INDAHNYA HIDUP KITA YANG TENTUKAN: (Euphoria Lebaran Topat)

Jumat, 21 Mei 2021 18:58

INDAHNYA HIDUP KITA YANG TENTUKAN: (Euphoria Lebaran Topat)

Gambar- Euphoria Lebaran Topat di MAN 2 Mataram. (Gambar kiri-atas diambil dari Ketupat lebaran.//instagram/@ahmadesaar)

Mataram- Manusia dilahirkan di muka bumi ini dengan segala permasalahan hidup yang kompleks. Sebagai makhluk Allah-Tuhan Yang Maha Esa, manusia diciptakan paling sempurna di antara makhluk lainnya. Dengan segala kelebihannya, sepatutnya manusia bersyukur atas apa yang dikaruniakan kepadanya.

Salah satu bentuk kesyukuran itu adalah dengan cara memberi tanpa harus berharap menerima. Sebagai manifestasi ungkapan tersebut, masyarakat Lombok bersuka-cita merayakan salah satu kegiatan Syawalan yang biasa dilakukan setiap tahun, yakni Lebaran Topat.

Lebaran Topat atau Lebaran Ketupat merupakan kegiatan turun-temurun yang selalu dilakukan oleh masyarakat suku Sasak di Lombok setelah menyelesaikan puasa sunnah enam hari usai perayaan Hari Raya Idul Fitri. Tak terkecuali warga madrasah di MAN 2 Mataram. Meski hanya urunan mengeluarkan makanan matang, tidak menyurutkan euphoria warganya untuk merayakan Lebaran Topat tahun ini. 

Khusus masyarakat Lombok, Lebaran Topat memiliki filosofi tersendiri. Konon lebaran ini sangat disakralkan oleh orang Sasak, terutama penganut Waktu Telu. Dulu, kaum ini mengawali perayaan lebaran topat dengan sholat qulhu sataq. Kata ‘Qulhu’ berasal dari qulhuwallohu ahad dan sataq artinya 200. Dengan demikian shalat qulhu sataq bermakna sholat dengan membaca surat al Ikhlas sebanyak 200 kali. Bagi penganut waktu lima, ritual ini tidak dilakukan.

Topat bagi kaum Sasak memiliki makna dan simbol tertentu. Topat merupakan makanan khas dan bagian dari khazanah kearifan lokal masyarakat Sasak untuk mengingatkan manusia pada asalnya. Ketupat yang berbentuk segi empat bermakna bahwa manusia terdiri dari empat unsur utama: air, tanah, api dan angin. Bahan utama topat adalah beras yang merupakan makanan pokok masyarakat Indonesia.

Bagi orang Jawa, ketupat melambangkan nafsu dunia yang dibungkus dengan kasih sayang. Sementara anyaman daun kelapa melambangkan tentang kompleksitas masyarakat yang harus diikat dengan tali silaturahmi. Bentuk ketupat seperti jajaran genjang persegi diceritakan sebagai arah kiblat atau mata angin. Beras menggambarkan nafsu. Jadi, lebaran topat berarti menyambut keberhasilan muslim menjaga nafsunya.

Tradisi makan berame-rame kadang disebut begibung ini oleh masyarakat Sasak sesungguhnya merupakan ajang untuk silaturrahim, halal-bihalal dengan keluarga, handai taulan, kolega atau rekan kerja, pun ajang bersuka cita karena telah berhasil merampungkan puasa Wajib bulan Ramadhan.

Bahkan even Lebaran Topat ini diyakini oleh Suku Sasak sebagai ajang menyucikan diri dari segala niat dan sifat tidak baik dan menyembuhkan berbagai macam penyakit, seperti dengki, iri hati, pendendam, pemarah, mudah berprasangka buruk kepada orang lain, dan segala penyakit yang mendatangkan bencana. Oleh karena itu, banyak orang Sasak menyiramkan air di kepala yang sudah disediakan pada hari lebaran tersebut agar beroleh keberkahan dan mengunjungi makam para leluhur, tokoh masyarakat dan tokoh agama untuk berdo’a. 

Kebiasaan turun-temurun ini sama halnya dengan kebiasaan mencukur rambut bayi atau ngurisang pada saat aqiqah, namatan (ketika khatam al-Qur’an) atau begibung dengan pesaji’ (makan bersama-sama dengan nampan besar) yang diantarkan, lalu kemudian ada tradisi Lebaran Topat. Masyarakat Sasak kerap menyebut lebaran ini sebagai lebaran kedua setelah hari Raya Idul Fitri yang dijadikan sebagai lebaran utama.

