MERDEKA BELAJAR: JANGAN ANGET-ANGET TAI AYAM

Minggu, 02 Mei 2021 16:55

MERDEKA BELAJAR: JANGAN ANGET-ANGET TAI AYAM

Gambar- Ilustrasi merdeka belajar-outing class atau moving class

Mataram- Korean Wave melanda ratusan juta kawula muda bahkan orang tua di berbagai belahan dunia tak terkecuali di Indonesia.  Saya termasuk salah satunya. Saya menyukai segala hal tentang Korea. Apapun yang berhubungan dengan Korea semua saya pelajari dengan senang hati. Saya bahkan tidak memerdulikan komentar miring orang-orang tentang kegilaan saya belajar tentang Korea. Apalagi ditambah ketika bertemu dengan salah seorang warga Korea yang Mu’allaf; Ali An Seun Gun namanya. 

Bersua dengan beliau di paruh 2016 lalu sambil menyodorkan buku karyanya yang berjudul: Tuntutlah Ilmu ke Korea. Beliau pernah menjadi staf ahli salah satu anggota DPR RI 2014 lalu. Beliau datang ke Lombok atas undangan Lembaga kami sebagai salah satu pembicara pada Konferensi Internasional, bersanding dengan pembicara dari sembilan negara (Saudi Arabia, United Kingdom, Afrika, Korea, Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, dan Philiphina) termasuk Fadhilatul Syeikh Majid Said Mas’ud Salim Rahmatullah Mudir Madrasah Al-Shaulatiyah Makkah semasa hayat beliau, (meninggal 29 April 2021, Allahuyarham) juga sebagai Keynote Speaker 1stAnnual International Conference of Islamic Organization of Nahdlatul Wathan (1st AICIONW) kala itu.

Karib Prof. Fahrurrozi Dahlan ini mengetahui jika saya suka belajar tentang Korea, mungkin berkat cerita sang Profesor. Kini beliau telah berpindah warga negara menjadi orang Indonesia.Terus terang, pak Ali bukan idola saya. Terlebih beliau bukan ahli pendidikan atau tokoh pahlawan. Namun, paling tidak ketika bertemu beliau, saya sedikit terprovokasi atau tepatnya termotivasi untuk belajar. Dengan kemampuan Bahasa Indonesia yang semakin hari semakin terasah, membuat saya takjub. Tidak ada hari tanpa belajar.

Pak Ali, demikian saya memanggilnya hanya merupakan salah satu di antara miliaran penduduk dunia yang ketika belajar selalu all out, tidak main-main apalagi anget-anget tai ayam (jargon masyarakat Indonesia yang konon bangga dengan budaya tidak seriusnya).

Itu sebabnya pak Ali atau warga negara lain tidak pernah merasa takut meski jauh dari negara asal mereka. Hal positif inilah yang mestinya di adopsi dan ditiru oleh masyarakat Indonesia, sehingga kemana pun warga Indonesia melangkah ia selalu merasa menjadi bagian dari umat di dunia. Selalu diterima di manapun ia berada.

Isi buku tersebut sebenarnya hal yang biasa, tak lain adalah tentang bagaimana memahami budaya, bahasa dan adat istiadat orang Korea, terutama Korea Selatan. Itu sebabnya, buku beliau dirasa tepat untuk menemani saya ketika itu yang ‘tergila-gila dengan Korea’. Mungkin efek suka, jadi semua serba asyik dan menakjubkan. Ini bukan menafikan saya sebagai orang Indonesia asli yang melupakan identitasnya. Tetapi cerita ini paling tidak bisa menjadi contoh dengan mengambil sisi positif dari salah satu negara sahabat.

Meski garis besar isi buku itu tentang Korea, namun satu hal yang bisa saya ambil pelajaran setelah membacanya, yakni: attitude (adab), semangat dan disiplin orang Korea dalam belajar. Tidak tanggung-tanggung, jika orang Korea ingin belajar sesuatu maka mereka akan langsung belajar kepada ahlinya. Hal ini mungkin karena mereka menyadari bahwa sebagai warga dunia, tak ada batas, tak ada jarak dan ruang yang berarti bagi mereka jika ingin ahli dalam bidang tertentu. Mereka juga sangat menghormati dan menjunjung tinggi sosok guru dan orang yang menguasai ilmu pengetahuan. Demikian pula dalam Islam. 

