MENAKLUKKAN NEGERI JIRAN

Jumat, 05 Februari 2021 06:55

MENAKLUKKAN NEGERI JIRAN

Gambar- Zihani Ilman Fayadi berpose di depan kampus IIUM dari berbagai sisi

Selangor- Zihani Ilman Fayadi atau biasa dipanggil Fayadi merupakan salah satu alumni MAN 2 Mataram tahun 2018 lalu. Perawakannya tinggi semampai, ramah plus senyum manis yang khas. Manisnya ori tanpa pemanis buatan, menyebabkan ia memiliki banyak teman dari semua kalangan. Terlebih ia dibesarkan di lingkup pondok pesantren, semakin menguatkan karakternya sebagai pribadi yang berkharisma. 

Kemampuan berpidato dan berceramah ia dapatkan dari bapak tercinta: Tuan Guru Mujiburrahman Sekarbela. Meski dari jurusan IPA, tetapi calon Tuan Guru (baca: Kyai) Ponpes Ar-Raisiyah ini piawai mengaji, membaca Kitab Kuning, ilmu bela diri dan salah satu anggota andalan Madrasah English Club (MEC) di MAN 2 Mataram. Ia juga selalu meraih juara di bidang akademik. 

Saat ini, ia tengah menempuh pendidikan  sarjananya di International Islamic University of Malaysia. Berbekal latar belakang ilmu agama yang lumayan plus dukungan keluarga pesantren, ia menetapkan hati mengambil konsentrasi Tafsir Qur’an dan Hadits pada Fakultas Islamic Revealed Knowledge and Human Science.

Napak tilas perjalanan berkuliah ke Malaysia berawal dari acara buka puasa bersama teman-temannya di organisasi (baca: MEC). Bincang santai dengan teman se-leting tentang studi lanjut melahirkan keputusan berkuliah di Malaysia. Tidak terbayang, jika Malaysia sebagai destinasi keilmuan selanjutnya. Berbekal gagasan seorang teman-lah yang membulatkan tekadnya untuk melenggang ke Negeri Jiran.

Awalnya ia sempat skeptis terhadap kampus-kampus di Malaysia, namun karena keingintahuannya yang tinggi, ia berusaha mencari dan mengumpulkan informasi tentang semua kampus yang ada di Negeri tetangga ini.  Sebagai negara persemakmuran Inggris, tentu bahasa Inggris dijadikan sebagai bahasa kedua di samping bahasa Melayu sebagai bahasa utama. Pelan tapi pasti, bahasa pergaulan dengan lebih banyak menggunakan bahasa Inggris inilah yang menyebabkan Fayadi semakin interested dan  exicted belajar di Negeri tersebut.

Restu orang tua sudah didapat, namun pada suatu malam secara tak terduga ketika akan mengantarkan bingkisan untuk sang Nenek, Fayadi mengutarakan keinginannya untuk berkuliah di Malaysia. Saat itu, sang Nenek dengan tegas menyatakan ketidaksetujuannya. Hal ini merupakan imbas ketika beliau berangkat haji di masa silam. Pada waktu itu, si Nenek memperoleh pengalaman yang tidak menyenangkan dari orang Malaysia. Rupanya itu membekas di benak beliau sampai saat ini. Nenek mengingat waktu itu Presiden pertama Indonesia: Soekarno mengeluarkan Politik Konfrontasi tentang ‘Ganyang Malaysia’ seputaran tahun 1964, di mana hubungan Indonesia-Malaysia tengah memanas, sehingga Nenek menjadi khawatir dan tidak memberi restu.

“Mendengar Nenek tidak mengijinkan, Bapak yang semula memberi ijin menjadi ikut-ikutan tidak memberi restu. Padahal beliau juga pernah mendapat beasiswa di salah satu universitas di sana. Sempat nelangsa dan patah hati serta tidak tahu apa yang harus dilakukan, karena sudah terlanjur bertekad untuk kuliah di Malaysia. Meski demikian, sang Umi lumayan mendukung, sehingga saya berpikir masih ada secercah harapan, “ujarnya.

