PETUALANG NEGERI SPHINX

Jumat, 09 Juli 2021 07:17

PETUALANG NEGERI SPHINX

Gambar- Dwina Mauludy Rexa Imamah berpose di kampus tercinta dengan berbagai latar serta latar Sphinx Giza

Kairo- Tinggi dan berat badannya sedang-sedang saja. Tidak tinggi tidak juga pendek. Kulitnya juga bisa dibilang sedang-sedang saja. Tidak putih apalagi keputihan. Tidak juga hitam. Sawo matang-lah orang Indonesia menyebutnya.

Senyumnya manis sekali, mungkin seperti gulali atau ibarat gula aren yang baru jadi. Pipinya dilengkapi sepasang lesung pipit, sehingga menambah kesegaran jika melihat sosok aslinya. Fresh from the oven. Gambaran generasi muda yang penuh semangat dan bertalenta. 

Tatapan matanya tajam, namun tidak menghilangkan kesan lembutnya. Namanya Dwina Mauludy Rexa Imamah. Nama lengkap yang cukup panjang. Biasa kami memanggilnya dengan Dwina atau Dwin saja oleh rekan sesama asrama MAPK dulu.

Gadis ini kelahiran Bima, 31 Januari 2002 silam. Sedikit pendiam dan agak pemalu namun tekun merupakan sifat yang melekat pada gadis ini. Jangan pernah sekali-kali mengabaikannya apalagi meremehkannya. Di tubuh yang sedang-sedang itu, bakat dan kemampuan yang luar biasa tersimpan. Berkat ketekunannya-lah gadis ini selalu menjadi lulusan terbaik sejak duduk di bangku MI sampai MA. 

Ia merupakan alumni MIN Tolobali Kota Bima, MTsN 1 Kota Bima dan MAPK-MAN 2 Mataram. Gadis yang jago Bahasa Arab ini tercatat beberapa kali menorehkan prestasi, seperti: menjuarai pidato Bahasa Arab tahun 2008, menjadi runner-up pada Olimpiade Agama tahun 2012. Bahkan, ia pernah membuat buku Bahasa Inggris dengan judul Descendant of English sebelum lulus MTs.

Saat MA, Dwina pernah meraih juara 1 Olimpiade Bahasa Arab tingkat Provinsi tahun 2018 yang otomatis menjadikannya sebagai peserta Olimpiade Bahasa Arab tingkat Nasional yang diadakan di Jakarta di tahun yang sama.

Dwina juga pernah menjabat sebagai Ketua Asrama Putri MAPK periode 2018/2019. Berkat ketelatenannya juga, ia tercatat sebagai siswi yang memperoleh Beasiswa Kemenag RI berkuliah ke Perguruan Tinggi Tertua di dunia, yakni: Universitas Al-Azhar Mesir-Kairo. Sebuah Negeri yang terkenal dengan Sungai Nil; sungai lejen yang terpanjang di dunia itu plus dihiasi indahnya Kota Alexandria yang begitu mempesona di kala siang maupun malam menjelang.

Medio 2019 lalu, Dwina berangkat dari Indonesia ke Kairo bersama puluhan teman se-Indonesianya yang memperoleh beasiswa serupa. Persis sebulan sebelum Covid-19 muncul di Wuhan-Cina. Tiba-lah babak baru kehidupan di tempat peradaban Islam yang maju. Babak baru dalam menatap masa depan. Dari sinilah sesungguhnya petualangan itu dimulai.

Masa persiapan ke Mesir juga diceritakannya dengan teratur. Mulai dari mengambil kelas di Daurah Lughah Syeikh Yazed Mesir selama satu tahun. Kemudian Dwina mengambil kursus Al-Azhar kelas Timur Tengah selama satu bulan, tepatnya pada Bulan Ramadhan 2019 di Pare-Kediri Jawa Timur.

Kegiatan Dwina bisa dibilang cukup banyak, mulai dari muraja’ah hafalan al-Qur’an, latihan soal-soal, tes qiro’ah, tes istima’ dan tes khitobah. Ia mendapatkan penghargaan dari Gus Malik karena mampu menyelesaikan hafalan 1 juz dalam waktu singkat. 

Sebulan kemudian Dwina mengikuti tes tulis ke Universitas Al-Azhar Kairo dan lulus, lalu ia mengikuti tes wawancara. Dan ia dinyatakan lulus kembali dan berhak mendapatkan beasiswa Kementerian Agama RI kerjasama dengan Pemerintah Mesir.

Keberhasilan Dwina ini tentu dengan persiapan yang matang. Mulai dari mengasah kemampuan bahasa Arab serta mempelajari kemampuan lainnya, yang jelas hal utama yang harus dimiliki dan disiapkannya adalah mental.

Ketika ditanya tentang berbagai persiapan ke Mesir, ia mulai bercerita. Dengan penuh semangat dan terlihat berkaca-kaca ia memulai kisahnya. Awal-awal tiba di Mesir, ia mengaku stress, sering menangis. Ada rasa takut, tidak percaya diri dan tidak betah. Rasanya pada waktu itu saya ingin pulang saja. Bagaimana tidak, ini pertama kali saya jauh dari orang tua dan keluarga besar. Sekuat tenaga saya berusaha menepis semua itu. 

Sungguh ini perjuangan yang tidak mudah, tuturnya. Apalagi buat seorang gadis belia sepertinya. Banyak hal yang harus disiapkan. Sebagai pejuang ilmu di Negeri Piramid ini, tentu segala hal sangat berbeda dengan apa yang ada di kampung halaman bahkan negeri tercinta. Ia dituntut untuk tangguh, tahan banting untuk segala kondisi dan cuaca. 

