Itsbat Nikah membludak ( menjadi PR)

Selasa, 30 Juli 2019 21:52

Itsbat Nikah membludak ( menjadi PR)

Opini

Oleh Lalu Usman Aly,S.Ag(Penghulu KUA Kec.Batukliang)

Hari ini Selasa (30/7/2019) baru saja terjadi perbincangan hangat tentang membludaknya kasus Itsbat Nikah di group WhatsApp Asosiasi Penghulu Republik Indonesia (APRI NTB ), sebuah group profesi yang menyatukan dan menjadi wadah komunikasi seluruh Penghulu yang ada di wilayah Nusa Tenggara Barat.

Itsbat Nikah pada hakikatnya menjadi solusi bagi pernikahan yang sudah dilangsungkan namun karena beberapa faktor pasangan tersebut tidak memiliki buku nikah atau dengan kata lain pernikahan mereka belum tercatat di KUA.

Isbat  Nikah adalah cara yang dapat ditempuh oleh pasangan suami istri yang telah menikah secara sah menurut hukum agama untuk mendapatkan pengakuan dari negara atas pernikahan yang telah dilangsungkan oleh keduanya beserta anak-anak yang lahir selama pernikahan, sehingga pernikahannya tersebut berkekuatan hukum.

Berikut ini kami kutip bunyi Pasal 7 Instruksi Presiden No. 1 Tahun 1991 tentang Penyebarluasan Kompilasi Hukum Islam (“KHI”) yang memuat  tentang ketentuan dalam kasus apa saja Itsbat Nikah bisa diajukan, 


(1)      Perkawinan hanya dapat dibuktikan dengan Akta Nikah yang dibuat oleh Pegawai Pencatat Nikah.
(2)      Dalam hal perkawinan tidak dapat dibuktikan dengan Akta Nikah, dapat diajukan Itsbat Nikahnya ke Pengadilan Agama.(3)      Itsbat nikah yang dapat diajukan ke Pengadilan Agama terbatas mengenai hal-hal yang berkenaan dengan :

a.   Adanya perkawinan dalam rangka penyelesaian perceraian;

b.    Hilangnya akta nikah;

c.  Adanya keraguan tentang sah atau tidaknya salah satu syarat perkawinan;

d. Adanya perkawinan yang terjadi sebelum berlakunya Undang-Undang No. 1 Tahun 1974;

e. Perkawinan yang dilakukan oleh mereka yang tidak mempunyai halangan perkawinan menurut Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974.

 

Kenyataan yang tidak mengenakkannya setiap tahun  kasus Itsbat Nikah selalu  besar volumenya, sehingga  menjadi bahan  yang menarik untuk di diskusikan dan dicarikan solusinya.

Kenyataan ini  sesuai dengan data  yang diposting oleh salah satu anggota group Haji  Suparman,S.Ag ,salah seorang penghulu senior di KUA Kecamatan Praya Lombok Tengah, yang menginformasikan bahwa menurut data yang  diperoleh dari  Pengadilan Agama Praya telah tercatat 600 lebih  kasus Itsbat Nikah.

Merujuk dari kenyataan ini  merupakan angka yang tidak sedikit dan bahkan angka ini masih sangat mungkin bertambah karena tahun 2019 baru berjalan semester pertama.

Maka mau tidak mau semua institusi yang berkaitan dengan masalah ini harus menanggapi dengan serius, adapun permasalahan utama dan pertama muncul ketika angka itsbat terlalu tinggi adalah ketersediaan stok buku nikah, berdasarkan pengalaman penulis dari tahun yang telah lewat itsbat massal yang sudah memiliki putusan maupun Itsbat Nikah yang diajukan  secara mandiri , tidak semua bisa  di akomodir oleh KUA masing masing kecamatan , dengan alasan yang rasional.