Di samping itu, ketika lebaran ini digelar masyarakat juga mengunjungi pantai sambil membawa bekal ketupat disertai lauk-pauknya. Kemudian masyarakat akan makan ketupat secara bersama-sama. Kegiatan ini sesungguhnya telah menyisipkan pesan moral di dalamnya, bahwa berbagi dengan sesama itu dapat mengeratkan tali silaturrahim, merekatkan hubungan, simbol kekompakan atau keakraban. 

Tradisi Lebaran Topat ini ternyata tidak hanya dirayakan di Lombok, tapi ada beberapa daerah yang juga sudah rutin merayakannya. Seperti halnya daerah Trenggalek, spesial di daerah Durenan. Lebaran Ketupat dinamakan Kupatan dan dilakukan dengan cara semua penduduk melakukan open house, dimana semua orang boleh makan meski bukan penduduk asli.

Ada juga Madura yang merayakan lebaran topat pada hari ke-8 bulan Syawal. Tradisi penduduk setempat menyerahkan hidangan ketupat lengkap dengan segala perniknya ke Imam Masjid, baru kemudian warga akan berkumpul menikmati ketupat bersama-sama.

Lain Durenan dan Madura, lain pula dengan Kudus. Daerah ini merayakan lebaran ketupat dengan melakukan kirab, pawai atau bahasa kerennya long-march gunungan seribu ketupat dan melakukan tradisi ziarah ke makam salah satu Wali Songo yakin Sunan Muria. Di Manado, ternyata tradisi lebaran ketupat juga ada, yakni masyarakat saling mengunjungi seperti lebaran Idul Fitri.

Magelang, salah satu desanya yakni Payaman melakukan tradisi lebaran topat dengan menerbangkan balon tradisional yang terbuat dari plastik ke udara sebagai tanda syawalan atau datangnya bulan Syawal. Pun di desa Tambak Lekok-Pasuruan, merayakan Lebaran Topat gak kalah menariknya, yakni dengan menggelar lomba skilot. Skilot merupakan lomba adu cepat dengan berselancar di atas lumpur.Perayaan lebaran topat di Rembang mirip dengan yang dilakukan di Madura, namun tradisi ini biasanya dilakukan setelah shalat Subuh dan setelah shalat Magrib di Gresik.

Seiring berjalannya waktu dan bergantinya generasi, kini perayaan lebaran topat di Lombok tidak hanya sebatas melakukan ritual. Namun, telah menjelma menjadi ajang kumpul keluarga dan rekreasi bahkan sebagai cikal bakal terjalinnya sikap toleransi antar dua agama yang berbeda. Yakni Islam dan Hindu. Kegiatan antar dua agama ini dikenal dengan istilah perang topat. 

Perang topat adalah sebuah acara adat yang diadakan di Pura Lingsar, Lombok, Nusa Tenggara Barat. Perang ini merupakan simbol perdamaian antara umat Muslim dan Hindu di Lombok. Perang yang dimaksud dilakukan dengan saling melempar topat di antara masyarakat muslim dengan masyarakat hindu. Ketupat yang telah digunakan untuk berperang sering kali diperebutkan, karena dipercaya bisa membawa kesuburan bagi tanaman agar hasil panen melimpah. Kepercayaan ini sudah berlangsung ratusan tahun, dan masih terus dijalankan.

Kini perayaan Lebaran Topat bisa dilakukan dengan mudah. Untuk merayakannya pun Anda tak perlu repot untuk memasak. Jika Anda berjalan di desa Punia, sebelah selatan Gomong-Mataram pada enam hari setelah Idul Fitri bahkan sehari sebelumnya, mata Anda akan dimanjakan dengan puluhan penjaja topat dengan segala lauk pengiringnya yang aduhai sungguh menggoda lidah untuk tak sabar mencicipinya. Dengan harga meriah, praktis dan banyak pilihan, Anda sudah bisa merayakan Lebaran Topat bersama orang-orang tercinta.

Terlepas dari even ini dirayakan di Lombok atau tempat lainnya di Indonesia, inti dari perayaan ini sesungguhnya bahwa kita bisa mengambil ibrah darinya. Jalinan kekeluargaan dan kekerabatan senantiasa terjaga, euphoria terasa, bahkan tradisi ini harus tetap dipertahankan dan tentu harus disambut dengan hati riang dan bersemangat. Ini merupakan cara kita menunjukkan kesyukuran atas segala nikmat yang diberikan Tuhan. Kita harus dan berhak bahagia agar hidup menjadi indah. Indahnya hidup kita yang tentukan. You will be exactly as happy as you decide to be[Siti Rahmi-Humas M2M].

INFO TENTANG MAN 2 MATARAM JUGA BISA DILIHAT DI:

IG:  Humas MAN 2 Mataram

FB: Humas MAN 2 Mataram

YT: Humas MAN 2 Mataram 

Website: www.manduamataram.sch.id

Email: humasman2mataram@gmail.com


8159

INFORMASI LAINNYA