga dapat kembali 100%. Tubuh manusia tak ubahnya sebagai sebuah mesin yang butuh untuk diistirahatkan. Seberapa maksimal usaha yang dilakukan, maka perlu untuk meluangkan waktu mengaso. Pola rehat dapat memberi dampak besar dalam membangkitkan kinerja seseorang terhadap tugas yang diamanahkan.

Konsep itu berlaku pula terhadap seseorang yang menggeluti profesi sebagai guru. Guru yang diamanahkan sebagai seorang pengajar dan pendidik telah memainkan peran yang sangat vital pada dunia perndidikan. Oleh karena peranan yang diemban sehingga manajemen lingkungan pendidikan mengatur aktivitas seorang guru. Kita secara saksama dapat mencermati kelender pendidikan yang memberi gambaran implisit pengaturan kegiatan bagi guru. Berdasarkan kelender, seorang guru beraktivitas selama ± 6 (enam) bulan per semester. Namun, ada beberapa pekan tertentu pada akhir semester yang memberikan kesempatan seorang guru untuk rehat dari interaksi mengayomi siswa.

Jeda pada akhir semester sebelum melanjutkan pada semester berikutnya harus dijadikan kesempatan yang berharga bagi seorang guru. Manajemen kegiatan selama libur menjadi sesuatu yang wajib untuk diperhatikan. Jangan jadikan waktu libur untuk menambah pekerjaan yang tak seharusnya. Seorang guru haruslah fokus pada dunia yang digelutinya. Oleh sebab itu, jadwal rehat tidak dipergunakan di luar konteks bersantai dan kesiapan sebagai tenaga pengajar dan pendidik pada semester berikutnya.

Manajemen waktu libur yang dapat dilakukan seorang guru dengan memperhatikan banyaknya pekan. Misalnya, secara umum liburan akhir semester selama 2 (dua) minggu. Pekan pertama dan kedua harusnya memiliki perlakukan berbeda sehingga seorang dapat memaksimalkan waktu libur untuk istirahat dan menyiapkan diri pada semester selanjutnya. Gagasan yang dapat dipertimbangkan untuk minggu pertama (sementara minggu kedua akan diulas pada tulisan berikutnya) dengan cara hibernasi.

Hibernasi harus dipahami melalui keluasan makna agar tidak keliru membaca ide ini. Pada dasarnya hibernasi untuk menggambarkan situasi hewan dalam menyiapkan perubahan situasi. Misalnya, ketika sekelompok beruang menyadari beratnya musim dingin yang akan dihadapi sehingga perlu menghemat energi.

Sebelum masa hibernasi, seekor hewan ternyata bekerja keras menyiapkan cadangan energi. Konsep hibernasi berdasarkan penjabaran di atas, sebenarnya dapat diterapkan pula oleh seorang guru untuk menyiasati aktivitas minggu pertama liburan di akhir semester.

Setuju atau tidak setuju terhadap gagasan tersebut, semuanya opsi dapat dibenarkan. Akan tetapi, perihal yang perlu dipahami bahwa hibernasi merupakan penurunan aktivitas dibandingkan kegiatan sebelumnya. Seorang guru ketika waktu libur, tidak perlu melakukan aktivitas seperti kegiatan belajar mengajar (KBM) yang menguras energi. Adapun kegiatan yang dapat dilakukan pada pekan pertama cenderung diisi aktivitas yang ringan, seperti: bersama keluarga kecil, berlibur, silaturahmi dengan keluarga besar dan tetangga/masyarakat sekitar, meningkatkan hubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, dan sebagainya.

Inilah yang dikategorikan istirahat untuk menurunkan tensi psikis dan fisik yang cukup terkuras selama ± 6 bulan menjadi seorang guru. Oleh karena demikian, waktu libur sebagai upaya penyegaran diri terhadap aktivitas sebelumnya yang terasa berat.

Adanya waktu libur dapat memberi kesempatan seorang guru mulai mengurangi ketegangan. Interaksi guru kepada siswa menciptakan perhatian yang besar terhadap kesuksesan yang harus diraih. Dalam usaha mengurangi hal itu, waktu terbaik tidak diperoleh pada setiap hari Minggu atau tanggal merah, melainkan saat libur akhir semester setelah pembagian rapor siswa. Adanya jadwal libur yang diberikan dapat membantu menurunkan aktivitas padat yang dijalankan saat berada di kelas.

Jadwal liburan yang tertera pada kalender pendidikan haruslah disambut gembira dan dimanfaatkan secara maksimal. Intensitas pekerjaan perlu dibatasi dengan adanya waktu tertentu untuk dijadikan jeda. Tubuh, jiwa, dan otak tidak dipaksa bekerja terus-menerus agar menghindari kerusakan pada diri. Jika hal itu dilaksanakan, berdampak pada kebugaran dan memberi kekuatan serta semangat untuk bekerja lebih giat lagi. Jika itu diterapkan, seorang guru saat memulai semester selanjutnya dapat dijumpai menjadi pribadi yang terbuka dengan sikap positifnya.

 

95
Share :

INFORMASI LAINNYA