“Meski sempat tersendat restu dari Nenek dan Bapak, namun Kakek Buyut Tuan Guru H. Sarkawi sangat mendukung. Semua itu, menyebabkan saya semangat dan percaya diri menyiapkan segala sesuatunya. Berkat dukungan beliau-lah akhirnya Nenek dan Bapak luluh. Kemudian Bapak menanyakan alasan saya melanjutkan kuliah ke Malaysia. Dengan tegas saya menjawab: saya memilih Malaysia karena ingin memiliki pergaulan luas dan teman yang banyak dari berbagai negara. Kapan lagi bisa berkumpul dan bergaul dengan teman-teman dari berbagai penjuru dunia jika hanya mengandalkan kuliah di sini? Ini bukan saya tidak menghargai kampus-kampus di Indonesia, namun jika menuntut ilmu di negeri seberang akan semakin memacu ghirah dan daya saing yang tinggi, sisi akademis juga akan lebih terasah, kampus tersebut memiliki kurikulum yang menarik serta pembiasaan pemakaian bahasa Arab dan bahasa Inggris dalam keseharian mereka. Terlebih fasilitas dan pelayanan prima terhadap mahasiswa asing yang ditawarkan, itulah yang menyebabkan saya merasa tertantang,” ujarnya.

Ketika restu sudah dikantongi, berarti tinggal action. Keesokan harinya, dengan semangat 45 ia langsung mengurus persyaratan termasuk passport, LoA (Letter of Acceptance) yakni Surat Penerimaan dari universitas bersangkutan, skor TOEFL/IELTS bahkan bersama keluarga, ia langsung observasi ke kampus IIUM yang di Selangor. Akhirnya, orang tua yakin bahwa sang putra memilih kampus yang kompeten di segala lini.  Sambil menunggu LoA, Fayadi menyiapkan tes IELTS sebagai salah satu persyaratan ikut berkuliah di universitas internasional tersebut. Bisa dikatakan kedatangan LoA menjadi pelipur lara di tengah bencana gempa melanda Lombok jelang akhir 2018 lalu. Pada tahun yang sama juga, sang Kakek terkasih berpulang ke haribaan-Nya. Allahuyarham.

Bait demi bait cerita meluncur dari bibirnya. “Tepat sebulan sebelum berangkat ke Selangor, Kakek Buyut datang ke rumah, hanya untuk bertanya tentang keberangkatan saya ke Kuala Lumpur. Karena beliau berniat ikut mengantarkan saya ke airport bersama keluarga. Ada rasa bahagia dan bangga didatangi oleh beliau. Sehingga semangat untuk menuntut ilmu semakin mengggebu. Bisa dikatakan beliau-lah penyemangat utama saya dan paling berjasa menuntut ilmu ke Negeri Melayu ini. Usai lebaran ketupat 2017 lalu, di tengah lautan manusia berziarah, beliau mendekati saya yang sedang asyik duduk di bawah pohon mangga, sekadar untuk mengatakan jika beliau mendukung lahir bathin dan memberi semangat. Beliau berpesan agar perjuangan beliau dilanjutkan,” urainya.

Sosok yang sangat berjasa dan bersahaja untuk kami. Beliau begitu bersemangat dari satu bulan sebelum keberangkatan. Tapi kadarullah, kehendak Allah berbeda dengan keinginan manusia. Bukan beliau yang mengantar saya, tapi saya-lah yang mengantar beliau, bukan saya yang meninggalkan, tapi saya-lah yang ditinggalkan, menuju peristirahatan terakhir. Rasa hancur, sedih kehilangan menggelayut, namun hidup harus berlanjut (the show must go on). Berbekal do’a-do’a beliau, segenap keluarga dan guru tercinta, akhirnya IIUM merupakan kampus tujuan,” tandasnya.

