Engkaulah Pohon Itu Sendiri

Senin, 30 Desember 2019 16:01

Engkaulah Pohon Itu Sendiri

Engkaulah pohon itu sendiri

(catatan perjalanan sang penghianat ulung)

Oleh; Irfan Jaya, M. Pd

Guru MTs Negeri 2 Kota Bima

 

Kini hujan mulai turun membasahi bumi. pertanda benih benih tumbuhan yang telah menyambah tahun lalu akan tumbuh berkencambah lagi. mereka harapkan tumbuh dalam musim ini jika janji air kehidupan setia menamaninya. ada yang berkeping satu atau berkeping dua, akan hidup dalam jangka waktunya. semua dalam ukuran kentetuan masing masing sesuai jenis dan bentuknya pula.

Akar akar bibit pohon itu memulai menancap di atas gemburnya tanah. hingga daun kecil malu menguncup satu persatu keluar dari cangkangnya. berusaha untuk hidup walaupun angin dan hujan menerjang. hingga arus membawanya di persimpangan keadaan. bagi mereka hidup hanya sekali berusaha bertahan tunduk pada karma alam.

Hampir mirip tapi tidak juga berbeda. antara manusia dan pohon. manusia lahir tumbuh dewasa. Berusia matang hingga tua. Dapat bicara sampai berpindah tempat. siklus manusia begitu sempurna untuk dilewati. kemudian meninggalkan dunia ini, ia mati dan hancur jasadnya namun hakikatnya hidup tetaplah kembali.

Berawal raga manusia tumbuh lembut dari saripati tanah (zigot) memancar keluar (nutfah) mendiami tempat yang kokoh (rahim) selama 40 hari dan menjadi alaqah (darah kotor). Alaqah menjadi daging (mudhgoh) selama 40 hari pula. daging membentuk tulang, tulang di bungkus daging selama 40 hari, dan jadilah dia dalam rupa lain (janin).  kemudian ditiupkan roh hidupnya dengan berikrar janji tunduk untuk sujud.

Sejarah hidup manusia memanglah beda. ia lahir ke dunia ini disebut  bayi, masa bermain adalah anak-anak, menginjak baligh itu remaja, dengan telah dewasa mengenal tentang arti hidup. kemudian menuai hasil dan hingga menunggu keranda untuk kembali.

Manusia memang perlu belajar dari pohon karena ia akan tumbuh dikemudian hari seperti pohon itu sendiri. Begitulah kata kata yang terlintas dari alam bawah sadar sang Penghianat ulung. ketika ia dikejar dalam suatu perang dan peristiwa waktu itu. dalam kecamuknya keadaan, tepat di sore hari ia keluar dari kota menuju lembah dan teluk di bagian barat. nampak seorang kakek tua duduk dengan tasbih hitam di tangan kanannya. sambil gembala kambing sembari mengelus kumis pendek yang masih terlihat hitam dari kejauhan. dengan sesekali memukul kecil tongkat di tangan kirinya, memandang jauh penuh makna dan terlihat separuh lusuh pakaian adat menempel di badan kurusnya, sinar matahari itupun telah meninggalkan tempat ia duduk karena terhalang oleh gunung di belakangnya, rona merah itu hanya terlihat separoh di belahan lembah timur sana.

Sang penghianat ulung dengan merasa penasaran, ia pun memberanikan diri untuk menghadapnya. namun kakek tua itu tanpa kata kata. menunjuk dengan tongkatnya ke utara. tampat pada gundukan tanah yang tidak jauh darinya. ketika sang penghianat ulung berjalan terbukalah bumi di depanya, nampaklah pemuda gagah berseri mukanya dengan cahaya purnama berbaring mengenakan pakain putih berselukan salju, harum tiada tara menukik  simpul saraf otaknya.

Dengan lidah terbata bata, ia segera memuji kesucian-Nya. ternyata tempat diselamatkannya seorang pembawa risalah. dan nampak  dibelakang bersemayamnya. jutaan manusia dengan suara zikir memuji dan menyucikan sang pemilik jagat raya, dalam benak kecil sang penghianat ulung berbisik “rupanya begitu banyak manusia yang diselamatkan olehnya.

Setelah menyaksikan kejadian itu. sang penghianat ulung kembali pada seorang kakek tua tersebut, yang masih duduk menunggu sambil mengawasi tiga ekor kambing gembalanya, sesekali memandang jauh ke bawah timur lembah yang masih menguning walau nampak rumput hijau mencuil, tanda hujan beberapa kali menapaki bumi. Ia berusaha mendekatinya untuk bertanya sekaligus berguru tentang makna perjalanan hidup manusia.

