MENILIK MAKNA PERAYAAN MULUD CARE SASAK-LOMBOK

Rabu, 20 Oktober 2021 07:29

MENILIK MAKNA PERAYAAN MULUD CARE SASAK-LOMBOK

Gambar- Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW  dengan dulang oleh masyarakat Suku Sasak di Lombok. (Sumber gambar lifestyle- SINDOnews, riadora blogspot.com dan www.liputan6.com)

Mataram- Datangnya tanggal 12 Rabiul Awwal memiliki makna tersendiri bagi umat Islam dalam sejarah kehidupan Rasulullah SAW. Selain menandai kelahiran beliau, tanggal tersebut juga menandai hijrahnya Rasulullah ke Madinah. Bahkan pada tanggal tersebut Rasulullah juga menghadap ke pangkuan Allah SWT. Bagi orang Sasak di Lombok dan banyak tempat di Indonesia, tanggal tersebut diabadikan dalam bentuk perayaan Maulid Nabi Muhammad Saw. 

Mulud atau Maulid bagi orang Sasak-Lombok, di hampir semua wilayahnya merupakan momentum yang ditunggu-tunggu. Bagaimana tidak, momen ini di samping sebagai ajang silaturrahim juga sebagai waktu yang tepat untuk perbaikan gizi. Dalam sebulan penuh masyarakat suku Sasak di Lombok merayakannya. 

Bisa dikatakan setiap hari full tank dengan undangan yang datang dari segala arah. Ragam hidangan disuguhkan dengan rupa, rasa, warna dan aroma yang berbeda dan pasti lezat. Masyarakat berlomba memberikan pelayanan prima dan menyuguhkan aneka makanan yang menggugah selera. Tetapi, di sisi lain tentu saja ini merupakan ancaman keras bagi yang tengah menjalankan diet dan memiliki penyakit tertentu.

Di Indonesia, perayaan Maulid Nabi disahkan oleh negara sebagai hari Besar dan hari libur Nasional. Malam hari tanggal 12 Maulid merupakan puncak acara. Penyelenggaraannya biasanya di masjid, majlis ta’lim dan di pondok pesantren dengan beragam cara yang meriah dan istimewa.

Masyarakat di setiap daerah memiliki cara tersendiri untuk merayakan kelahiran manusia agung tersebut. Meskipun seringkali tidak ada hubungan langsung antara kelahiran Nabi Muhammad dan upacara yang mereka lakukan, semisal ngurisan (upacara cukur rambut bagi bayi), aqiqah, sunatan massal dan lain-lain. 

Yang jelas, Perayaan 'Mulud' di Lombok lebih meriah, heboh dan panjang daripada perayaan Hari Raya lainnya. Seperti Idul Fitri, yakni lebaran umat Islam yang sesungguhnya. Mulud akan dimulai sejak tanggal 12 Rabi’ul Awal sampai dengan tanggal 12 bulan berikutnya.

Perayaan Maulid Nabi merupakan tradisi yang berkembang di masyarakat Islam beberapa waktu setelah Nabi Muhammad wafat. Peringatan tersebut bagi kaum muslimin adalah penghormatan dan pengingat akan kebesaran dan keteladanan Nabi Muhammad dengan berbagai bentuk kegiatan budaya, ritual dan keagamaan. 

Meski sampai saat ini masih ada kontroversi tentang peringatan tersebut oleh beberapa ulama, tetapi saat ini Maulid Nabi diperingati secara luas di seluruh dunia termasuk di Indonesia. Semangatnya justru pada momentum untuk menyatukan semangat dan ghirah keislaman.

Semangat perayaan Maulid Nabi tidak diikuti oleh Arab Saudi yang penduduknya mayoritas Muslim. Negara ini tidak merayakan Mulud sama sekali. Bahkan tidak dijadikan sebagai hari libur resmi. Hal ini bisa dipahami, karena sebagian besar penduduknya merupakan penganut paham Wahabi dan Salafi yang menganggap perayaan ini bid’ah, terlalu berlebihan dan mengada-ngada. 

Jika menilik dengan tradisi Mulud care Sasak di Lombok, bisa dikatakan bahwa perayaannya berbeda-beda. Setiap kampung dari berbagai daerah ada yang merayakannya dengan mengantarkan makanan berbentuk dulang ke masjid untuk disantap bersama-sama ketika tausiah dari para Tuan Guru (Kyai) berakhir. Dulang merupakan wadah atau tempat makanan yang disertai penutup untuk membawa aneka hidangan yang disajikan pada saat upacara adat. Biasanya ditutup tembolak merah berisi makanan dan buah-buahan.

Ada juga yang merayakannya hanya dengan mengundang kerabat, sahabat dan handai taulan untuk makan-makan di rumah. Dirangkai   dengan kegiatan atau momen tertentu. Bahkan ada yang merayakannya dengan menggelar beberapa even layaknya Agustusan. 

Dari satu sisi, perayaan ini terlihat sebagai pemborosan yang tidak perlu, tetapi dari sisi lainnya perayaan ini merupakan wujud kecintaan masyarakatnya terhadap makhluk teristimewa yang diciptakan oleh Allah, yakni Rasulullah Muhammad SAW. Di samping banyak sifat Rasulullah yang harus dijadikan sebagai tauladan.

Sejarah perayaan ini sesungguhnya dimulai dari hilangnya semangat juang dan ukhuwah umat Islam ketika bangsa Eropa mengubah Masjidil Aqsa menjadi Gereja ketika merebut Yerussalem dalam Perang Salib atau yang lebih lejen dengan istilah The Crusade.