Untuk difahami oleh masyarakat dan pihak terkait di luar Kementerian Agama bahwa droping Buku Nikah dari kanwil  Kemenag Provinsi ke Kemenag Kabupaten /kota selalu merujuk kepada volume peristiwa nikah tahun lalu dengan ditambah prosentase kenaikan tidak lebih dari 5 %. Adapun stok buku nikah untuk mengakomodir itsbat nikah harus melalui prosudur pengajuan proposal dari Kemenag  kabupaten ke Kanwil Kemenag Provinsi terkait kebutuhan stok tambahan guna memenuhi kebutuhan buku nikah khusus untuk kasus itsbat, dan untuk difahami juga bahwa proposal inipun tidak serta merta bisa dipenuhi oleh pihak Kanwil Kemenag Provinsi , karena ini harus difollow up lagi ke tingkat pusat.

berdasarkan keterangan dari Bapak Ali Sahbana, M.Sy. (mantan Kasi Hulu) menyebutkan bahwa pusat sesungguhnya tidak pernah menganggarkan untuk pengadaan buku nikah untuk jumlah itsbat nikah yang terlalu besar. Maka solusi sementara yang bisa ditempuh adalah mengeluarkan buku nikah dari kasus itsbat secara bertahap agar tidak mengganggu kebutuhan buku nikah yang reguler, demikian beliau sampaikan via pesan singkatnya.

Maka Semestinya kenyataan  ini bisa menjadi bahan   pertimbangan untuk duduk bersama mencari solusi yang paling tepat dan efektif guna mengantisipasi persoalan yang sama, yang pasti terulang kembali di tahun depan. Sehingga  masalah yang  muncul akibat tingginya angka itsbat sudah diantisipasi lebih awal, ini penting untuk dibicarakan dan disinergikan oleh beberapa institusi yang terkait langsung dengan masalah ini, karena saya yakin jumlah peristiwa nikah lama yang tidak tercatat ibarat gunung es yang volumenya bukan berkurang akan tetapi justru semakin bertambah, seiring dengan meningkatnya kebutuhan dan  kesadaran masyarakat tentang pentingnya arti buku nikah.

Terkahir sebelum saya mengakhiri opini ini saya akan sampaikan jawaban seandainya ada pertanyaan mengapa angka kasus itsbat nikah itu bisa mencapai angka yang abnormal  sehingga ada korelasi isi opini ini dengan ungkapan dalam judul bahwa banyaknya itsbat sekarang adalah dosa lama ? karena seperti dijelaskan di awal bahwa hakikat itsbat nikah  adalah untuk memfasilitasi pernikahan yang sudah terjadi namun belum tercatat di KUA, ini artinya kondisi masa lalu yang tidak kondusif yang melahirkan dan menyisakan persoalan di masa kini. Kalau dirangkum ada beberapa situasi yang menjadi faktor pernikahan yang dilaksanakan di masa lalu tidak tercatat di KUA ,

Pertama : Masa masa yang lalu masyarakat belum memiliki kesadaran yang tinggi terkait pentingnya buku nikah, sehingga mereka terkadang enggan memenuhi administrasi yang harus dipenuhi, seperti terkait batasan minimal usia catin, atau status jejaka, duda, atau perwan janda, mereka kebanyakan fokus dan berpuas diri kalau syarat dan rukun syar'i sudah mereka bisa penuhi.

Atau ada juga fakta yang kami temukan semua administrasi sudah terpenuhi , buku sudah terbit , namun karena merasa tidak butuh mereka lupa untuk mengambil buku nikahnya bahkan sampai waktu petugas yang memagang buku nikah meninggal dunia.

Fenomena seperti ini benar adanya "berdasarkan cerita sohih dari seseorang , pernah ada seorang penghulu desa meninggal dunia, singkat cerita setelah acara pemakaman beliau tuntas esok lusanya para keluarga menemukan ada tumpukan buku nikah di rumah sang penghulu yang belum di ambil pemiliknya.  Keadaan kedua saya juga pernah menemukan langsung di salah satu KUA ada satu karung buku nikah belum diambil atau didistribusikan kepada pemiliknya. Maka dari dua ilustrasi di atas sangat wajar kemudian orang orang seperti di atas menjadi angka penambah tingginya kasus itsbat nikah.

Kedua : Alur pengurusan buku nikah yang terlalu panjang tapi petugas yang diamanahkan memiliki kemampuan coveredge yang terbatas karena terkadang hanya ada satu orang di setiap desa, berbeda dengan situasi sekarang setiap orang, atau dibantu kepala RT atau Dusun bisa membantu warganya mengurus buku nikahnya , sehingga prioritas bagi masing masing warga lebih terjaga karena wilayah yang mereka layani lingkupnya  lebih sedikit.

Dari kasus yang saya ketahui dua faktor inilah yang signifikan mempengaruhi tidak tercatatnya pernikahan masa lalu di KUA .(wallahu a'lam)

(4ly79)

204
Share :

INFORMASI LAINNYA