Sang guru memulai menasehatinya, “hidup itu berawal dari bibit pohon, ia tidak bagus untuk ditanam jika dipetik belum matang. sebagusnya bibit sampai  jatuh membusuk terlebih dahulu. baru diambil dan di semai. setelah tumbuh ia tidak dapat berkembang selama terkurung dalam pot atau wadah yang kecil, ia hanya menjadi hiasan layaknya bunga, dielus- elus, dipuja, dijaga dan dirawat pun terus disiram setiap hari. dan merasa diri dalam kondisi aman.

Sebaiknya ia harus ditanam lepas di alam nan luas. supaya bisa besar serta berbuah lebat. tumbuh tinggi dan bermanfaat bagi orang banyak, mulai dari batang yang menjulang tinggi hingga akar tepancang kuat ke dasar bumi dan daun daunnya rindang tempat berteduh untuk makhluk lain.

Petuah itu dicerna oleh sang Penghianat ulung sembari sang guru melanjutkan nasehatnya “tapi sebuah pohon tidak langsung besar ketika dikeluarkan dari pot/ wadahnya. waktu ditanam di tanah lapang, ia terlihat layu dalam beberapa hari, seolah-olah dan bahkan orang mengatakan mati, berhari hari disiram barulah tumbuh merangkai akarnya dan siap untuk hidup tanpa berpindah, sekalipun sewaktu-waktu angin, badai, parang dan kapak menerjang”.

“Setelah tumbuh besar daunnya lebat batangnya kuat. berurai kelopak tanda mulai mengeluarkan bunga bunga indah. sebagai usaha mepertahankan keturunan. dibalik itu nampak cikal bakal buah. bila telah serbuk sari menapaki kepala putik. seolah hasil harapan hidup tampak di depan mata”.

“Pun apa daya bila alam berkehendak lain. buah buah muda itu jatuh entah dipetik orang atau diterpa angin. hingga tidak dapat berbuah matang. namun pohon itu masih punya harapan. walaupun hari dan tahun berjalan belum berhasil. mungkin esok lusa, ataukah tahun depan semasih hidup akan berusaha. sekalipun  batang dan ranting serta daun daun itu dipangkas dan ditebang asalkan bermanfaat bagi makhluk lain”

Dengan cucuran air mata. sang penghianat ulung, kembali mengajukan pertanyaan kepada gurunya, bagaimana jika setelah berbuah matang kemudian dipetik dan dimakan orang?

Sang guru menjawab. “ketika manusia mengupas buahnya. kulitnya dibuang. dagingnya dimakan. tidak terkecuali biji pahitnya dibuang, sungguh mereka tidak memikirkan sepahit apapun bijinya tapi disitulah tumbuhan itu bakal hidup berkelanjutan, hanya orang berilmulah yang bisa mengambil biji biji kehidupan dan bulir bulir alam dunia ini. Dan pohon yang baik itu bisa memberikan daging buah penuh nikmat. manusia yang baik manusia yang bisa memberikan manfaat buat orang lain, sehingga ia sendiri mendapat cahaya dari hasil pemberiannya”

Hatinya meronta dalam renungannya melihat cahaya keihlasan wajah sang guru, sebilah kata terucapkan tanpa sadarkan diri “syukur alhamadulilah gurueee, dengan pemberianmu aku selamat”

Senin menjelang Natal Sang penghianat ulung kembali melewati setapak jalan untuk pulang, nampak orang-orang ramai di pojok jalan masuk gang buntu nomor 11, di tugu selamat jalan itu terpampang bendera kuning ukuran 40 x 45 centimeter yang diikat dengan kursi plastik merah. disamping tersedia dus bertulis lam-lam. yang berisikan uang recehan tanda sedekah tolak bala setiap yang melewatinya. pertanda sesuatu persitiwa besar terjadi. tidak lama kemudian keluarlah sekelompok pemuda berkopiah hitam sederat melangkah dengan kalimat kalimat kebesaran sang pencipta, menggotong keranda berbalurkan kain hijau bertulis kalimat Inna lillahi wa inna ilaihi raji’uun.

