IMLEK: AKULTURASI BUDAYA DENGAN CINE LEK LOMBOK

Selasa, 16 Februari 2021 08:55

IMLEK: AKULTURASI BUDAYA DENGAN CINE LEK LOMBOK
Gambar- Perayaan Imlek di Lombok- terlihat jalanan lengang dan lampion di salah satu Klenteng di kota Toea Ampenan

Mataram- Biasanya seputaran awal bulan kedua Masehi, ketika menyusuri jalanan utama Cakranegara selalu dipenuhi dengan lampion merah saga. Kali ini suasana berbeda terlihat. Jalanan begitu lengang, hanya beberapa toko dan hotel yang memasang lampion. Hal ini karena pesona dari Covid-19 belum memudar.

Suasana sedikit meriah namun syahdu diperoleh saat melintasi Klenteng Agung dan Vihara di seputaran Ampenan dan Sweta. Warna merah menutupi hampir semua bagian klenteng. Tak mengherankan, karena etnis Tionghoa di Lombok ini tengah merayakan Imlek (Tahun Baru Cina).

Lombok, meski dikenal dengan Pulau Seribu Masjid, namun tidak bisa dipungkiri jika pulau ini juga ditinggali berbagai etnis. Karenanya Lombok juga dikenal sebagai daerah pluralis. Sebab, di samping dihuni oleh suku Sasak, juga dihuni oleh etnis Tionghoa, Bali, Jawa, Arab, Bugis, Sumbawa dan Mbojo (Bima dan Dompu).

Bahasa yang digunakan pun beragam. Sebagian besar menggunakan bahasa Sasak sebagai bahasa pergaulan sehari-hari dan sebagian lainnya menggunakan Bahasa Bali, Jawa dan Cina. Sedang etnis Arab di Lombok menggunakan Bahasa Indonesia dengan dialek Melayu dan juga bahasa Sasak.

Tentu kebahagiaan etnis Tionghoa ini masih terasa. Meski Imlek sudah beberapa hari berlalu. Sampai hari ini, Imlek memasuki usia 2572 tahun dan dikenal dengan Tahun Kerbau. Jika ditilik dengan keberadaan etnis Tionghoa ini usianya sungguh sangat tua. Hal ini bisa dipahami, karena etnis ini merupakan etnis terbesar di dunia. Tersebar di se-antero bumi.

Konon, seperlima penduduk bumi ini merupakan orang Cina. Karenanya Imlek hampir dirayakan oleh seluruh dunia di mana terdapat orang Cina, keturunan Cina atau Pecinan. Negara yang bertetangga dengan Cina juga turut merayakan Imlek. Semisal Korea, Jepang, Taiwan, Vietnam, Mongolia, Nepal dan Bhutan.

Sebagai salah satu budaya khas milik komunitas Tionghoa, Imlek rupanya dapat menjelma dalam kehidupan masyarakat Indonesia, dan diterima sebagai entitas baru karena merupakan salah satu wujud dari adanya bentuk solidaritas sosial etnis Tionghoa kepada masyarakat setempat. 

Etnis Tionghoa atau ‘Dengan Cine’ (orang Cina) demikian masyarakat Sasak suka menyebutnya, meski merupakan kaum non Sasak tulen, namun keberadaannya mampu memberikan warna tersendiri dan telah mampu merebut hati masyarakat asli di Indonesia.

Etnis Tionghoa dengan segala macam bentuknya secara tidak langsung telah mempengaruhi perkembangan kultural di sebagian besar wilayah Indonesia, mulai dari arsitektur, seni, perdagangan, agama hingga perayaan ajaran agamanya. Imlek merupakan salah satunya. Perayaan tahun baru Imlek merupakan perayaan tradisi tertua, terpenting dan selalu dinanti dalam kehidupan komunitas Tionghoa.

Perayaan ini juga dikenal sebagai chunjié (festival musim semi/spring festival), nónglì xinnián (tahun baru), atau guònián atau sin tjia. Kata ‘Imlek’ berasal dari kata im yang berarti bulan, dan lek yang berarti penanggalan berasal dari dialek Hokkian atau Mandarinnya yin li yang berarti kalender bulan.
 
