Benang Merah Ra’ahu Magawa

Senin, 06 Januari 2020 12:50

Benang Merah Ra’ahu Magawa

(Sesuatu tidak bisa dilihat melalui dua mata tapi hanya dengan satu mata)

Oleh; Irfan Jaya

Guru MTs Negeri 2 Kota Bima

 

Dalam diri manusia ada banyak dinamakan dengan sebutan mata. mulai dari mata kepala hingga mata kaki. mata hati pun mata bathin, bahkan ada juga keliru menyebutnya “kalau jalan pakai mata ya, padahal jalan sebetulnya menggunakan kaki. toh mata kaki juga walaupun masing-masing memiliki dua dibagian kanan dan kiri kadang tanpa mata kepala terpeleset jatuh di got juga.

Ada juga penyebutan bermata satu itu Dajjal, makhluk petaka bagi isi alam semesta. Ungkapan dalam majasnya matamu sebesar lampu mobil” Bahkan mata sering didiskreditkan dengan orangnya, mata duitan.

Namun Ada juga ungkapan, dipandang sebelah mata artinya tidak dihargai sepenuhnya atau kurang dipercaya, atau bahkan dihina keberadaannya. hampir berkaitan dari mata yang terpancar pun disebut matahari. Hingga mata untuk berbelanja adalah mata uang. dst

Masalah mata tidak akan habis untuk dibahas, kita mulai dari mata kepala. Mata merupakan organ pengelihatan yang mendeteksi cahaya dengan mengubah menjadi impul elektrokimia pada sel saraf, sehingga berguna untuk indera melihat.

Rata rata memiliki kornea warna hitam dan putih. Perbandingan kira-kira dalam kepastian antara 6 dengan 9 (69), enam bagian hitamnya, sembilan bagian putihnya. Orang-orang lama menyebutnya hitam itu bagian barat, putih itu bagian barat laut, saya juga percaya akan itu, melalui bantuan kompas bagian barat berada pada 270 derajat sedangkan barat laut 315 derajat. Antara keduanya sama jika dilahat di kompas di tempat saya menulis ini arah Ka’bah (kiblat sholat) berada di tengah itu, yaitu 290-295 (tepatnya 292,5) derajat.

Mengutip dalam hitungan istilah Cina kuno “Yin dan Yang” dengan lambang 69 warna hitam putih. Bermakna mengarahkan seluruh elemen langit dan bumi. Di negara indonesia tempat kita beridelogi pun meyakini 69 adalah sejumlah  dokumen negara yang masih tersembunyi bersama kotak hitam yang diterima di PBB sehari sebelum tanda tangan kemerdekaan, berisi tentang data harta kekayaan rakyat yang tersimpan di luar negeri,

Masalah seperti ini memang masih tanda tanya sekaligus misterius, ada benarnya juga sih pepatah mengatakan gajah dipelupuk mata tidak dapat dilihat sedangkan jarum di seberang sana dapat dilihat, masalah mata lagi...

Kita beralih dengan mata hati ataupun mata batin, secara spritual bagi orang orang tertentu akan sangat yakin, sekalipun terputus tali celananya atau tidak mundur sejengkal dari tempatnya akan mengatakan telah melihat. Ini ranah orang yang memiliki bashirah (cahaya mata bathin).

Saya umpamakan secara sederhana supaya bisa dicerna apa kita dapat melihat atau tidak sebaliknya dan dengan cara apa kita melihat? coba kita baca singkatan ini, “dlm” atau “ttg”. Kalau kita pernah belajar ataupun dikasi tahu, kita akan mengatakan “dlm” itu = dalam atau ttg itu tentang. Kita akan melihat ada dua “a” dalam singkatan dlm dan ada en—an dalam ttg.

Contoh lain dalam angka, 4 +.... = 10. walaupun isinya belum ditulis tapi kita melihat dan meyakini itu nilainya 6. artinya sesuatu dapat dilihat ataupun melihat itu dengan ilmu kita. Seperti itulah kemungkinan dengan hal misterius di atas antara yin dan yang, enam puluh sembilan dokumen negara, dan rahasia lainnya. Mungkin dianggap sebagai hal tabu serta belum yakini keberadaan karena belum berilmu.

Jika kita kembali bicara ilmu, bermula dari kata petunjuk, tidak ada keraguan bagi orang bertaqwa merupakan kalimat pembuka disurat kedua dalam Al-Qur’an. Petunjuk kebenaran, petunjuk jalan, petunjuk itu berkiasan dengan telunjuk yaitu salah satu jari penentu keperkasaan dan lambang jati diri, orang perkasa bisa tunjuk dan kuasa hanya dengan satu jari yaitu jari telunjuk.

Dalam berilmu, melihat lurus sesuatu yang akan kita ukur hanya menggunakan satu telunjuk dengan ukur melalui satu mata, melalui cara satu mata kiri di tutup serta mata kanan dibuka (atau sebaliknya) dan angkat jari telunjuk tetap bidik sasaran yang akan kita lihat lurusnya.

Hal serupa juga dapat dibuktikan untuk melihat ketetapan bidikan pada kompas untuk mengukur titik ideal sesuatu. ra’ahu magawa (melihat dengan sebelah mata). Lurusnya sesuatu kita ukur melalui sebelah mata tepat bidikan dengan satu telunjuk. Jari telunjuk dengan sebelah mata mengukur lurus sesuatu akan akurat dan cermat..

Semua bidikan harus mengarah pada satu titik dengan petunjuk (telunjuk) untuk melihat yang satu. Kembali pada satu petunjuk kebenaran semua ciptaan dari yang satu (tunggal). Memandang sesuatu dengan satu. Bersatunya kehendak (manunggal karsa). Satu kehendak qudrat dan iradat. Kita satu asal asul dari anak adam. Kita adalah satu. Berawal dari satu nuktah (titik).

Berilmu harus dengan akal pikiran, perasaan dan hati. (cipta rasa dan karsa), dalam makna lain perpaduan antara pola pikir dan pola zikir melahirkan pola ukir (nilai estetika/ akhlaqul karimah). Dan setiap petunjuk yang kita baca adalah melalui qauliah (Al-Qur’an) dan kauniyah (alam) “Laqad anzalnaa ilaikum kitaban fiihi dzikrikum” sungguh kami turunkan kepadamu kitab di dalamnya sebagi pengingatmu/ Qs. Al-Anbiya, ayat 10)

Kadang merasa minder jika orang lain menganggap kita dengan sebelah mata, padahal begitu banyak sejarah anak manusia berawal dengan pekerjaan kecil, toh juga berhasil, Nabi Muhammad pun dilihat oleh para pembesar Qurais menggangap itu anak yatim piatu namun pada akhirnya dengan petunjuk-Nya mereka menjadi segan dan takluk juga.

Setiap sesuatu yang dianggap sebelah mata merupakan pintu naik untuk mengenal kehendak dan rencana sang pencipta, maka pintar pintarlah untuk mengintai (mukasyafah) dengan cara apa Allah mengangkat derajat manusia. “mang kaana yuriidul ‘izzati falillahil izzati jami’aa” (barang siapa menginginkan kemulian maka kepada Allahlah segala kemuliaan itu, Qs. Fathir ayat.10).

Kebanyakan mutiara itu tersimpan dari lumpur yang berbau busuk, dan dalam kornea hitam mata kita itulah keberadaan cahaya, dari dalam hitam itulah putih hakikatnya. Jangan terkecoh, tetaplah meminta pimimpin untuk tunjukan jalan (jannatul ma’wa).

184
Share :

INFORMASI LAINNYA