Akhir September 2018, LoA pun ia peroleh dari IIUM. Sebuah surat yang menasbihkan bahwa Fayadi, pemuda Sekarbela itu merupakan satu-satunya mahasiswa IIUM Malaysia dari NTB. Ia merupakan mahasiswa berprestasi di jurusannya dan memperoleh Dean List yakni gelar akademik untuk mahasiswa yang memperoleh IPK mulai dari 3,6 dan 3,8. Sampai saat ini Fayadi masih mempertahankan IPK 3,8. 

Sebagai gambaran, International Islamic University of Malaysia (IIUM) atau nama lainnya yaitu Universitas Antar Bangsa Malaysia merupakan universitas skala internasional yang berada di Selangor. Kampus ini memadukan disiplin modern dan professional dengan nilai-nilai tradisional dan kebajikan moral secara harmonis. Mahasiswanya di kisaran 10 ribuan lebih, berasal dari 100 negara yang mewakili hampir semua belahan dunia. Jika diprosentasikan sekitar 24% mahasiswa asing dari total jumlah keseluruhan. Kampus ini menyediakan berbagai macam beasiswa bagi semua mahasiswa berprestasi di semua jurusan.

IIUM menyediakan pelayanan serta pendidikan tinggi terbaik di semua cabang pengetahuan. IIUM sendiri merupakan Lembaga Umum yang didanai oleh Universitas Malaysia. Disponsori delapan (8) Lembaga pemerintahan yang berbeda dari Organisasi Konferensi Islam (OIC). 

Universitas ini memiliki beberapa kampus yang terletak di Gombak; Selangor, Kuantan dan Petaling Jaya. Sebanyak 17 fakultas serta berbagai fasilitas dan lembaga tersebar di beberapa negara bagian Malaysia dengan spesialisasi masing-masing. IIUM terkenal dengan perpustakaan Hukum-nya yang luas, memiliki pusat penelitian yang mentereng sehingga tak heran fakultas ini melahirkan ahli debat yang mumpuni.

Kampus utama terletak di Gombak dengan luas sekitar 700 hektar atau 2,8 Km2. Gombak-Selangor merupakan wilayah pinggiran ibukota Kuala Lumpur. Bangunan kampus ini bergaya Islam eksentrik nan elegan dikelilingi oleh perbukitan hutan kapur dan sangat menarik bagi penyuka fotograpi untuk mengabadikan setiap momen ekslusif kampus ini. 

Fasilitas yang dibutuhkan kaum milineal atau yang bergaya hidup modern semua disediakan oleh kampus tersebut. Semisal masjid dengan kapasitas ribuan jama’ah, asrama, kompleks olahraga plus kolam renang dengan ukuran sekelas olimpiade, perpustakaan yang lengkap, klinik kesehatan 24 jam, pusat pengawasan anak, bank, kantor pos, restoran, toko buku, kantin dan toko klontong. Komunikasi dapat dilakukan dengan mudah antar fakultas. Demikian pula akses dari Kuala Lumpur ke setiap kampus sangat mudah dan murah hanya dengan menggunakan moda transportasi seperti bus, taxi atau metro.

Negeri yang familiar dengan Menara Kembar-nya ini merupakan tempat yang nyaman dan aman untuk menuntut ilmu. Kampus biru yang berkilauan dari kejauhan dengan bangunan batu pasir sebagai penciri utama kampus high class ini menanti dengan pasti anak bangsa untuk menaklukkannya.  Harap kami, semoga lancar studi, semakin jaya dan menjadi Tuan Guru masa depan yang dicintai umat. Good luck for you. [Siti Rahmi-Humas M2M].

INFO TENTANG MAN 2 MATARAM JUGA BISA DILIHAT DI:

IG:Humas MAN 2 Mataram

FB:Humas MAN 2 Mataram

YTT:Humas MAN 2 Mataram

www.manduamataram.sch.id
Email: humasman2mataram@gmail.com 




8485

INFORMASI LAINNYA