BERDIRI SEJAK DIA MEN-DUA: (Refleksi Hari Kartini)

Rabu, 21 April 2021 13:27

BERDIRI SEJAK DIA MEN-DUA: (Refleksi Hari Kartini)

Gambar- Kwartet multi talent MAN 2 Mataram: Jamilah, Rumenah, Rabitah dan Anah 

Mataram- Penulis tergelitik memberi judul tulisan ini sedikit nyentrik. Karena tergoda dengan sebuah warung kecil nan sederhana di pojokan Kota Toea Ampenan. Suatu pagi sebelum Ramadhan menjelang, bertiga kami menyusuri jalanan tua di seputaran Mataram. Iseng mencari sarapan, karena rasanya pagi itu agak malas memasak.

Kami menemukan warung mungil, tertata rapi bertuliskan spanduk yang memprovokasi dan bermakna ambigu, pelan kalimat itu tereja: ‘Jameela.. Berdiri sejak dia mendua’. Ambigu karena bisa saja artinya kedua wanita paruh baya itu namanya sama atau ketika mereka berdua bersua, mereka baru bisa mendirikan usaha atau ada makna lain di balik itu? Entahlah saya sungkan menanyakannya.

Kami bertiga pun saling pandang dengan merk dagang kedua wanita tersebut. Dengan kerling nakal sembari tersenyum plus melirik ke arah menunya. Cukup menggugah selera di pagi nan cerah itu. Varian nasi rawon, nasi goreng dan ayam goreng tertera nyata. Ada dua perempuan setengah baya, sekilas seperti kembar namun beda rupa. Body sama, tinggi dan berisi. Makanan yang disajikan nampaknya fresh from the oven. Makanan disajikan dalam keadaan segar dan pasti lezat. Sebagai penikmat kuliner, tentu itu sesuatu yang istimewa bagi kami.

Meski berumur, keduanya pun cekatan menyiapkan pesanan kami. Sambil menunggu pesanan, kami pun melangkah ke pantai dengan deburan ombak dan riak buih yang memutih. Pagi itu hembusan angin cukup kencang sehingga banyak pelapak yang mulai menggulung tikar yang sudah tergelar. Sepertinya pagi yang cerah tadi  akan diganti dengan hujan deras mengguyur. Kami pun bergegas menuju warung Jameela untuk menikmati menu sarapan yang segar.

Duo wanita itu, entah bersaudara atau bukan, yang jelas mereka kompak, ceria dan kelihatan sekali menikmati perannya sebagai pramusaji.

Sejenak teringat trio kembar asisten kebersihan di MAN 2 Mataram: Jamilah, Rumenah, Rabitah bahkan kwartet ada si Anah di ujungnya. Sesaat ke-empatnya seperti pinang dibelah-belah, dikatakan identik tidak juga. Jika identik tentulah mereka seperti pinang dibelah dua. Mereka bertiga kadang berempat selalu seiring- sejalan, senasib-sepenanggungan. Sosok-sosok yang penuh dedikasi, rajin, disiplin, tawaddu’ dan istiqomah dengan pekerjaan mereka. Berkat tangan-tangan telaten mereka-lah MAN 2 Mataram setiap hari dibuat semakin kinclong nan glowing dari kejauhan.

Mereka semua adalah wanita. Wanita-wanita perkasa; sang wonder women yang bisa melakukan apa saja di usia yang mulai senja. Apalagi di masa pandemi, untuk bertahan hidup mereka bisa jadi siapa saja, bisa mengerjakan apa saja. Mereka bisa jadi ibu, asisten kebersihan, pedagang, bahkan tak jarang mereka dan wanita-wanita di luaran sana mendadak menjadi guru daring bagi anak-anak mereka di kala pandemi. Wanita-wanita itu adalah makhluk mulia yang tak boleh teraniaya.