Menurut Sultan Salahuddin Al Ayyubi (penguasa Haramain dua tanah suci yakni Mekkah dan Madinah) waktu itu, semangat kaum muslimin harus dibangkitkan kembali dengan cara mempertebal kecintaan mereka kepada Nabi. Salahuddin menghimbau kaum muslimin agar merayakan hari kelahiran Nabi secara massal. 

Awalnya, gagasan Salahuddin ditentang oleh para ulama. Sebab, menurut mereka Hari Raya untuk umat Islam hanya dua, yakni Idul Fitri dan Idul Adha. Akan tetapi Salahuddin menegaskan bahwa perayaan Maulid Nabi hanyalah sebuah kegiatan yang menyemarakkan syi’ar agama, bukan perayaan yang bersifat ritual, sehingga tidak dapat dikategorikan bid`ah yang terlarang.

Setelah mendapatkan persetujuan para ulama, Salahuddin sejak saat itu mengeluarkan instruksi  kepada seluruh jemaah haji ketika mereka kembali ke kampung halaman masing-masing untuk mensosialisasikan kepada masyarakat Islam tentang perayaan Maulid Nabi ini. Sosialisasi ini menegaskan bahwa mulai tahun 580 Hijriah (1184 Masehi) bertepatan dengan tanggal 12 Rabiul-Awwal dirayakan sebagai hari Maulid Nabi dengan berbagai kegiatan yang membangkitkan semangat umat Islam.

Ternyata, efek dari peringatan Maulid Nabi yang digagas Salahuddin ini sangat manjur dan mampu membangkitkan semangat juang umat Islam. Ini terbukti dengan direbutnya kembali Yerussalem dan Masjidil Aqsa. Sehingga pada akhirnya Masjidil Aqsa tetap menjadi masjid sampai hari ini.

Apa yang sesungguhnya diniatkan Salahudin terkait Maulid Nabi di awal itu, murni ingin membangkitkan semangat juang dan rasa persaudaraan sesama umat Islam. Namun, nampaknya niat awal ini perlahan-lahan berubah menjadi euphoria yang berlebihan bagi masyarakat muslim dunia. Cara tradisional dalam menyambut kelahiran Nabi yang biasa dilakukan masyarakat pelan-pelan terkikis. 

Hal ini karena pengaruh modernisasi yang begitu kuat dan sukar diabaikan. Jika dulu di Lombok, perayaan biasa diramaikan dengan pembacaan sirah nabawiyyah, shalawat atau al-barzanji, ceramah tokoh agama yang diakhiri dengan menyuguhkan makanan dengan cara tradisional menggunakan ‘dulang’. 

Seiring zaman, ‘dulang’ pelan-pelan menghilang diganti dengan prasmanan ala party dalam tataran modern. Meski terlihat praktis dan menekan biaya, cara ini tetap menghilangkan tradisi yang sudah turun-temurun dilakukan. Prasmanan cenderung lebih mengedepankan sifat egoisentris dari manusia.

Arus perubahan sosial dengan modernisasinya ini membuat tradisi mengalami perubahan. Meskipun, eksistensi tradisi tidak berhasil diterjang olehnya. Tradisi yang awalnya sarat akan kesederhanaan kini berubah menjadi meriah, modern, arena perlombaan, jorjoran, dan lain-lain. Perbedaan yang sangat kontras antara perayaan saat ini dan dulu, beserta faktor dan yang ditimbulkannya.

Pergeseran tersebut dapat dilihat dari dulang yang awalnya hanya sebagai sajian selamatan biasa berubah menjadi pemberian kado, membawa barang-barang sembako. Walaupun pemberian kado dan sejenisnya tidak ada penegasan sebagai salah satu persyaratan yang harus dibawa.

Kemurnian nilai- nilai tradisi yang dahulu sarat akan hal-hal yang sifatnya ala kampung berubah menjadi ajang perlombaan, berlebih-lebihan, pamer, adu status, menunjukkan eksistensi diri, dan lain-lain yang memicu kecemburuan sosial serta melemahkan norma- norma agama, sosial dan budaya serta terkikisnya rasa solidaritas yang suka atau tidak suka seiring waktu terus menghilang.

Perubahan makna ini juga diwarnai dengan simbol-simbol alami yang digeser simbol-simbol modern nan praktis. Upaya menjaga harmonisasi sosial juga dilakukan di bawah tekanan sanksi sosial, undangan, dan tuntutan loyalitas.

Tradisi yang seharusnya penuh dengan sakralitas dan kesederhanaan berubah menjadi life style atau ritualistik atau seremonial dalam bingkai euforia keagamaan. Eksistensi tradisi hanya sebatas wujud kontinuitas bukan menghidupkan semangat Maulid Nabi yang sesungguhnya atau aktualisasi nilai-nilai luhur nenek moyang.

Apa yang dilakukan oleh masyarakat Suku Sasak di Lombok dalam menyambut Maulid Nabi Muhammad SAW saat ini, tidak bisa disalahkan sepenuhnya. Pergeseran itu murni dari modernisasi yang susah untuk dielakkan.

Biarlah bagi sebagian kalangan, yang penting ruh atau ghirah menyambut Maulid Nabi tetap ada, dan bagi sebagian yang lain mengatakan yang penting seru, meriah dan memuaskan. Pilihan ada di tangan kita. Memperingatinya dengan cara murah, molah (mudah) atau wah. Wallaohu a’lam bishawab. Shollu 'alan nabi. Semoga bermanfaat. [Siti Rahmi-Humas M2M]. 

INFO TENTANG MAN 2 MATARAM JUGA BISA DILIHAT DI:

IG:Humas MAN 2 Mataram

FB:Humas MAN 2 Mataram

YT:Humas MAN 2 Mataram

Website: www.man2mataram.net

Email: humasman2mataram@gmail.com


 





7813

INFORMASI LAINNYA