Kaki Di Kepala, Kepala Di Kaki

Rabu, 18 Desember 2019 22:20

KAKI DI KEPALA, KEPALA DI KAKI

(mengenal arah kiblat dan mengungkap hakikat jism)

Oleh; Irfan Jaya (0823-4194-4308) Guru MTs Negeri 2 Kota Bima

 

Kesempurnaan bentuk raga ciptaan Allah pada diri yang bernama manusia secara tidak sadar menggambarkan bahwa semua bentuk itu diarahkan untuk menyembah, bila satu persatu diperhatikan/ diteliti semua memiliki bentuk dan ukuran yang menjumlahkan kesempurnaan untuk menyembah, secara kasat mata pergelangan tangan dan kaki kita yang bentuknya 7 ruas/ tingkat, begitu juga dengan tulang belakang terdiri dari 33 ruas dan begitu seterusnya.

 

Dalam sunan abu dawud meriwayatkan dari Buraidah bahwa Rasulullah bersabda “Dalam tubuh manusia 360 persendian dan ia wajib menunaikan sedekah atas setiap persendiannya” (HR. Abu Dawud no. 5242 dishahihkan oleh Albani). Dr. Hamid Hamad Hamid menyebutkan dalam bukunya Rihlah al-Iman fil Jism al-Insan (Wisata Iman dalam tubuh Manusia) menyebutkan bahwa jumlah persendiaan tulang manusia adalah 360 secara garis besarnya adalah, tulang belakang 148, tulang dada, 24, tulang tubuh bagian atas 86, tulang tubuh bagian bawah 90, tulang tubuh bagian dalam 11 persendian).

Kerangka tubuh manusia terdiri dari tulang yang menyangga dan membentuknya, tanpa persendian yang telah disusun dengan terstruktur manusia akan sulit bergerak tentu akan mengalami kesakitan dan pasti muncul berbagai macam masalah.

Diri ini sesunggunhnya bumi itu sendiri...

Dari sini nampak dan nyatalah bahwa memang manusia sudah berikrar/ bersumpah janji untuk menyembah Allah sejak dalam rahim ibu. “Alastu birabbikum, (bukankah Aku Ini Rabbmu), Qaalu bala sahidna” (Menjawab, Kami bersaksi) Qs. Al-A’raf, 172. Memanglah raga ini diciptakan untuk menyembah. 

Sebagai dasar kajian dalam sebuah hadits nabi yang diriwayatkan oleh ibnu Majah hadits ini berkaitan dengan menjaga kelestarian alam “Man hafara bi’ran falahu arba’una dziraa’an ‘athaanan lima syiayatihi (Barang siapa yang menggali sumur maka ia berhak 40 hasta sebagai kandang ternaknya, dari sumber wikipedia yang digali kata hasta dipakai oleh penterjemah Al-Kitab bahasa indonesia yaitu ukuran panjang lengan dari siku sampai jari tangan sebagai ukuran standar panjang tradisional. Satu hasta umumnya sebesar 45 cm. Artinya dari maksud hadits tersebut didapat 40 hasta X 45 cm sama dengan 18 meter. Inilah maksud dari “wa aidiyakum ilal maroofiq” basuhlah kedua tanganmu sampai siku (Qs. Al-Maidah ayat 6)

Dengan memahami panjang satu hasta adalah 45 cm maka sedepa (one fathom) artinya panjang dari ujung jari ke ujung jari lain dari kedua lengan yang di rentangkan (didepang) adalah 90+90 = 180 cm. 

Jika kita menghadap ke arah kiblat (masuk Sajadah) tentu nilai 180 derajat yang diarahkan karena sebanding lurus dengan rumus luas atau keliling bola atau luas bumi yang bermakna 360 derajat bagian utara yang dibagi dua atau 180 derajat dibagian selatan, berlanjut dengan hitungan dari mata kaki sampai lutut (180+45) adalah 225 derajat dari lutut hingga pantat 270 derajat dari pantat sampai pangkal leher 315 derajat, kemudian dari pangkal leher sampai ujung kepala tidak cukup menjadi 360 derajat seperti luas derajat bumi, dimanakah sebagian di atas kepala kita sehingga bisa berjumlah 45 cm ternyata diletakkan ke kaki, (yaitu dari ujung jari kaki sampai tumit) jadi total luas keliling mulai dari rentangkan tangan hingga ujung jari kaki sampai kepala berjumlah 360 derajat sama dengan luas keliling bumi itu senidri artinya diri kita ini adalah gambaran bumi itu senidiri. “Man Ahya ardhan maiyitatan fahiya lahu” barang siapa yang menghidupi suatu bumi maka bumi itu baginya (HR. At-Tirmizi).

Di sinilah letak bahwa di atas kepala kita yang bundar ini ada sesuatu yang terpisahkan dan telah diletakkan ke bumi sehingga kita dapat berjalan “Kaki di kepala Kepala di kaki” apakah ini makna bahwa manusia di padang mahsyar berjalan dengan matahri sejengkal di atas kepala, kita jalan berarah atas mata kaki yang tidak terbuka untuk melihatnya. (mata kepala dan mata kaki). 