Banyak cara memuliakan wanita sudah ditunjukkan dalam Islam. Semisal pemberian jatah dalam warisan. Islam pun mengajarkan untuk menghormati ibu tiga kali lipat daripada ayah. Islam memandang wanita sebagai barang mahal, high class, lux dan tentu limited edition yang sungguh susah dicari tandingannya.

Begitu mulianya wanita dalam Islam, sampai surga sudah ditasbihkan berada di bawah telapak kaki ibu yang juga seorang wanita. Islam menjamin seorang wanita yang memiliki tiga putri dan merawatnya dengan baik, dengan balasan surga di akhirat dan masih banyak lagi bukti Islam benar-benar memuliakan wanita.

Karena alasan-alasan inilah dalam Islam tidak ada perayaan seperti hari perempuan atau hari ibu atau hari wanita lainnya. Meski di era modern ada, ulama’ pun tidak melarang atau meng-iyakan adanya peringatan hari -hari itu. Tidak ada alasan melarang, kecuali sebatas menganggapnya baik dan tidak menimbulkan riak.

Demikian juga dengan hari Kartini, ulama nyaris tidak pernah mendebatnya. Bahkan karena jasa spektakulernya memperjuangkan nasib wanita, melalui Kepres No. 108 Tahun 1964 oleh Presiden Soekarno kala itu, akhirnya kaum wanita pribumi yang terbelakang bisa disetarakan nasibnya dengan kaum pria.

Sebagai pelopor emansipasi wanita, tentu Kartini merupakan sosok panutan (role model) bagi masyarakat se-Nusantara. Bagaimana tidak, tokoh yang memperjuangkan nasib kaum wanita ini begitu gigih memperjuangkan nasib kaumnya. Sayang sekali, di usia yang begitu muda yakni 25 tahun beliau meninggal usai melahirkan putra pertama. Meski begitu semangat juang dan rasa kepedulian terhadap kaum wanita masih terasa sampai hari ini.

Dulu, di dunia Barat diskriminasi wanita bahkan lebih sadis dan menjadi salah satu sejarah kelam manusia di dunia. Dunia Barat bergerak dengan sangat ekstrem dari satu kutub ke kutub lainnya Berawal dari eksisnya Gerakan Feminisme Ekstrem era 60-an di abad ke-20 yang dimobilitasi oleh wanita Barat. 

Gerakan ini dianggap wajar. Karena potensi yang membentuknya juga kuat sampai saat ini. Bahkan kaum muslimah mengadopsinya ke dalam tradisi ketimuran kita sampai ke dalam Islam. Padahal peradaban Islam dan Barat jauh berbeda, sehingga jika aliran ini dibawa ke dalam Islam, maka menjadi sangat timpang. Ibarat api jauh dari panggangnya. Tidak nyambung. Konslet parah bahkan tidak berhubungan sama sekali.

Feminism atau kesetaraan gender versi Barat ini sangat keterlaluan dan bertentangan dalam Islam. Kaum pria diperlakukan bak raja dan kaum wanita seperti hamba sahaya. Ironis memang, bahkan pengukuhan itu dilakukan dengan mengatas-namakan budaya dan peradaban bahkan agama dan moral. Kesetaraannya terlalu ekstrem sehingga efeknya nanti akan melahirkan kaum-kaum ekstrem lainnya. Sejatinya hal ini bertentangan dengan spirit Islam yang dibawa Rasulullah. 

Perspektif al-Qur’an membuktikan bahwa Allah selalu memposisikan pria dan wanita dalam posisi yang sama, tidak ada diskriminasi. Ini membuktikan bahwa Islam telah mengangkat derajat kaum wanita, sehingga terjadi kesetaraan antara wanita dan pria.

Di hari Kartini ini, seharusnya kita sudah bisa melihat perempuan (baca: wanita) sebagai manusia layaknya melihat laki-laki adalah manusia, keduanya sama-sama makhluk ciptaan Allah untuk menyembah-Nya dan memakmurkan bumi ini. Keduanya diciptakan bukan untuk membuat rasisme tetapi untuk saling melengkapi dalam artian melakukan hal-hal sesuai kodratnya.

