OLAHAN TUAK MANIS MEMBAWA DUA SISWI MAN 2 MATARAM KE JEPANG

Sabtu, 28 November 2020 12:05

OLAHAN TUAK MANIS MEMBAWA DUA SISWI MAN 2 MATARAM KE JEPANG

Keterangan gambar.  Omy dan Lala (kiri atas) - Lala menerima hadiah dari Dekan Fakultas Gizi UNSAHID Jakarta  (kanan atas)- Peserta STIPARK NTB (bawah)

Mataram- Aldila Rizki Batari Nasution dan Nandini Rohmi berhasil meraih prestasi gemilang di ajang STIPARK penulisan essay yang diselenggarakan oleh Pemda Provinsi Nusa Tenggara Barat dan  even yang sama di Universitas Sahid (UNSAHID) Jakarta. Keduanya merupakan jebolan salah satu organisasi ekstrakurikuler di MAN 2 Mataram, yaitu KIR (Karya Ilmiah Remaja). Di bawah besutan Ibu Verweny Rochcy Maryati, M.Pd. Cs, ekstrakurikuler ini mulai menunjukkan eksistensinya.

Lala dan Omy demikian mereka kerap dipanggil memang langganan mengikuti ajang serupa. Seperti: juara 2 Lomba Menulis Essay tingkat Provinsi yang diadakan oleh Museum Provinsi Nusa Tenggara Barat, Juara 3 Lomba Karya Tulis Ilmiah se-Pulau Lombok yang diadakan oleh MAN IC Lombok Timur, Juara 3 dalam rangka Bulan Bahasa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia  UNW Mataram tingkat Provinsi, Lomba Cerpen, Lomba Membuat Sinopsis Buku Cerita, dan lomba bergengsi lainnya tingkat nasional..

Essay yang dilombakan tentang olahan pangan, yakni penelitian tentang Nata de Waren.  Kedua siswi ini unggul dalam semua kategori penilaian yaitu makalah, presentasi, hasil penelitian dan tanya jawab.

Penelitian dengan bahan baku utamanya tuak manis atau air nira ini tergolong masih baru. Biasanya nata dibuat dari air kelapa. Alasan penggunaan air nira sebagai bahan penelitian adalah untuk memanfaatkan tumbuhan berbasis kearifan lokal yang produksinya melimpah. Jika tidak diolah dengan baik, tuak ini akan cepat rusak, paling-paling oleh petaninya hanya mampu diolah menjadi gula merah, itupun memakan waktu yang cukup lama dan air asli dari nira ini hanya mampu terjual dengan harga 5 ribu/botol. Jika diolah menjadi nata dan dikemas menarik hasil penjualannya bisa berkali lipat. Alasan lain penelitian ini adalah untuk membantu petani nira meningkatkan penghasilannya.

Pohon aren (Arenga Pinata) merupakan salah satu tanaman yang banyak dimanfaatkan dan dijadikan sumber mata pencaharian oleh sebagian besar masyarakat Desa Kekait Kecamatan Gunung Sari Kabupaten Lombok Barat. Bagian aren yang banyak dimanfaatkan oleh masyarakat tersebut adalah air nira yang disadap dari tandan bunganya. Selama ini air nira aren dijual sebagai minuman tradisional yang disebut sebagai tuak manis atau diolah menjadi gula aren.

Proses pengolahan yang masih sederhana dan tradisional menyebabkan nilai ekonomi dari bahan tersebut tergolong rendah. Salah satu solusi untuk meningkatkan nilai ekonomi adalah dengan mengolahnya menjadi Nata de Waren. Olahan nira aren menjadi Nata de Waren tersebut menjadikannya produk yang bernilai ekonomi lebih tinggi, tahan lebih lama dan secara tidak langsung akan meningkatkan pendapatan para petaninya.

Bahan lain yang digunakan dalam eksperimen pembuatan Nata de Waren ini adalah ekstrak kacang hijau, cuka, starter nata/biakan (acetobacter xylinum), PH indikator, kertas koran, karet gelang, alkohol 70% dan es batu. Sedangkan alat-alat yang digunakan terdiri atas gelas kimia, kasa, pembakar bunsen, saringan dan kain kasa, spiritus, pengaduk kaca, tisyu, neraca atau timbangan digital dan gelas ukur.

Pada produksi Nata de Coco dari air kelapa umumnya menggunakan gula pasir sebagai sumber energi, sedangkan air nira yang rasanya manis dan mengandung gula cukup tinggi tidak ditambahkan, kecuali air nira yang sudah mengalami proses fermentasi selama 10-48 jam memerlukan tambahan gula, karena selama proses fermentasi yang dilakukan oleh mikroorganisme menyebabkan kandungan gula menurun drastis sehingga rasa manis dari aren menjadi asam.

Bahan baku lainnya adalah ekstrak kacang hijau yang dipastikan lebih ramah lingkungan karena merupakan bahan organik, tidak menimbulkan residu berbahaya, mudah dibuat dan diperoleh, dan telah terbukti menghasilkan nata yang berkualitas, penggunaan ekstrak kacang hijau juga sebagai pengganti pupuk ZA yang biasa digunakan pada Nata de Coco (air kelapa). Penelitian tentang pengolahan nira menjadi produk fermentasi nata dilakukan di Laboratorium Biologi MAN 2 Mataram, sedangkan analisis kandungan nata dilakukan di laboratorium BPOM Nusa Tenggara Barat.

Essay ini mengantarkan keduanya mendapat beasiswa kuliah ke Jepang dari Gubernur NTB. Dengan makalah yang sama, mereka mempresentasikan makalah ini di tingkat nasional, tepatnya di Universitas Sahid Jakarta (UNSAHID Jakarta). Di UNSAHID keduanya meraih juara 2 dan juara 1 favorit bersaing dengan SMA, SMK dan Madrasah se-Indonesia. Hadiah yang diperoleh dari UNSAHID berupa uang pembinaan, piala, tropi, sertifikat dan beasiswa masuk kuliah di kampus tersebut. Kegiatan ditutup dengan gala dinner bersama panitia dan civitas akademika Fakultas Gizi UNSAHID di Hotel Sofyan Jl. Dr. Soepomo SH No. 23 Jakarta.

Ditanya tentang kesan mendapatkan beasiswa ke Jepang dan UNSAHID, baik Omy dan Lala bercerita jika mereka senang, takjub, sekaligus tidak percaya dengan raihan yang diperoleh. Lala menyukai   hal-hal yang menantang, ada nervous-nya ketika presentasi dan tanya jawab di depan juri dan peserta lainnya mengenai kelebihan sekaligus kekurangan dari produk yang mereka tawarkan. Omy juga menyukai penelitian yang melakukan eksperimen. Ada kesenangan sendiri ketika harus berjuang untuk mengumpulkan tuak manis dan bahan lainnya, menimbang, meneliti, maupun ujicoba tandasnya.

Terkait harapan keduanya terhadap KIR MAN 2 Mataram, Lala berharap ke depannya ada regenerasi dari KIR yang bisa lebih bagus prestasinya, karena Lala dan Omy sekarang duduk di kelas XII. Sementara Omy berharap KIR lebih maju, lebih diapresiasi pihak madrasah, dan semua anggotanya aktif ikut serta pada even-even bergengsi lainnya. [ Siti Rahmi-Humas M2M].

INFO TENTANG MAN 2 MATARAM JUGA BISA DILIHAT DI:

IG: Humas MAN 2 Mataram

FB: Humas MAN 2 Mataram

YT: Humas MAN 2 Mataram

2338

INFORMASI LAINNYA