Setiap tanggal 1-15 pada bulan pertama penanggalan kalender Cina, Imlek dirayakan. Perayaan tahun baru Imlek (chúxi) dimulai di hari pertama bulan pertama (bahasa Tionghoa; pinyin: zheng vuè) di penanggalan Tionghoa dan berakhir dengan Cap Go Meh di tanggal kelima belas pada saat bulan purnama. Kegiatan ini menggabungkan perhitungan matahari, bulan, dua energi yinyang, konstelasi bintang atau astrologi shio, 24 musim, dan lima unsur (air, api, tanah, logam dan kayu).  

Sekaitan dengan perayaan Imlek, di beberapa tempat telah mengalami akulturasi budaya, seperti di Lasem, Rembang. Bahkan persatuan masyarakat Jawa dan Cina di sana disebut Ampyang. Ketika Imlek datang, masyarakat Ampyang bahu-membahu mensukseskan kegiatan ini. Yogyakarta ada Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) dengan mengadakan berbagai lomba. Salah satunya adalah ajang pemilihan Koko dan Cici yang diikuti oleh warga Rembang non Tionghoa sendiri.

Demikian juga dengan beberapa daerah perayaan ditandai dengan menyalakan kembang api, parade, dan barongsai. Tak terkecuali di Lombok. Dengan Cine di Lombok sudah menyatu dengan masyarakat setempat. Hal ini bisa dilihat dengan adanya pernikahan dengan warga Lombok. Mereka juga piawai berbahasa Sasak dan memahami budaya serta adat istiadat di Lombok. Meski tidak semuanya Muslim, namun jalinan kekerabatan dan persaudaraan bisa terlihat.

Ketika Imlek datang, Dengan Cine Muslim Lombok yang bermukim di seputaran Cakra, Praya atau pun Gerung juga berbahagia karena even ini bisa dijadikan sebagai ajang silaturrahim dengan keluarga Tionghoa mereka. berkumpul bersama keluarga besar disertai jamuan makan dan pembagian angpao (THR) sebagaimana perayaan Lebaran oleh kaum Muslim di Indonesia pada umumnya.

Masa Orde Baru lalu, Imlek sempat dilarang perayaannya dengan dikeluarkannya Instruksi Presiden N0. 14 tahun 1967. Zaman Abdurrahman Wahid menjadi Presiden, masyarakat Tionghoa boleh berlega hati. Saat Gusdur berkuasa, Inpres tersebut dicabut dan digantikan dengan Kepres Nomor 19/2001 yang memuat tentang Imlek resmi dijadikan sebagai libur fakultatif di tanah air. Malah, saat Megawati naik tahta di seputaran tahun 2003, Imlek resmi dijadikan sebagai hari libur Nasional.

Sejak saat itu, mereka boleh berekspresi meng-agungkan simbol etnis mereka, namun tidak melupakan tempat tinggalnya saat ini. Boleh dikatakan masyarakat Tionghoa boleh mempertahankan ke-Tionghoa-annya dengan tidak melupakan rasa ke-Indonesia-annya.

Kebebasan berekspresi tersebut tidak hanya dilakukan dalam rangka menyambut Imlek, namun juga dalam rangka menyambut perayaan Peh Cun dan perayaan Tong Chiu Pia atau sering disebut perayaan Kue Bulan. Bagi masyarakat Tionghoa, ketiga perayaan ini tidak saja sangat penting bagi kehidupan praktek tradisional atau ritual, namun juga sebagai simbol identitas etnis mereka di tengah masyarakat multikultural setelah lama mati suri pasca runtuhnya rezim Orde Baru.

Kemeriahan Imlek setiap dekade, memunculkan pemahaman yang beragam dari masyarakat. Imlek dengan berbagai simbolnya tentu akan melahirkan pemaknaan yang berbeda pada siapa saja dan dimana saja, tergantung cara orang memandangnya.