Wanita dengan fitrahnya, ia menjadi ibu, istri, adik atau kakak. Dalam banyak hal, wanita banyak memegang peran penting. Karenanya, kaum pria tak bisa menandinginya. Wanita adalah makhluk Tuhan yang paling sexy, serba bisa, multi-talent, makanya tidak berlebihan jika ungkapan ‘no woman no cry’ benar adanya. Every man needs a woman when his life is a mess, because just like the game of chess- the queen protects the king”. Setiap pria membutuhkan wanita ketika hidupnya berantakan, layaknya permainan catur- Ratu-lah yang melindungi Raja.

Cuplikan kalimat ‘No Woman No Cry’ merupakan salah satu bait lagu karya agung sang legendaris Bob Marley itu seringkali dimaknai salah kaprah oleh orang. Lagu yang diduga ungkapan patah hati seseorang sehingga orang beranggapan jika tidak ada wanita tidak perlu menangis atau kaum pria jangan pernah bergantung dengan wanita.

Menyitir kata no dalam dialek Jamaika, sesungguhnya bermakna don’t (jangan). Jadi, arti sesungguhnya dari lagu tersebut yakni melarang seorang gadis untuk menangis. Bisa jadi, sebagai bentuk meyakinkan seseorang agar jangan larut dalam kesedihan. Lagu ini dipersembahkan Bob untuk sang istri, tentang kehidupan mereka di Jamaika, sebuah negara miskin yang penuh dengan penderitaan. Hidup penuh keterbatasan di lingkungan padat penduduk yang kumuh, membuatnya harus bisa berbagi, baik itu tempat maupun makanan. Dalam ukuran makro, lagu ini untuk menyemangati sesiapa pun agar jangan larut dalam kesedihan. Mari bangkit untuk berekspresi dan berkreasi.

Gayut dengan makna yang diwariskan sang Lejen, penulis juga memaknainya jika wanita itu merupakan makhluk mulia sehingga jika ketiadaannya, seseorang tentu tidak mungkin lahir. Demikian juga dengan sosok Jameela sang pemilik warung pun demikian adanya. Pun kwartet Jamilah, Rumenah, Rabitah dan Anah. Mereka adalah sosok-sosok yang serba bisa, selalu sedia di mana pun, kapan pun dibutuhkan. Sebuah kewajaran untuk memuliakan mereka, apa pun profesinya, apa pun kastanya. Karena mereka melakukan pekerjaan mulia, demi keluarga tercinta. 

Pantang bagi kita untuk tidak berterima kasih kepada mereka dan wanita-wanita lain dengan perjuangan yang sama, karena dedikasi yang tak terbantahkan lagi. Demikian juga dengan ibu kita, istri kita, adik kita, saudara kita, kakak kita, guru wanita kita, calon istri dan wanita-wanita mulia di belahan dunia sana. Sepatutnya kita berbakti kepada ibu kita, makhluk yang diciptakan paling cantik dan serba bisa di dunia.

Oleh karenanya, salut bagi kaum pria yang memuliakan dan menjadikan wanita-nya Ratu dan Datu (the great boss) dalam hidupnya. 

Teruntuk semua wanita: tetaplah menjaga fitrahmu agar senantiasa mempesona. SELAMAT HARI KARTINI (HAPPY KARTINI’S DAY). [Siti Rahmi-Humas M2M].


INFO TENTANG MAN 2 MATARAM JUGA BISA DILIHAT DI:

IG:  Humas MAN 2 Mataram

FB: Humas MAN 2 Mataram

YT: Humas MAN 2 Mataram 

Website: www.manduamataram.sch.id

Email: humasman2mataram@gmail.com


35678

INFORMASI LAINNYA