Menurutnya, bukan hanya terkendala bahasa. Meski amunisi sudah dirasa matang dan cukup lama disiapkan, namun ketika menghadapi medan perang yang sesungguhnya, Dwina mengaku cukup kesulitan. Apalagi berhadapan dengan Native Speaker yang tentu intonasi dan kecepatan berbicaranya susah terukur. Dwina dilanda culture shock yang tidak ringan. ini bukanlah persoalan sederhana juga untuk memahami dan bisa beradaptasi dengan cepat.

Dwina pun mengurai, awal-awal masuk kuliah ia kebingungan tidak bisa memahami atau menangkap presentasi para Duktur atau Masyaikh (baca:Dosen). Karena para Masyaikh menggunakan Bahasa ‘Amiyah, ditambah iklim yang kadang bersahabat kadang juga tidak. Perjuangan yang tidak gampang inilah yang membuat gadis ini bertekad harus mampu menaklukkan Negeri yang familier dengan Sphinx-nya ini.

Seiring berjalannya waktu, sedikit demi sedikit ia mulai terbiasa dengan atmosfer di Mesir. Pelan tapi pasti, ia mencoba berbaur dengan rekannya dari negara lain. Telinganya pun sudah bisa mendengarkan logat penduduk Mesir ketika berbicara. Pun kebiasaan yang sering dilakukan oleh penduduk setempat. Kepiawaian ini merupakan modal besar untuk bertahan di Negeri Fir’aun ini. 

Di Mesir, Dwina mengambil Ilmu Hadits pada Fakultas Ushuluddin. Begitu tiba di Mesir, Dwina langsung persiapan untuk ujian Tahdid Mustawa Darul Lughah dan hasilnya mendapat Mustawa Mutawassith Awwal hingga Mustawa Mutamayyiz, barulah bisa mengikuti perkuliahan. Mirip matrikulasi di Indonesia.

Proses perkuliahan juga hampir mirip dengan Indonesia, hanya saja di Al-Azhar tidak ada tugas dan skripsi. Meski demikian, di samping mahasiswa mengikuti muhadharoh juga harus mengikuti talaqqi (tatap muka) dengan para Masyaikh.

Mesir merupakan salah satu negara kaya dan subur. Salah satu komoditas yang mendukung adalah adanya Sungai Nil; sungai terpanjang di dunia. Sungai yang memiliki panjang sekitar 6500 km itu merupakan glecier mencair dari pegunungan Klimanjaro.

Sungai yang menjadi sumber kehidupan masyarakat Mesir bahkan untuk tiga Negara yang dilewatinya, seperti Uganda, Sudan dan Ethopia. Saking suburnya, Herodutus menyebut jika Mesir adalah hadiah Sungai Nil. (Egypt is the gift of the Nile).

Negara ini merupakan pusat peradaban Islam yang terkenal sejak berabad-abad lalu. Negeri yang kaya dengan budaya, teknologi dan arsitektur. Komoditas utama Mesir yakni pertanian, media, minyak bumi, gas alam dan pariwisata. Mesir merupakan negara Arab yang memiliki penduduk paling banyak. Hampir seluruh populasi terpusat di Sungai Nil, terutama kota Alexandria yang eksotis dan Kairo. Juga Delta Nil dan Terusan Suez.

Jazirah yang beribukota Kairo ini terkenal dengan peradaban dengan beberapa monumen kuno termegah di dunia, sebut saja Sphinx Giza, Kuil Karnak, Lembah Para Raja serta Kuil Ramses. Negara yang sebagian besar wilayahnya terletak di Afrika bagian Timur Laut ini diakui secara luas sebagai pusat budaya dan politikal utama di wilayah Arab dan Timur Tengah. Landscape Mesir kebanyakan gurun dengan beberapa oasis yang bertebaran. 

Dwina mengaku mulai betah dengan lingkungan di sekililingnya. Ia baru saja menyelesaikan ujian tahap duanya sebagai mahasiswa baru dengan baik. Ia pun senantiasa berharap keberkahan lantunan do’a-do’a baik nan indah kedua orang tua dan guru untuk kelancaran studinya.

Tak lupa pula ia menitipkan salam ta’zim untuk segenap asatiz dan asatizah di MAN 2 Mataram. Ucapan syukur dan terima kasih kepada keluarga dan guru-gurunya tak luput dari rapalan do’a-do’a malamnya. Mudah-mudahan semakin banyak adik-adik yang lulus untuk menuntut ilmu di sini harapnya.

Semoga sukses Dwina, gapailah cita-citamu setinggi bintang di langit malam yang berpendar ke setiap sudut dunia. Jadilah inspirasi dan motivasi bagi juniormu yang ingin menempa ilmu di sana.

Jadikan semua pengalaman pahit awal kedatangan sebagai pelecut semangat untuk menyelesaikan studi tepat waktu. Ingat tidak ada derajat manusia yang lebih tinggi melainkan ia berilmu. [Siti Rahmi- Humas M2M].

INFO TENTANG MAN 2 MATARAM JUGA BISA DILIHAT DI:

IG:  Humas MAN 2 Mataram

FB: Humas MAN 2 Mataram

YT: Humas MAN 2 Mataram 

Website: www.manduamataram.sch.id

Email: humasman2mataram@gmail.com


17107

INFORMASI LAINNYA