Jika ungkapan: Tuntutlah Ilmu sampai ke Negeri Cina merupakan hal yang lumrah, biasa dan selalu kita dengar dan ucapkan. Ini untuk menggambarkan bahwa betapa luas dan tidak ada batasnya menuntut ilmu itu, maka ungkapan ‘Tuntutlah ilmu sampai ke Negeri Korea’ oleh pak Ali ini sebenarnya ingin menekankan bahwa Korea adalah negara terbuka yang bisa menerima siapa saja untuk belajar. Pun demikian dengan buku versi lain pak Ali: tuntutlah Ilmu ke Indonesia. Hal ini untuk mengajak orang Korea bahkan negara lainnya bahwa ada banyak hal indah yang bisa di pelajari di Indonesia.

Pak Ali mengaku sangat mencintai segala hal yang berbau Indonesia. Keramahan penduduknya, iklim dan kekayaan alamnya, serta hal-hal yang membuatnya selalu rindu dengan Indonesia jika ia berada jauh di belahan dunia lain. Itu sebabnya tanpa ragu beliau rela berpindah kewarganegaraan.

Dalam perspektif penulis, dua hal fundamental yang dapat diambil dari cerita di atas terkait seseorang agar senang belajar. Pertama etika dan yang kedua estetika. Etika dalam hal ini adalah semangat ingin mengetahui sesuatu dengan mendisiplinkan diri, memiliki karakter yang kuat untuk mengetahui sesuatu serta kesopanan dalam menuntut ilmu. Estetika atau nilai yakni rasa senang, indah, nyaman, dan nikmat dalam belajar. Kedua hal ini wajib ada bagi pebelajar sejati, sehingga tujuan dari apa yang diinginkan dalam belajar dapat tercapai dengan baik dan tepat sasaran. Pendidikan tak berbatas demikian penulis menyebutnya.

Pendidikan adalah cara terbaik dalam rangka mencetak generasi bangsa yang unggul dalam berbagai bidang. Demikian pula dengan pendidikan di Indonesia maupun Korea. Indonesia maupun Korea hanya dua negara contoh saja, bagaimana sesungguhnya attitude atau adab seseorang ketika menuntut ilmu. Dengan pendidikan, nilai luhur budaya bangsa akan dapat diwariskan untuk generasinya. 

Namun, dalam memilih model pendidikan, suatu bangsa harus memperhatikan budaya yang telah melekat menjadi karakter bangsa tersebut. Bangsa Indonesia sebagai bangsa yang mayoritas penduduknya memeluk agama Islam memiliki budaya ke-Timur-an yang tertuang dalam sistem pendidikan Islam yang tentunya berbeda dengan pendidikan Barat dengan corak sekulernya. 

Inti dari pendidikan Islam sebenarnya terletak pada pendidikan nilai, karena tujuan dari pendidikan adalah mendidik perilaku manusia yang di dalam ajaran Islam dikenal dengan mendidik akhlak mulia yang berdasarkan Al-Quran dan Hadits. Penulis menyukai pengertian nilai ala Muhmidayeli yang menyatakan jika nilai itu merupakan gambaran sesuatu yang indah, yang mempesona, menakjubkan, yang membuat kita bahagia dan senang serta merupakan sesuatu yang menjadikan seseorang ingin memilikinya.

Hal ini menggambarkan bahwa belajar itu adalah seni atau estetika. Karena dalam belajar itu ada semacam keindahan yang mengalir syahdu dalam darah sehingga membuat sang pebelajar tidak ingin mengakhirinya karena memiliki kenikmatan tersendiri.

Kenikmatan belajar itu tidak mesti memilih seperti apa wujud kurikulum itu. Pun demikian dengan kurikulum Korea maupun Indonesia yang sama-sama padat (baca: ketat: rigid). Sepanjang sang pebelajar menikmatinya, tidak ada masalah. Namun kenikmatan belajar tentu tidak dimiliki setiap orang. Itulah sebabnya Mas Menteri menggaungkan Merdeka Belajar dengan sangat masif sebagaimana tema hari Pendidikan hari ini; bergerak serentak untuk merdeka belajar.