Pantas dan wajarlah bahwa manusia sebetulnya berjalan dengan kepala, lantaran untuk menyeimbangkan bumi (diri kita) maka sebagian dari kepalanya diletatakn ke bumi. inilah makna terdalam kalimat Ka’bain (dua mata kaki), ka’bah sesuatu yang di letakkan ke bumi. Jadi ka’bain (Wa arjulakum ilal ka’bain dan (basuh) kamimu sampai kedua mata kaki) bagian dari kepala yang diletekan ke tanah/ bumi.

Maka untuk apa kita banggakan dengan wajah kita sesungguhnya sama dengan telapak kaki kita, hanya orang yang sholatlah yang sadar diri ketika wajahnya telah diletakan ke bumi rata dengan telapak kakinya, di sinilah jalan kembali yang sempurna maka sempurnakanlah sholatmu. “Subhana Rabbial ‘a’la wabi hamdihi” Maha suci Rabb yang Maha Tinngi dan memujilah aku kepada-Nya. Sungguh dengan sujud kita akan diangkat derajat.

Semua itu tergambar dalam makna rahasia firman Allah, melalui Qs. Maidah ayat 6, “Idza quntum ilash sholati, faghsilu wujuuhakum, wa aidiyakum ilal maroofiqi, wamsahuu biru’uusikum, warjulakum ilal ka’baiin” artinya apabila hendak melaksanakan sholat maka basuhlah Wajahmu, dan kedua tanganmu sampai siku, dan basuhlah kepala mu, dan kaki sampai mata kaki. Dari bagian yang menjadi rukun wudlu ini, dapat menjadi bahan renungan mulai dari wajah kembali ke kaki, tangan sampai siku, habis usap kepala lanjut dengan membasuh kaki, (baca: sungguh ini bagian yang menyatu berjumlah 360 derajat). 

Ada hal lain yang menarik untuk dipahami antara 270 sampai dengan 315 derajat atau kisaran dari pantat hingga pangkal leher yaitu tepat ditengah-tengahnya sekitar 290-295 (292,50) derajat tepat di ulu hati kita (berada di bawah tulang dada dan di atas pusar, disinilah yang dimaksud oleh Imam Safi’i bahwa tempat meletakan tangan (bersedekap) dalam takbir itulah tepat di ulu hati, angka 290-295 derajat adalah arah kiblat (ka’bah) dari Negera kita Indonesia sebagai negara terbesar islam dunia, negara yang Toyyibatun wa Rabbun gafur, (pendalaman kajian ini khusus pada kajian islam nusantara). 

Hati dalam Pandangan Islam tidak hanya sekedar organ fisik  namun juga non fisik sebagimana dipaparkan oleh Al-Hakim Al-Tirmizi bahwa hati manusia ibarat pelita, ia memiliki lapisan kaca dibagian terluarnya, di dalamnya terdapat nyala api tempat sumbu dan sumbu itu sendiri, bagian terluar dari hati adalah lapisan Shadr, Lapisan kedua Qalb, ketiga adalah fuad dan lapisan terdalam adalah Lubb, 

Tempatnya rasa dengki, hasud, syahwat, anggan-angan, keinginan serta was-was dan rasa sempit adalah shudr (yang membisiskan kejahatan ke dalam shudr manusia, An-Nas, ayat 5), sedangkan Qalbu, memiliki peran sama seperti tempat sumbu diletakan akan muncul nyala api, ia akan mengeluarkan pengetahuan, menimbulkan keyakinan dan keimanan. Wa Zayyanahu fii qulubikum (dan indah dalam hatimu,  Qs. Hujurat ayat 7) dan lapisan yang ketiga adalah Fuad, ibarat sumbu yang ada dalam pelita, (Al-fu’adu maa Ra’a/ hati yang melihat) dan lapisan keempat adalah Lubb (Al-Bab) tempatnya ma’rifat bersemayam, tempat mengenal Rabbnya, mengenal cahaya kebaikan Rabbnya, cahaya tauhid semua atas hidayah Allah. Al -Qur’an menyebutnnya Ulil Al-Bab sebagai simbol orang yang menerima Hikmah dan karunia yang banyak (Qs. Al-Baqarah, 269) 

Tidak ada yang kebetulan dalam penciptaan-Nya, semua menggadung maksud dan tujuan tertentu hanya dengan penentu akal pikiran serta hati untuk terus merenungnya, nyatanya setiap makhluk yang bergerak pasti bisa bicara pun sebaliknya yang tidak pindah tempat tidak dapat berbicara, dengan kita hidup tentu ada yang Maha hidup. (bersambung).......   

168
Share :

INFORMASI LAINNYA

Kakanwil: Data Sifatnya Dinamis
Kamis, 08 Mei 2014 13:34
Berita Duka
Jumat, 28 Maret 2014 15:44