Ada yang beranggapan bahwa Imlek adalah sebuah tradisi budaya, ritual ibadah yang sakral, ajang bagi-bagi angpao, bahkan tak jarang banyak masyarakat keturunan Tionghoa yang tidak merayakannya, dan menganggap Imlek biasa-biasa saja.

Meminjam istilah Sudono Cs, pakar Budaya Universitas Gadjah Mada, perayaan Imlek merupakan suatu bentuk re-orientasi dan re-interpretasi budaya. Hal ini menunjukkan telah berlangsungnya diskursus budaya pada masyarakat lokal Tionghoa dengan masyarakat setempat. 

Imlek kini menjadi salah satu wujud kekayaan kultural yang telah berhasil menempati ruang hati masyarakat Indonesia dan mampu memberikan makna baru bagi perkembangan akulturasi budaya di tanah air. Sebagai bangsa yang memiliki ragam budaya (multikultur), Indonesia mampu menyatukan ragam budaya itu dengan semboyan lejen-nya yang terkenal yakni ‘Bhinneka Tunggal Ika. Hal ini bisa dilihat dengan kelompok-kelompok etnik atau budaya (etnic and cultural groups) yang ada dapat hidup berdampingan secara damai dalam prinsip co-existence yang ditandai oleh kesediaan untuk menghormati budaya lain. 

Lalu benar-kah mengucapkan Gong Ci Fat Cai yang identik dengan Imlek itu dilarang dalam Islam? Jika ditilik dari arti kalimat tersebut yakni selamat mendatangkan kekayaan dan kemakmuran. Sedangkan ucapan Selamat Imlek bermakna Selamat Tahun Baru Cina. Dimana-kah tempat kesalahan ucapan itu yang menyebabkan dosa? Karena bagi sebagian besar Dengan Cine menganggap Imlek hanya perayaan tradisi budaya, meski bagi penganut Khonghucu, Imlek dianggap sebagai perayaan agama mereka. Hal ini bisa dipahami mengingat Imlek merupakan simbol munculnya tokoh Konfusius di muka bumi. 

Terlepas dari Imlek merupakan perayaan keagamaan maupun tradisi budaya, dalam pandangan Islam mengucapkan selamat Imlek bisa ditilik dari sisi moderasi maupun radikalisme. Dilihat dari ilmu cocokologi, Imlek bagi sebagian kaum Islam garis keras (radikal) menganggap ucapan selamat Imlek atau hari raya agama lain dianggap haram dan dapat meruntuhkan status keislamannya.

Lain halnya dengan kaum Islam moderat, menganggap bahwa sepanjang ucapan selamat Imlek tidak mempengaruhi aqidah, tidak berdosa. Karena kaum ini meyakini Imlek hanya tradisi budaya orang Tionghoa. Budaya kumpul keluarga dan jamuan makan plus bagi-bagi angpao. Tidak ada kegiatan ibadah ketika kumpul-kumpul keluarga ini dilakukan.

Kemudian timbul pertanyaan, jika mengucapkan selamat Imlek kepada saudara Tionghoa dianggap dapat meruntuhkan Aqidah atau nilai ke-islaman seseorang, lalu bagaimana dengan ke-islaman yang dimiliki oleh pemimpin atau pemerintah yang notabene sebagian besar Muslim? Setiap perayaan hari Raya agama lain, mereka tetap megucapkannya, tak terkecuali Menteri Agama. Apakah keislaman mereka diragukan? Waalohu’alam bissawab. Itu urusan ia dan Tuhannya.

Apakah pembaca saat ini termasuk dalam golongan Islam Moderat atau Islam Radikal? Atau pemeluk agama lain? Mari bijak menyikapinya. Gong Ci Fat Cai! [Siti Rahmi- Humas M2M].

INFO TENTANG MAN 2 MATARAM JUGA BISA DILIHAT DI:
IG:  Humas MAN 2 Mataram
FB: Humas MAN 2 Mataram
YT: Humas MAN 2 Mataram
Website: www.manduamataram.sch.id
Email: humasman2mataram@gmail.com 

10223

INFORMASI LAINNYA