Merdeka belajar sesungguhnya bukanlah sesuatu yang harus dijalani seseorang ketika belajar dengan seenaknya, melainkan ada aturan hukum yang menjadi rambu-rambunya. Merdeka belajar mirip dengan program pembelajaran yang memfasilitasi siswa untuk memperkuat kompetensi dengan memberi kesempatan menempuh pembelajaran di luar jurusan yang sama dan/atau menempuh pembelajaran pada jurusan yang sama di institusi yang berbeda, pembelajaran pada jurusan yang berbeda di lembaga yang berbeda; dan/atau pembelajaran di luar lembaga atau institusi pendidikan.

Merdeka belajar baik untuk madrasah atau kampus merdeka merupakan wujud pembelajaran yang otonom dan fleksibel sehingga tercipta kultur belajar yang inovatif, tidak mengekang dan sesuai dengan kebutuhan siswa. Struktur kurikulumnya pun dibuat tidak rigid, sehingga rekonstruksi kurikulum di era ini meringankan siswa.

Gambarannya kira-kira seperti ini: nuansa pembelajaran akan dimuat senyaman mungkin untuk memudahkan siswa berdiskusi lebih banyak dengan guru. Jika belajar secara umum dilakukan di dalam kelas, maka dalam merdeka belajar akan dirancang lebih sering outing class atau moving class dan siswa tidak hanya mendengarkan penjelasan guru, tetapi karakter siswa yang diutamakan. Siswa juga dituntut untuk bisa berpikir tingkat tinggi, punya karakter mandiri, cerdik, berani, sopan, berkompetensi dan tidak hanya mengandalkan sistem ranking yang selama ini membuat siswa dan orang tua resah. Dalam kurikulum ini anak diharapkan lebih kompeten, siap menghadapi dunia kerja serta berbudi luhur di lingkungan masyarakat.

Konsep merdeka belajar ini sebenarnya sudah diperkenalkan oleh Kementerian Agama sejak 2018 lalu, tetapi gaungnya belum terasa, karena tidak disosialisasikan secara masif. Tak heran jika sebagian kecil saja yang mengetahuinya, itu pun tidak terlalu dipahami implementasinya. Sepertinya merdeka belajar di madrasah bentuknya lebih kepada kreativitas dan inovasi yang dilakukan oleh guru dalam mengajar. Istilahnya ada kelenturan dalam mengelola kurikulum. Pembelajaran lebih ditekankan pada peserta didik (student centered) bukan lagi guru sebagai satu-satunya sumber belajar.

Dalam merancang kurikulum merdeka ini, setiap lembaga atau institusi pendidikan diberikan kebebasan, tentu dengan tidak mengenyampingkan keseriusan pengelolaannya. Entah siswa melakukan program magang atau ada beberapa mata pelajaran yang dirampingkan dan ada juga yang dihapus jika tidak prinsip. Sehingga durasi belajar siswa menjadi lebih cepat. Mirip dengan program akselerasi. Sehingga dengan adanya program merdeka belajar ini diharapkan adanya perkawinan silang antara perguruan tinggi dan dunia kerja atau perkawinan silang antara madrasah dengan perguruan tinggi nantinya.

Titik fokusnya yakni adanya merdeka belajar dapat memberikan kemudahan baik bagi pebelajar, pengajar maupun institusi dalam meramu kurikulum yang baik, ringan, dan menguntungkan semua pihak. Bukan program anget-anget tai ayam yang hanya membara di awal lalu redup dan mengerucut di akhir bahkan tinggal baunya saja atau menghilang tanpa bekas. 

Intinya dalam merdeka belajar diperlukan etika dan estetika. Etika yang tetap mengedepankan adab, karakter, kesopanan dan rasa ingin tahu yang tinggi, disiplin dan memiliki daya nalar yang tinggi. Estetika yang mengedepankan kenyamanan, ketenangan, dan tentu rasa nikmat dan bahagia dalam belajar.

Selamat Hari Pedidikan Nasional. Serempak Bergerak dalam Mewujudkan Merdeka Belajar. (Siti Rahmi. Penulis adalah Peneliti tentang Budaya dan Bahasa Korea, Pengajar bahasa Inggris dan Korea MAN 2 Mataram-Humas M2M].

INFO TENTANG MAN 2 MATARAM JUGA BISA DILIHAT DI:

IG:  Humas MAN 2 Mataram

FB: Humas MAN 2 Mataram

YT: Humas MAN 2 Mataram 

Website: www.manduamataram.sch.id

Email: humasman2mataram@gmail.com



22889

INFORMASI LAINNYA