Tidak terlalu jauh dari langkahan kaki para pelayat keranda itu, segera diturunkan dan dikeluarkannya subujur tubuh kaku, nampak mayat berukuran semampai terbungkus kain kafan hitam, segera dimasukan ke dalam lahat berukuran 1.25 x 2.25 centimeter. terlebih duluan kepala melintang ke utara. laksana petir duka di siang bolong itu terdengar suara lantunan azan dari sang anak sulung didikan agama terbaik mengiringi kepergiannya. walaupun ratapan gadis gadis kecil pertanda sang ibu tidak akan pernah kembali selamanya.

Pemakaman telah usai. pertanda dari doa dan tahlilan sang pemuka agama yang mulutnya menganga ditutup dengan “aamiiiin” para pelayat. sang penghianat ulung dengan berbekal petuah dan wejangan dari sang guru. mencoba berdiri dan menyampaikan salam, terima kasih dan permohonan maaf kepada khalayak yang melayat, sembari menyisipkan sepatah dua kata untuk saling berwasiat selaku perwakilan keluarga yang berduka.

Inna lillahi wa inna ilaihi raaji’uuun, Kullu nafsin dzaa ikatul maut....

Alal hayyil ladzi laa yamuutu wa hudal linnas, di atas hidup yang tidak akan pernah mati sebagai petunjuk hidup manusia, jasad yang kita kuburkan siang ini, kembali pada tanah dimana dia ciptakan, dan roh hidupnya selalu mendampingi nafsu untuk menghadap sang pencipta dalam mempertanggung jawabkan amal perbuatannya selama hidupnya di dunia ini.

Hari  ini kita saksikan saudara kita yang dimakamkan mugkin besok lusa adalah giliran kita. tapi hakikanya bukanlah sekedar dimakamkan tapi ditanam ke bumi. di tanam karena sangat yakin akan hidup, sesuatu yang ditanam pasti akan hiudp lagi. karena inilah makna kenapa di dahulukan kepalanya karena ia akan bangkit layaknya pohon, rambut terurai tumbuh panjang di dunia ini seperti akar pohon, maka nanti tumbuhlah dia dengan empat batang pohon, dua batang kaki dan dua batang tangan, Ia akan mengeluarkan buahnya seperti apa yang dia perbuat selama hidupnya di duna ini, dari jari jari kaki/ tangannya akan tumbuh buah apa saja yang diperbuatnya, entah buah maksiat atau buah kebaikan.

Sang penghianat ulung menutup pengantar singkatnya, “manusia itu dari benih. semua file amal perbuatan tersimpan di tulang sulbi. setelah air bah meratakan dunia ini. manusia dibangkitkan kembali. tumbuhlah ia layaknya pohon dimana tulang sulbi itu berada “minhaa khalaqnaakum, wa fiihaa nu’idukum. wa minhaa nukhrijukum taarotan ukhraa. Darinya (tanah) kamu diciptakan, dan kepadanya kami mengembalikan kamu. Dan dari itu pula kami mengeluarkan kamu dalam waktu lain (Toha,55). inilah kalimat terakhair sekaligus tiga kalimat jika kita menaburkan tanah pada saat jenazah hendak dikuburkan”

Di akhir wasiatnya sang penghianat ulung. mengajak merenung dengan tunduk sejenak seraya mengangkat kedua tangan mengirim surat fatihah untuk para arwah.

Renungan : Untuk apa kita membesarkan masalah kalau sekedar urusan dunia. apalah artinya kalau hanya sekedar main kata kata lempar isu dan agitasi apalagi sampai provokasi. lebih bijak bertutur arif dengan silaturrahim terus terjaga. jikalah kata kata itu lahir dari tangan jahil apakah mulutmu telah terkunci rapat untuk sedikit berkata baik ataupun meminta maaf. memang kita saling membutuhkan satu sama lain, tapi dua hal terus di jaga antara privasi dan nilai uang. Serendah apapun nominal manusianya harga diri lebih utama.

semua akan dimintai pertanggung jawaban, tangan yang pintar merangkai kata bak lisan tak bertulang. tapi jangan sampai malu untuk bertitah, jaman memanglah canggih semua tidak ada yang mustahil. Sekalipun kita bertutur dalam tujuh lapis tanah, suaramu menggelegar di di alam maya langit sana. Semampumu berbuat ghibah dan fitnah, sekalipun yang menfitnah itu tentu pasti berdosa. tapi yang di fitnah belum tentu salah.

#salamcakrawaladuabenua

832
Share :

INFORMASI LAINNYA